Senin, 10 November 2014

Cukup, Pergilah !



Aku menyeruput kopi hitam pesananku yang telah diantarkan pelayan setengah jam yang lalu. Kopi pahit itu telah dingin, sedingin udara pagi yang kini seolah semakin menusuk tulang, maklum hari sedang mendung. Pahit, sepahit kenyataan yang belakangan mulai datang silih berganti. Aku menarik napas dalam, melirik jam dinding klasik yang dipenuhi oleh ukiran indah, disudut ruangan kafe ini. Konsep yang menarik, menawarkan kedamaian. Tapi bukan itu tujuanku datang kemari, bukan itu. Aku sedang menunggu seseorang.
 Sudah satu setengah jam aku menunggu. Tidak, dia tidak datang terlambat. Akulah yang memaksa datang lebih cepat. Bersiap-siap dengan berbagai kemungkinan. Menimbang-nimbang perangai mana yang kelak harus kupakai untuk menghadapinya. Sibuk mengira-ngira apa yang akan terjadi nanti. Menerka-nerka bagaimana arah pembicaraan kami nanti. Ah, selalu saja begini. Hatiku selalu saja diracuni oleh harapan-harapan baik, semu.
Pintu kafe terbuka, sesaat hatiku seolah berhenti berdetak. Sepasang kaki melangkah masuk, diikuti sepasang kaki yang lainnya. Aku mendesah pelan, bukan, bukan dia. Mereka pasangan muda yang nampak sangat bahagia. Perlahan menuju meja bundar tepat disebrang mejaku dan terlihat sangat mesra. Ah, aku membuang muka sebal. Menatap keluar jendela yang nampaknya mulai sibuk. Kulirik arlojiku, masih ada lima belas menit dari waktu yang dijanjikan.

“ Sekar..” suara berat itu menyapa. Aku hapal mati suara itu. Tiga tahun aku mengenalnya dan tak sedikitpun aku melupakan suara itu. Aku menoleh, dan tersenyum. Meskipun sebenarnya senyuman itu lebih mirip seringaian.
“ Sudah lama menunggu?” lanjutnya
Aku menggeleng, tidak. Apalah artinya satu setengah jam bila dibandingkan bertahun-tahun sebelumnya aku menunggu. Entah, berhadapan dengannya selalu membuat wajahku bersemu merah, bibirku serupa terkunci.
“ Apa yang ingin kau sampaikan hingga memaksaku bangun sepagi ini Sekar, awas ya kalau tidak penting kujitak kau” ia mencoba bergurau, meski yaah wajahnya tetap saja datar.
Aku mencubit lengannya, membuatnya meringis kesakitan. Aku tahu ia berbohong, bahkan tanganku hanya menyentuh kemeja cokelatnya. Ia memang pandai berpura-pura seperti yang ia lakukan selama ini.
“ Aku akan pergi Danar” ujarku pelan
“ Kemana? Kau mau ku antar?” ujarnya santai, seolah aku baru saja mengatakan kalau aku hanya sekedar ingin pergi belanja.
Oh tuhan, lihatlah pria dihadapanku ini. Dia memang tidak pernah peka, ataukah berpura-pura tidak peka. Dia memang tidak pernah mengerti, ataukah memang berpura-pura tidak mengerti. Tidakkah ia mendengar ada yang berbeda dari nada suaraku. Lagi-lagi aku mendesah pelan, menggeleng tak percaya aku mampu bertahan selama ini.
“ Ke Swedia, Danar” Kulirik wajahnya, ekspresinya sama sekali tidak berubah. Ah, pria ini memang nyatanya sangat pandai berpura-pura. Ataukah dia memang tak pernah menganggapku seistimewa itu.
“ Kapan?”
“ Lusa aku berangkat”
“ Berapa lama?” ia bertanya masih saja dengan santai
“ Entah, mungkin dua, tiga atau lima tahun, atau mungkin tidak kembali”
“ Kenapa?”
Far1, ditugaskan kembali kesana, tempat kelahirannya, dan Far juga berpikir aku bisa melanjutkan studi masterku disana”
“ Maksudku kenapa kau baru memberitahuku sekarang? Tentu rencana sebesar ini sudah kau ketahui jauh-jauh hari bukan?”
Aku menggeleng, kenapa? Entah. Aku juga tidak tahu. Apa karena kejadian dirumahnya beberapa hari yang lalu. Aku juga baru memutuskan semuanya semalam. Lalu kemudian berpikir untuk mengajaknya bertemu pagi ini. Aku mengalihkan pandangan keluar jendela, diluar mulai gerimis.
“ Baik, pergilah” Ujarnya tiba-tiba
Aku menoleh, menatapnya. Ia yang juga tengah menatap nanar keluar jendela. Seperti memikirkan sesuatu dan aku tidak pernah berhasil menyelami pikirannya. Seperti aku yang tak pernah berhasil pula menyentuh hatinya.
“ Kupikir kau akan memintaku tetap tinggal, Danar. Nyatanya kau memang ingin aku pergi”
“ Apa maksudmu Sekar, bukankah kau yang benar-benar ingin pergi?”
“ Ya, untuk sekarang sepertinya aku benar-benar ingin pergi”
“ Maksudmu, sebelumnya kau menolak pergi?”
“ Entahlah, nyatanya aku memang tidak pernah istimewa bagimu”
“ Apa maksudmu Sekar, berhentilah bertingkah menyebalkan dengan terus membicarakan hal ini”
“ Kau bilang aku menyebalkan? Nyatanya kaulah yang selalu bertingkah menyebalkan Danar, Kau!! Kau terlalu pandai berpura-pura, kau terlalu pandai bermain peran” Nada suaraku mulai meninggi.
“ Kita selalu membicarakan hal ini berulang-ulang, kumohon jangan terus meributkan hal-hal sepele, Sekar”
“ Sepele kau bilang, ya Tuhan. Bertahun-tahun aku menyukaimu, menunggu dan berharap kau juga menyukaiku. Bertahun-tahun aku seolah selalu bersaing dengan bayangan masa lalumu yang entah aku tak pernah tahu siapa wanita itu, namun aku tetap mencoba bertahan Danar. Bertahun-tahun aku selalu mendengar kau bercerita tentang mimpi-mimpi dan harapanmu, namun pernahkah kau mau mendengar kubercerita tentang mimpi-mimpi dan harapanku? Semuanya selalu tentang kau dan bayangan dari masa lalumu. Sampai kapan Danar, sampai kapan?”
“ Sekar, kau istimewa. Bagiku kau selalu istimewa” ia meraih tanganku
“ Tidak Danar, tidak. Aku tidak pernah bisa menang dari masa lalumu. Kau tidak pernah menganggapku istimewa, tidak pernah”
Aku melepaskan genggaman tangannya, merapikan tasku dan beranjak pergi. Meninggalkannya, meninggalkan semua kepahitan dibelakang. Aku harus melangkah maju, dan lihatlah, Pria itu tetap disana, tak berniat menyusul. Nyatanya aku memang tidak pernah istimewa dimatanya.
Aku memandangi sekeliling dari bangku taman yang kududuki, orang-orang mempercepat langkah agar lekas sampai ketujuan karena gerimis kian membesar. Tapi aku tidak peduli, aku malah berharap gerimis kian menderas. Sudah lama kota kami tidak diguyur hujan di pagi hari seperti ini.
Gerimis memaksaku mengingat kembali beberapa potongan kenangan. Aku mendadak ingat beberapa hari lalu saat aku pergi kerumah Danar ingin memberitahukan kabar ini. Setelah dipersilahkan masuk oleh ibunya yang sudah kukenal baik, aku melangkah menuju kamarnya yang saat itu terbuka sedikit. Kulihat pria itu menangis, memandangi foto wanita yang sangat kukenali, meski hanya dari beberapa ceritanya saja. Setelah kudengar gumaman disela isak tangisnya, akupun mengerti. Itulah sebabnya, itulah alasannya mengapa selama beberapa tahun ini hubungan kami tidak ada perkembangan. Ia hanya membalas dengan berkata ia juga menyukaiku, namun entahlah. Nyatanya ia masih saja dan akan selalu terikat dengan seseorang dimasa lalunya. Masa lalu yang tidak pernah bisa kukalahkan. Saat itu aku memutuskan pulang, menunda memberitahukan berita itu. Berharap hari esok lebih berbaik hati padaku.
Ah, aku mendesah pelan. Mengeluarkan ponsel disaku celanaku, dan mengetikkan nomer yang kuhapal diluar kepala.
Hej2, Far. Sekar jadi ikut Far ke Swedia. Nej3, Sekar serius Far. Far tolong urus semuanya ya. Oke, Tack sa mycket4, Far”
Gerimis semakin menderas saja. Aku mendongakkan kepala membiarkan bulir-bulir air menyentuh wajahku. Ah, akhirnya hujan turun setelah mendung beberapa hari ini. Membawa semua potongan kenangan dan perasaan ini. Cukup, semua perasaan ini harus diakhiri. Sekarang pergilah !


Note :
1.      Salah satu sebutan untuk ayah di Swedia
2.      Hallo
3.      Tidak
4.      Terima kasih banyak

Minggu, 12 Oktober 2014

Airlangga, Namanya Airlangga..

Bintang, namanya Bintang. Laki-laki 21 tahun yang melankolis. Itu kesimpulan yang akhirnya kudapatkan. Sebenarnya kesimpulan yang sedikit kupaksakan. Lantaran aku tidak pernah tahu yang lainnya. Lantaran aku memang tidak pernah mengenalnya lebih jauh. Lebih tepatnya tidak berani.
Kututup laptop yang sudah sedari tadi menyala. Tentunya setelah sebelumnya sing out dari akun sosial mediaku dan mematikannya. Kulirik jam dinding spongebob berwarna kuning yang terpaku di dinding. Jarumnya menunjukkan pukul dua lebih tujuh belas menit dini hari. Mataku mulai berair menuntut haknya untuk di pejamkan. Kepalaku juga mulai terasa berat. Sayup-sayup kudengar dengkuran halus dari Diah teman sekamarku yang telah terlelap sedari tadi. Aku berharap dapat segera menyusulnya menikmati empuknya kasur busa yang baru kami ganti seminggu yang lalu. Tentunya tidur dengan nyenyak, tanpa mimpi yang beberapa hari belakangan ini menghantui. Mimpi tentang sosok itu.

***
Selesai mandi aku melangkah tergesa melewati lorong deretan kamar kos kami. Berkali-kali merutuki jarak kamar mandi dengan kamarku yang terlalu jauh. Heran, mengapa tidak dibuatkan saja kamar mandi untuk setiap kamar. Tentu aku tidak akan semakin membuang-buang waktu seperti ini.
Setelah semalam tidur terlalu larut dan lupa menyetel alarm, jadilah aku seperti ini. Terlambat bangun, padahal ada jadwal kelas pagi yang harus kuhadiri. Diah mungkin sudah pergi dari tadi karena mengira aku tidak ada kelas pagi. Padahal aku sudah mengingatkannya semalam untuk membangunkanku, namun mengingat dia adalah pelupa yang akut, aku maklum. Aku makin mempercepat gerakanku, mengganti pakaian, berdandan dan mengenakan kerudung seperti biasa. Menyemprotkan parfum kesukaanku dan bergegas berangkat.
Kulirik arloji yang kukenakan, masih ada lima menit lagi sebelum mata kuliah pertama dimulai. Aku menarik napas lega karena aku hanya perlu menaiki satu deretan anak tangga lagi untuk mencapai kelasku di lantai tiga, sebelum seseorang itu menyenggolku dan membuat map yang kupegang terlepas. Seseorang yang seolah sama tergesanya sepertiku. Aku tidak melihat wajahnya dengan jelas. Ia terus begegas menaiki anak tangga tanpa menghiraukan aku yang tengah kerepotan memungut kertas-kertas dalam mapku yang berserakan. Ia hanya menoleh sebentar lantas pergi.
Aku mendengus kesal, sungguh dia benar-benar tidak tahu sopan santun. Jangankan menolong, meminta maaf saja tidak. Aku menghela napas panjang. Pagiku kali ini sudah cukup buruk, aku tidak ingin membuatnya semakin buruk hanya dengan memulai semuanya dengan marah-marah. Sabar Tari, sabar. Aku melanjutkan menaiki beberapa anak tangga lagi dan bergegas masuk ke kelas dengan perasaan lega karena ternyata kelas belum dimulai.

***
Aku tengah menyeruput jus buah naga yang kupesan saat Diah datang sambil menangis dan duduk dihadapanku. Aku enggan bertanya karena aku tahu apa masalahnya sebelum ia bercerita. Melihatku yang tak merespon kehadirannya spontan Diah berhenti menangis. Lantas bertanya,
“Tarii, kok kamu diam aja sih?” ujarnya sambil melototiku. Aku hanya menggeleng,  enggan menanggapi.
“ Tariiiii”
“ Nggak usah teriak-teriak gitu juga neng. Aku nggak tuli.”
“ Abis, kamu diam aja sih. Tanyain kek kenapa aku nangis”
“ Nggak perlu ditanya juga aku udah tahu. Gara-gara si Angga kan?
“ Kok tahu sih, iihh kamu so sweet banget sih. Sebelum aku cerita kamu udah tahu gitu. Iya nih, gara-gara dia”
“ Kenapa lagi ?”
“ Berantem lagi. Dia nyebelin banget, pokoknya sebeeeell ”
“ Yaudah putusin aja”
“ Iihh, kok gitu sih Tari. Nggak sampai putus juga sih, Cuma kesal aja”
“Yaudah, kalo gitu nggak usah pakai acara nangis-nangisan segala. Ribet banget sih kalian”
“ Ya, namanya aja pacaran Tari. Berantem itu biasa. Hehe..” Ujarnya cengengesan
“ Terserah kalian” aku kembali mnyeruput minumanku yang masih tersisa setengah.
“Kamu sendiri, ada perkembangan sama si Bintang ?” Tanyanya penasaran. Aku hanya menggeleng entah tak mengerti perkembangan macam apa yang ditanyakan oleh Diah.
“Yaah, kamu cari tahu dong Tari. Ntar kamu makin penasaran loh. Kebawa mimpi lagi loh.”
“Cari tahu ke siapa? Nama aslinya aja aku nggak tahu”
“ Lah makanya itu aku bilang cari tahu dong”
“ Cari tahu ke siapa?”
“ Ya usaha dong Tariiiii. Mana tahu namanya Jono”
“ Jono? Enak aja.”
“ Loh bisa aja kan, makanya dia malu pakai nama aslinya dia. Kalau nggak kenapa dia harus pakai nama pena segala coba?” ujarnya sekenanya.
Aku menggeleng tak tertarik. Kembali menyeruput minumanku yang hampir habis. Mengacuhkan Diah yang makin cerewet tak jelas dan banyak bertanya.
Ah, nama itu lagi. Entah apa aku tertarik untuk mengenalnya lebih jauh. Untuk apa, toh aku hanya menyukai tulisan-tulisannya. Menyukai semua puisi-puisinya. Meski aku tak pernah mengenal sosoknya, yang jelas aku mengenalnya sebagai Bintang. Terlepas siapa nama sebenarnya, aku tak peduli (sebenarnya aku sangat peduli).

***
Malam ini, malam kesekian aku tak berhenti memelototi layar laptopku. Membaca update terbaru dari akun blog yang beberapa minggu terakhir ini sungguh membuatku tertarik. Akun yang tidak sengaja kutemukan ketika tengah browsing mencari bahan untuk tugas kuliah. Bintang’s Notes nama akun itu. Akun yang menggodaku untuk tak berhenti membaca isinya. Waktu itu aku merasa seperti begitu familiar dengan nama pena itu. Bukankah ini nama pena seseorang yang rajin mempublikasikan tulisannya di majalah remaja mingguan kota ini. Majalah langganan Diah yang tak sengaja kubaca. Majalah yang menjadi bacaan wajib gadis-gadis populer dikampus. Hampir setiap minggu majalah itu memuat tulisan-tulisannya yang indah.
Aku lebih tertarik membaca tulisan-tulisan yang ia publish di akun blognya. Mungkin karena semuanya masih sangat natural dan belum melalui banyak proses editing seperti ketika tulisannya dimuat di majalah. Entah mengapa, seolah aku turut berada dalam situasi yang ditulisnya melalui tulisan-tulisan itu. Entah mengapa aku menemukan nyawa disetiap tulisannya. Entah mengapa aku menemukan perasaan kesepian didalamnya. Ah, penulis selalu punya cara tersendiri bukan, untuk menuangkan apa yang ada dipikirannya, dan entahlah. Aku menyukai bagaimana cara ia bercerita.
Aku mulai berandai-andai dan bertanya. Siapa sosok itu. Blog itu tak memuat sedikitpun tentang dia. Bahkan majalah itupun tak pernah sekalipun menginformasikan biodatanya, kecuali alamat e-mail aktif yang bisa dihubungi. Aku pernah, dengan begitu nekatnya mengirimkan e-mail singkat. Tak banyak, hanya dua paragraf. Berisi salam perkenalan dan menanyakan namanya. Namun berminggu-minggu ia tak pernah membalas, seperti yang kuduga. Mana mungkin ia punya waktu.
Ingatanku kembali kepada mimpi beberapa hari lalu. Entah bagaimana saat aku sendiri ditaman, tenggelam dalam halaman demi halaman novel yang belum selesai kubaca, sosok itu datang menghampiri. Tak jelas benar, namun yang jelas wajahnya bercahaya, meneduhkan. Ia duduk disampingku, hanya memandang sesaat lalu tersenyum. Mengulurkan tangan dan berkata lembut
“ Hai, Mentari. Aku adalah bagian darimu, Bintang kecil yang cahayanya tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan cahaya bintang besar sepertimu. Kau disiang hari dan aku dimalam hari, bagaimanalah kita bisa bertemu. Ah, tak perlulah risau. Bukankah selalu ada skenario terbaik untuk kita?”
Aku tergugu, tak mengerti arah pembicaraan itu. Sebelum sempat ku menyahut ia telah menghilang. Sekejap saja. Secepat kedipan mata. Meninggalkan aku yang kebingungan. Mencari kesemua penjuru berharap ia berada disalah satu sisi taman ini. Namun nihil. Aku tak menemukannya dimanapun. Entah mengapa meninggalkan perasaan sesak, bahkan hingga aku membuka mata dan menyadari semuanya hanya mimpi.
Aku tersadar dari lamunan ketika handphoneku berdering. Kubaca nama pengirim di layar handphoneku, ternyata Diah yang mengirimiku pesan. Mungkin ia ingin memberitahuku kalau ia akan pulang terlambat. Yah, seperti yang dikatakannya tadi siang. Ia harus menghadiri rapat kegiatan organisasi. Aku membuka pesan itu. Sesaat aku terdiam, membaca tulisan singkat itu. mendadak aku serasa ingin segera memeluk Diah. Sahabatku yang satu itu selalu tahu bagaimana cara membuat sahabatnya tersenyum.
 Sejurus aku beranjak tidur setelah mematikan laptopku. Berharap segera terlelap dan hari itu datang lebih cepat. Seperti biasa, Diah akan menginap dikampus dan malam ini aku tidur sendirian.
***
Hari ini tepat seminggu dari sejak malam Diah memberiku kabar baik yang tak henti-hentinya membuatku tersenyum. Membuat hariku seminggu terakhir mendadak rusuh. Bagun lebih pagi hanya untuk melingkari tanggal pada kalender dengan spidol merah. Berharap hari ini datang lebih cepat. Berharap semua rasa penasaran itu cepat menghilang.
Hari ini workshop kepenulisan dikampus. Entah bagaimana, panitia acara termasuk Diah didalamnya, berhasil mengundang sosok itu. Sosok yang kian menjadi perbincangan beberapa minggu terakhir. Itulah kabar yang dulu Diah berikan padaku.
Meski aku telah datang sepagi mungkin, tetap saja aku tak kebagian tempat di depan panggung. Semua sudah dipenuhi oleh peserta lain yang kebanyakan adalah wanita sepertiku. Aku seperti pernah melihat sosok itu. Sosok bersahaja nan rupawan. Mengenakan kemeja batik berwarna cokelat, bercelana jins berwarna senada dan sepatu kets putih. Bukankah ia yang menabrakku tempo hari di tangga? Aku menggeleng tak yakin.
 Acara hanya berlangsung sembilan puluh menit. Membahas banyak hal tentang gaya kepenulisannya, membahas tulisan-tulisannya, pun nama pena yang ia gunakan. Anehnya selama acara berlangsung tak ada yang tahu nama aslinya. Ia sengaja meminta panitia untuk tidak membocorkannya. Biarlah orang-orang mengenalnya sebagi Bintang, begitu katanya. Semua penonton mendesah kecewa, pun aku.
 Acara selesai seiring dengan diumumkannya lima peserta yang beruntung untuk berfoto bersama. Memang, sehari sebelumnya para peserta diminta mengirimkan amplop berisi surat ke panitia, untuk nantinya dipilih secara acak pemenangnya. Sayangnya aku belum beruntung. Aku keluar ruangan dengan rasa kecewa, lantaran sampai sekarang aku sama sekali belum mempunyai ide siapa namanya. Apa mungkin namanya Jono?
Ditaman, tetap sama riuhnya. Ia tetap dikelilingi banyak peserta. Terutama para gadis muda yang memaksa berfoto atau sekedar minta tanda tangan. Mendadak aku ingin menjadi salah satu diantara mereka. Gadis-gadis cantik yang begitu populer dikampus. Pakaian modis dan tatanan rambut penuh gaya. Bercerita tentang tas-tas branded yang baru saja diimpor dan menghiasi etalase kaca toko-toko yang sering kumasuki, meski hanya sekedar melihat-lihat. Bercerita tentang pria-pria pujaannya sembari menikmati hidangan istimewa di kafe ternama. Tapi yang paling membuatku iri, aku ingin berada dibarisan itu. Dideretan depan dan berhadapan langsung dengan sosok itu, Bintang. Sosok yang kukagumi melalui tulisan-tulisannya yang indah.
Namun aku terpuruk disini, tersisih oleh orang-orang yang lebih bisa membuatmu bahagia. Gadis-gadis yang bisa dengan begitu implusifnya meneriakkan namamu, mengelu-elukan dirimu, meski kutahu itu hanya nama penamu. Lantas siapa namamu sebenarnya, Bintang ?
Manalah mungkin kamu mau mengenalku, gadis biasa yang baru mengenal dunia. Dan lagi, dari radius sepuluh meter ke utara aku hanya bisa menatapmu. Aku melangkah gontai meninggalkan keramaian itu, setelah sadar aku tak bisa lebih dekat dari jarak ini. Setidaknya aku telah menuliskannya kemarin. Aku memutuskan berbalik dan pergi.
Sayup kudengar langkah kaki mendekat, mungkin Diah sahabatku. Aku berbalik, mendadak jantungku berdetak lebih cepat, dia..
“ Hai Mentari ” ia memanggil namaku. Aku hanya tersenyum bodoh menutupi kegugupan yang seketika melandaku dan kemudian mengangguk.
“ Tempo hari aku pernah kemari untuk menemui panitia, kalau tidak salah aku pernah menabrakmu di tangga. Maaf untuk itu” ujarnya ramah. Lagi-lagi aku hanya mengangguk, tak bersuara. Oh ibu, makhluk dihadapanku ini sungguh sempurna. Sempurna pula membuatku serupa bisu.
“ Airlangga, namaku Airlangga. Ssstt, tapi ini rahasia” ujarnya sembari menunjukkan amplop biru yang digenggamnya. Amplop yang begitu kukenal. Amplop surat berisi pertanyaan sederhana.
“ Namamu Mentari kan? Nama yang indah. Mentari dan bintang, hmm.. akan menyenangkan nantinya kalau kita bisa ngobrol. Nanti kuhubungi kau. Sampai nanti” ujarnya kemudian berlalu.
Aku tergugu. Memandangi punggunggnya yang hilang diujung lorong. Airlangga, namanya ternyata Airlangga. Bukan Jono seperti olokan Diah tempo hari. Rona merah muncul dipipiku tanpa kusadari. Mungkin inilah yang ia bilang skenario terbaik dimimpiku tempo hari.

Sabtu, 05 Juli 2014

Mungkin Kamu Mulai Lupa, *.

Pagi ini, disaat kokok ayam jantan bersahutan memaksa mentari muncul malu malu, aku terpikirkan kamu.
Mungkin kamu masih terjaga setelah selesai dengan makan pagi yang tentunya sangat pagi sekali.
Mungkin juga kamu kembali merebahkan diri, nyaman dengan sisa kantuk di pelupuk mata kamu.
Apa kini kamu benar menikmati semuanya? Bukankah semula kamu terlihat enggan?
Apa ada hal menyenangkan yang mengubah semuanya?
Syukurlah, setidaknya kamu masih tersenyum dengan senyum yang sama.
Mungkin kamu mulai lupa kalau aku tidak pernah lupa.
Mungkin kamu mulai bosan sementara aku kian mendalam.
Biarlah, toh skenario terbaik telah dituliskan.
Mengapa kamu harus mengabarkan pada mereka.
Berita pun cerita yang membuat hatiku terlena.
Sementara aku pernah tahu bagaimana rasanya ketika semua itu berbalik melukai.
Asa yang kiranya lelah menanti, kamu hidupkan lagi dengan cerita cerita pun mimpi yang kamu titipkan pada mereka.
Mereka bercerita bintang, dan rasanya aku enggan kembali percaya.
Karena kamu serupa ada dan tiada, kerap kali mengabaikan dan menghilang.
Mungkin bukan aku, bukan pula di kisahku kamu akan berlabuh.
Masih ada alur yang harus kamu tempuh.
Masih ada jalan yang harus kamu tapaki.
Ketika kamu temukan bahagia mungkin sebaiknya kamu tidak menoleh kembali akan aku.
Aku rindu memandang lekuk wajah sendu kamu, senyum menawan kamu, pun anggun perilaku kamu.
Bintang, setelah kamu menyelesaikan semua alur pun jalan panjang itu, ketika tak jua kamu temukan bahagia, ingatlah aku yang akan selalu peduli.
Mungkin kamu mulai lupa, aku selalu disini, bintang.


5 Juli 2014 pukul 5:56

Masih Bolehkah Kusapa Begitu ?

Rasanya sudah terlalu lama aku tidak menyapa kamu.
Rasanya sudah terlalu lama pula aku tidak menatap kamu dari beranda rumahku, kamu yang tetap berkelip indah di langit pekat tempat biasa kamu bersandar.
Apa kabar kamu bintang? Masih bolehkah kamu kusapa begitu? Bolehkah?
Bagaimana kehidupan kamu yang baru?
Apakah begitu menyenangkan hingga kamu selalu enggan berbagi denganku?
Ternyata aku memang tidak pernah dapat menyentuh hati kamu.
Hal yang dulunya kukira begitu.
Ternyata aku juga tidak pernah bisa menuju tepi hati kamu, entah bagaimana malah menenggelamkanku.
Puisi yang seharusnya tiada pernah kutulis pun sajak yang seharusnya tiada pernah kukirimkan.
Mengapa baru sekarang disaat semua sudah terlalu dalam, satu rahasia kecil yang tiada pernah kamu bagi.
Tidak bintang, aku tidak berhenti mengagumi kamu.
Aku hanya berhenti mengganggu kamu.
Semua kian menyesakkan, mengapa aku harus tenggelam di laut lapang ketika aku dapat memilih untuk menepi.
Bukankah diammu adalah sebuah kepastian yang kutunggu?
Bukankah begitu?
Apa yang kuharapkan dari kisah yang bahkan tiada bermula.
Semoga yang maha membolak balikkan hati memberikan rencana terbaik.
Bila tidak sekarang, mungkin nanti.
Semoga kamu baik saja bintang.
Masih bolehkah kamu kusapa begitu?
Semoga :)


2 Juli 2014 pukul 20:29

Dan Lagi, Sajak Untuk Kamu

Malam ini ketika aku rehat sejenak dari berbagai aktivitasku hari ini, aku rindu untuk kembali menulis sajak, bintang.
Sajak yang sejak beberapa malam lalu mulai kuabaikan.
Sebentar lagi bintang, hanya tinggal menunggu waktu. Semoga kamu baik baik saja bintang, meski sepertinya kamu sedikit enggan.
Bukankah awalnya kamu seperti menantikan hari itu, bukankah semuanya nanti akan sangat menyenangkan bagi kamu.
Bahkan kamu sampai lupa, akupun ingin tahu, bintang.
Malam ini, saat kamu tengah menikmati istirahat kamu, melepaskan lelah yang mengukung hati kamu, aku hanya ingin sedikit bercerita, pun bertanya.
Bagaimanalah aku kan ingkar, sementara kamu selalu ada di setiap ku menatap.
Ini bukan tentang perpisahan bintang, namun ini tentang asa yang kian redup dikala ratusan aksara yang kuuntai tidak jua dapat menyentuh hati kamu.
Hati tempatku memutuskan berhenti. Hati yang kian menenggelamkanku serupa samudra mengamuk kapal.
Malam ini ketika aku melangkah gontai menyusuri jalanan tanpa penerang, aku tak peduli bintang.
Karena kamu, selalu setia diatas sana menerangi pun memayungiku dari pekat malam.
Bintang, seharusnya aku mulai belajar mengabaikan bukan?
Karena aku tahu nyatanya kamu selalu enggan, bertanya pun kembali menyapa.
Selamat beristirahat, bintang.
Semoga kita bertemu, nanti di ujung waktu ketika kamu sudah lelah mengabaikan aku pun sajakku.


26 Juni 2014 pukul 19:26

Percakapan Satu Minggu Lalu, * !

Satu minggu yang lalu, tepatnya beberapa menit lewat dari pukul delapan.
Beberapa menit disaat aku mulai duduk menatapi langit, tempat dimana kamu biasa bersandar, kamu hadir.
Kamu menyapa dengan cara kamu biasa menyapa.
Aku juga menyikapinya dengan cara yang biasa, riang tertawa.
Aku masih ingat dengan jelas, rentetan kejadiannya pun detail pesan yang kamu kirimkan.
Pesan yang membuat malamku tak biasa, kamu tentu tahu maksudku.
Aku mencoba untuk tidak percaya, karena kamu tahu bintang, cukup sulit rasanya meyakinkan hatiku untuk tak lekas riang.
Tapi bagaimanalah bintang, aku bahkan tidak peduli andai saja semua yang kamu katakan itu dusta.
Jelasnya, kamu menepis rasaku yang terabaikan.
Malam ini, untuk kesekian kalinya aku menatapi layar ponsel yang menampilkan baris percakapan kita.
Hal yang kerap kali kulakukan ketika aku mulai meragu, ketika kamu tak dapat kutemukan.
Bukankah aku hanya harus percaya, bukankah aku tahu akibat dari menjadikan kamu sebagai bintang adalah tak mudah.
Tidak bintang, ketika aku mulai terlalu berlebihan bukankah seharusnya kamu menghentikanku?
Tapi bagaimanalah bintang, bahkan ketika pembicaraan itu dusta, aku malah tetap percaya.
Percakapan kita di bawah gemintang, satu minggu lalu.
Sampai bertemu di ujung waktu, bintang.


22 Juni 2014 pukul 20:34

Selamat Berakhir Pekan, Bintang.

Malam ini, malam ke dua puluh satu di bulan Juni.
Malam ke enam sejak malam itu, tentu kamu tahu maksudku bukan ?
Entah, malam diakhir pekan ini kamu habiskan dimana.
Di beranda rumah sewaan kamu atau di desa kelahiran kamu, tempat yang sekarang selalu ingin kukunjungi.
Aku juga tidak tahu, bersama teman teman kamu yang juga temanku atau bersama keluarga kamu yang mungkin lama tidak kamu jumpai.
Entah, bukankah seharusnya aku mulai belajar mengabaikan ?
Bintang, apa kabar kamu?
Aku tetap enggan menyapa, biarlah, biarkan.
Toh aku tetap dapat memandang kamu, seperti dulu sebelum kamu tahu, dan aku merasa itu lebih baik, untuk kamu, bukankah begitu ?
Malam ini akhir pekan, mungkin kamu tengah menikmati malam ini.
Malam malam menyenangkan setelah menghadapi berbagai kesibukan digedung belajar kita.
Entahlah bintang, aku mulai membenci kata libur.
Sejak aku menyadari kata itu membuat jarak, serupa tembok yang kerap kali menyembunyikan hati kamu.
Entah, aku tidak tahu. Dimana kamu dan apa yang kamu lakukan.
Bodohnya aku tiada pernah berani bertanya, apakah waktu kan berujung seperti katamu ?
Sudahlah, selamat beristirahat bintang.


21 Juni 2014 pukul 19:51

Mengabaikanku, Bintang.

Bukankah seharusnya aku telah terbiasa?
Bukankah ini bukan kali pertama kamu mengabaikanku?
Tapi entah mengapa kali ini makin menusuk, menohok hati yang kian hampa.
Tidak, aku tahu kamu disana. Mungkin tengah bergelut dengan berbagai kesibukan yang tiada pernah kamu bagi bersamaku.
Dan aku hanya menatap sisa jejak kamu, tubuh kamu yang perlahan menjauh, hilang di ujung jalan yang biasa kamu lalui, tadi.
Bagaimanalah aku menyapa kamu, sementara semuanya kian rumit. Perasaan kamu yang entah mengapa tetap saja tak dapat kuselami.
Perasaanku yang entah mengapa kian membodohkanku.
Seharusnya kamu tidak perlu bertanya, karena kamu tentu telah tahu sebelum aku selesai berkata.
Bukankah semua sudah jelas, sejelas gemintang di kala malam ?
Ada yang tak lagi sama, setelah percakapan kita di malam itu.
Ada yang berkecamuk disini, membuat apapun yang kulakukan selalu dihantui lekuk wajah kamu.
Sementara kamu, serupa ada dan tiada.
Kamu kembali mengabaikanku, seharusnya aku telah terbiasa bukan ?
Namun entahlah bintang, semakin sakit saja. Pembicaraan malam itu kian membodohkanku, berharap waktu segera berlalu agar ku temukan ujung seperti katamu waktu itu.
Selamat malam, bintang.


19 Juni 2014 pukul 20:37

Selamat Malam, Bintang.

Malam ini berbeda, tak ada lagi kebiasaan menatapi kamu dari beranda.
Ada hal penting yang harus kuselesaikan, pun kamu. Bukankah begitu ?
Apa kamu merasakan angin yang mengamuk malam?
Jangan keluar ruangan bintang, nampaknya tidak baik untuk kamu.
Apa yang sedang kamu lakukan? Apa masih berkutat dengan pertanyaan pertanyaan itu?
Menuliskan jawaban yang tak sedikit tentunya.
Pertanyaan untuk esok yang menyita waktu.
Malam ini kembali aku tidak menyapa kamu, mungkin itu lebih baik bukan? Aku takut mengganggu.
Hari ini tentunya melelahkan bukan? Hari yang panjang.
Kamu harus lekas beristirahat, agar kamu tidak kelelahan bintang.
Tapi malam ini ada pertandingan seru yang sayang kamu lewatkan.
Mungkin kamu mau sedikit meluangkan waktu menyaksikannya bersamaku, lagi.
Jangan tidur terlalu larut bintang, pesan yang selalu kuulang tiap kamu menyapaku.
Malam ini ku sampaikan pesan yang sama melalui angin yang menuju tepi hati kamu.
Selamat malam, bintang.


18 Juni 2014 pukul 22:57

Entahlah, Bintang !

Entah mengapa aku begitu membenci hari ini, bintang.
Hari cerah dan mungkin saja istimewa.
Malampun dengan indahnya menyapa.
Menghamparkan gemintang nan indah membentuk rasi yang tak kuhapal namanya.
Aku hanya kehilangan selera tuk menulis sajak ketika sedari tadi tiap kata yang ku eja kiranya tanpa makna.
Entah bagaimana jadinya perasaan yang dulunya kamu abaikan.
Setelah beberapa baris percakapan itu kubaca berulang, mungkinkah itu kamu?
Bintang, bukankah jarak itu mulai membentang? Serupa laut memisah pulau.
Entah, aku juga tidak memahami apa yang kupikirkan.
Perasaanku yang terlalu dalam juga tak baik, bukan? Dekat sekali dengan luka.
Aku tidak pernah bisa menyelami hati kamu pun keanggunan sikap kamu.
Begitu pula aku tidak pernah bisa menuju tepi hati kamu, apakah kamu mengijinkanku menyentuhnya, bintang?
Namun kenapa seolah ada sekat didalamnya?
Hati kamu yang mungkin sama bekunya dengan sikap kamu.
Perlukah kuberitahu apa yang kumau, pada angin yang membelai malam, pun hujan yang membasuh kesunyian?
Bintang, entah mengapa aku membenci hari ini.
Ketika aku tetap saja tak mampu menyelami hati kamu, bintang.
Entahlah !


17 Juni 2014 pukul 22:56

Bintangku Akhirnya Bicara.

Menatap langit malam telah menjadi rutinitas biasaku.
Melepas penat dengan menatap kamu yang benderang serupa neon yang menerangi jalanan.
Kamu yang malam ini benderang, gemerlap bertabur kerlip yang selalu kukagumi.
Menumpahkan keindahan dimalam pekat yang merenggut siang dariku.
Bintangku akhirnya bicara. Meski arah pembicaraan yang tidak pernah kumengerti.
Bintangku akhirnya menyapa, meski sapaan seperti biasanya.
Tapi semua terasa begitu istimewa, sama istimewanya ketika bintang kerap kali mengabaikanku, dulu.
Entahlah, semua memang butuh waktu bukan?
Aku hanya takut waktu tak lagi jadi sekutu, waktu berjalan dengan tergesa seolah tak ingin menemani pun menunggu.
Bintang, aku mulai lupa kapan kamu mulai kukagumi.
Ini bukan tentang segala keindahan, ini hanya tentang hal yang sama sekali tak kumengerti.
Akupun tak miliki kuasa atas ini, tapi kamu tentu tahu bintang, terkadang kamu butuh teman. Bahkan meski kamu bintang yang paling terang.
Bintangku akhirnya bicara, menepis semua perasaan yang dulu terabaikan.
Selamat malam, bintang. Jangan terlalu lelah malam ini, tentu kamu mau menemaniku menyaksikan pertandingan malam ini bukan?
Pertandingan tim kesayanganku yang tadi kita bicarakan.
Selamat malam, bintang.


16 Juni 2014 pukul 20:32

Pelangi dan Bintang.

Aku tahu kamu mungkin tengah melakukan apa yang biasa kamu lakukan, seperti aku yang juga tengah melakukan apa yang biasa kulakukan.
Tidak ada yang spesial bintang, sama saja.
Hanya dengan rutinitas yang itu itu saja. Hal yang begitu terus, berputar serupa siklus.
Tadi, seorang teman berkata bagaimanalah aku mengagumi kamu seperti itu.
Entah, aku tidak tahu bintang. Bukankah tidak semua hal memerlukan alasan.
Ia berkata aku serupa pelangi, dan kamu bintangnya.
Bagaimanalah bintang, bukankah pelangi dan bintang tidak pernah beriringan pun berdekatan.
Kamu benderang di langit malam sementara pelangi melengkung di sisa hujan, bagaimanalah ada pelangi di gelapnya malam?
Dengannya aku paham pun mengerti, ada hal yang kan tetap begitu adanya.
Pelangi dan bintang tidak pernah beriringan pun berdekatan.
Tapi kamu mungkin lupa satu hal bintang, pelangi selalu dapat menyentuh hati kamu.
Menggambarkan lengkung senyum kamu, mewarnai langit siang dikala kamu kerap kali bersembunyi, mengembalikan kesenangan kamu dikala kamu bosan menanti hujan.
Bintang, bagaimanapun adanya entah untuk berapa lama aku tetap berharap kamu menyinari malamku dari sudut aku biasa menghabiskan waktu menulis sajak untuk kamu.


15 Juni 2014 pukul 19:04

No title, * !

Aku terhenti dari kegiatanku yang kian menjemukan, menatapi halaman demi halaman yang tak kunjung kupahami.
Aku sejenak memandangi rembulan, yang setia menggantung.
Rembulan yang sama yang mungkin juga tengah kamu pandangi.
Rembulan bundar yang entah hari kesekian kalinya tak kujumpai, dimulai dimalam itu.
Kali ini izinkan aku, karena kamu tentu tahu hal ini mulai menjadi kebiasaanku.
Menulis sebait puisi sebelum aku beranjak membelai guling kesayanganku.
Puisi yang dulu kamu minta, puisi yang dulu kujanjikan, ditengah percakapan kita yang selalu kuanggap spesial.
Ku baca berulang klausa yang kamu ketikkan pada tuts keyboardmu waktu itu, entah bagaimana itu selalu menjadi penghiburan untukku ditengah sikap dingin kamu. Dingin yang terus mengabaikanku.
Tadi, ketika kita selesai mengerjakan soal pelik yang menyita waktu, aku terpikirkan akan kamu.
Kamu yang tadi sengaja kuhindari.
Mata kamu yang tidak lagi kupandangi. Warna pakaian kamu yang pun tidak lagi kuamati.
Entahlah, aku tahu cepat pun lambat waktu tetap tak mau menunggu.
Tidak, mungkin kamu tahu dan berpura pura tidak tahu. Teruslah begitu bintang, meski waktu tak lagi jadi sekutu, bait sajak ini tetap untuk kamu.
Selamat beristirahat, bintang !


12 Juni 2014 pukul 22:57

* Kejora !

Ini akhir pekan, bintang. Hari dimana kamu bisa tidur sedikit lebih larut dari biasanya.
Hari dimana kamu mungkin menghabiskan waktu dalam dunia yang mereka sebut maya.
Kamu yang tengah menatap layar monitor di hadapan kamu. Aku selalu penasaran apa yang kamu perhatikan dari dinding dinding bisu yang kerap kali berbicara.
Namun kamu tentu tahu, aku selalu enggan bertanya. Biarlah, ada hal yang lebih baik tetap tidak kita ketahui, bukan?
Nama kamu yang berulang kali ku eja, dalam diamku yang memuja kamu hai kejora.
Bukan, lagi lagi aku bukan merayu kamu. Bagaimanalah bisa sementara aku tidak pernah mampu menatap kamu lama, bergetar tiap kamu menyapaku dengan cara biasa, saat kamu hendak meminjam sesuatu dariku misalnya.
Ah, apakah kamu menyukai akhir pekan kamu? Bukankah kamu terus bisa menyaksikan pertandingan pertandingan seru sepanjang minggu ini, dan lagi, aku penasaran bagaimana kamu bersorak saat tim yang kamu suka mencetak gol kemenangan.
Bintang, apakah kamu sedang kesepian ?


14 Juni 2014 pukul 19:27

Maukah Kamu Menemaniku, * ?

Aku kembali memandang rembulan yang melingkar ditengah gelapnya langit malam ini.
Menatapi rembulan yang malam ini kembali sendirian.
Aku kembali tepekur disini, disudut beranda rumahku yang sepi pun sunyi.
Hanya derik jangkrik yang menyapa hangat diantara dinginnya sisa hujan.
Aku kembali tidak menemukan kamu. Hal yang sama yang kerap kali kamu lakukan pada rembulan, meninggalkannya sendirian.
Diujung sana aku tahu kamu ada. Menatapi layar yang menyajikan berita berita yang mungkin kamu tunggu, mungkin juga tidak.
Aku tidak berani menyapa, karena aku tahu lagi lagi kamu kan tetap abai. Sikap yang mulai membuatku terbiasa.
Semua yang hadir ketika semua sudah hendak berakhir.
Bukankah ini bukan inginku, pun kamu. Aku tidak pernah meminta, pun kamu. Bukankah begitu, bintang?
Kamu yang mungkin kebetulan membaca, ya.. Kamu yang berada diujung sana. Kamu yang merasa sajak ini untuk kamu, benar sekali bintang, kamu tidak perlu bertanya lagi seperti waktu itu.
sajak ini akan dan selalu untuk kamu.
Ketika kusadari, nanti beberapa saat lagi, kamu akan pergi, pun aku.
Mungkin kamu mau mengajakku mampir di kota kelahiran kamu di sebelah utara kota ini, sembari menikmati proses belajar yang menanti kita.
Bukankah kita masih punya waktu, bintang?
Maukah kamu menghabiskannya bersamaku, misalnya ?


13 Juni 2014 pukul 20:54

Ada yang Tidak Biasa, * !

Ada yang tak lagi biasa pada kamu. Pada tempat biasa aku mengamati setiap kebiasaan kamu.
Entah mungkin kamu sengaja, mungkin juga tidak.
Ketika tadi kita tertawa pada hal yang sama yang sepatutnya ditertawakan, tawa itu juga tak biasa.
Entah, mungkin kamu tidak suka bila aku selalu menulis catatan kecil tentang kamu, bintang.
Tadi, disaat kita menatap pada layar yang sama yang menampilkan gambar kita, aku kembali mengibaratkan kamu duduk disampingku.
Mungkin kita bisa mengomentari hal hal yang kamu anggap penting pun menggelitik hati kamu.
Bukankah itu akan sangat menyenangkan, hiburan atas pengabaian kamu akan aku.
Ada yang tak lagi biasa, aku tidak lagi bisa mengamati kamu, entah kamu sengaja atau tidak.
Lebih baik begitu bintang, selayaknyalah seperti itu. Hal yang membuatku sepenuhnya menyadari, hal ini mestinya segera dihentikan bahkan seharusnya tiada pernah kumulai.
Tidak bintang, maafkan aku. Memang tak seharusnya aku terus mengusik kamu. Kamu yang tadi diujung sana, tertawa penuh makna namun dimataku tawa itu tak biasa.
Selamat beristirahat, bintang !


11 Juni 2014 pukul 19:49

Hipotesis tentang *

Aku baru menyelesaikan tugas berpuluh halaman itu sekitar lima belas menit yang lalu.
Tugas yang mungkin juga tengah kamu selesaikan.
Bukankah melelahkan sekali, bintang? Tentu saja pekan ini penghujung berat di tahun belajar kita yang mulai menua.
Bagaimana hasil hipotesis penelitian kamu? Ditolakkah, atau malah diterima seperti hipotesis penelitian berpuluh halamanku ?
Ah, ada hipotesis yang lebih menarik untuk ku teliti bintang.
Kamu memang tidak menyukai warna merah, misalnya.
Tadi, disaat kita berada di gedung pun ruangan yang sama, aku tertegun memandang bayangan kamu dari sudut mata kananku.
Tidak bintang, kali ini ada yang lebih spesial bagiku. Entah kamu akan menganggapnya demikian atau tidak.
Aku tidak tahu mana yang kamu anggp spesial dan mana yang tidak.
Bukankah ini juga akan menjadi hipotesis yang menarik untuk kuteliti ?
Bintang, disaat mereka menerka nerka akan kamu, aku penasaran apa yang tengah kamu pikirkan saat itu?
Aku tak suka disaat mereka berlagak sok tahu, bukankah itu rahasia kita, bintang ?
Bintang, semoga kamu lekas menyelesaikan semua hal mendesak itu dan pergi tidur.
Sungguh bintang, banyak hipotesis tentang kamu yang mungkin bisa kamu jawab, esok hari di gedung belajar kita.


11 Juni 2014 pukul 0:49

Mungkin Warna Merah, * !

Petang kesekian kalinya yang kutatapi tanpa keindahan senja.
Mentari nan tersuruk malu malu, sembunyi dibalik awan gemawan.
Birunya langit sore ini mungkin kembali tidak akan ditutupi kemerahan senja.
Entah, aku mulai bingung kemana kisah ini bermuara.
Esok, dikala ujian menanti kita di pukul sebelas, ada hal yang kunantikan.
Hal biasa yang kuamati di gedung belajar kita, kamu. Aku mulai menerka nerka warna apa yang besok kamu kenakan.
Mungkin putih, biru, cokelat tua, atau malah merah?
ah, aku harap merah, bintang !
Entah, mungkin karena aku tidak pernah melihat kamu dengan warna itu. Tentu kamu suka warna merah bukan?
Entah, mungkin merah untuk mengganti senja kemerahan yang petang ini tidak nampak.
Bintang, sampai jumpa besok !


9 Juni 2014 pukul 17:09

Perasaan Yang Kamu Abaikan, * !

Aku baru sempat menghadirkan bait bait ini untuk kamu, kamu yang beberapa kali mulai singgah di beberapa tulisanku.
Tidak bintang, kali ini aku tak berniat memaksa kamu membaca catatanku, karena sekarang aku tahu kamu tengah terlelap, seharusnya.
Aku hanya ingin bercerita, pada segurat tanya yang kerap kali kamu abaikan, tak apa, kini aku mulai terbiasa.
Bagaimana tugas tugas kamu, tugas yang kian menyita waktu.
Apa kamu telah menyelesaikan semuanya? Bukankah itu bukan pekerjaan mudah, bintang?
Mungkin kamu mau belajar bersama, esok hari misalnya.
Aku takut semua takkan selesai tepat waktu, lantaran aku tak tahu bagian mana yang harus kuselesaikan terlebih dulu.
Sama seperti aku tak tahu, perasaan mana yang harus kupangkas lebih dulu.
Tidak, ini bukan perkara cinta bintang, toh aku terlalu bodoh untuk itu.
Ini hanya tentang rasa yang terus kamu abaikan, tentang kehangatan yang kamu pancarkan dari sinar dua mata bola, tetang kesenduan wajah kamu.
Bintang, diakhir minggu yang mungkin menjadi penghujung jalan, aku tepekur membayangkannya.
Bagaimanalah pertemuan yang kian berkurang akan membuatku berhenti bersajak, sedang anginpun enggan membantu membelai lembut wajah kamu, nanti.
Lantas, apa yang harus kulakukan bintang? Bukankah kesibukan perlahan kan kian menikam perasaan kita, ah perasaanku maksudku.
Perasaan yang kamu abaikan.
Sampai besok, bintang !


8 Juni 2014 pukul 23:25

Menunggu Kamu, Bintang.

Selamat Malam bintang.
Bukankah masih bisa ku sapa kamu begitu, meski nanti, kurang dari dua puluh menit lagi hari berganti larut. Menutup penat hari ini.
Aku semakin tidak mengerti bintang, aku tidak mengerti apapun tentang kamu, kebiasaan kamu misalnya yang selalu membuatku ingin tahu.
Aku enggan bertanya bintang, karena aku tahu kamu kan tetap abai. Bukankah begitu ?
biarlah begini, menunggu kamu. Menanti kira kira coretan apa yang kamu torehkan di dinding yang terus membisu, namun setia mengabarkan padaku sekiranya apa yang telah, tengah, dan akan kamu lakukan.
Tadi saat aku membaca, sepenggal aksara yang sama sekali tiada kupahami, aku enggan bertanya, karena ku tahu yang kan ku dapat hanya angin yang membawa kembali lekuk wajah kamu dengan pandangan terakhir kamu yang tak biasa.
Pandangan yang tak seteduh dulu, pertemanan yang tak lagi utuh.
Entah, sejak saat itu aku mulai ragu.
Mungkin benar, semua mulai terasa mengganggu untuk kamu, mungkin juga membuang waktu kamu untuk mendengarkan lagu lagu asing yang kamu suka, begitu yang kamu katakan dulu disela percakapan kita.
Bicaralah bintang, katakan bila kamu bosan dengan puisi seperti itu itu saja, dengan rayuan yang begini begini saja. Sekiranya akan kuhentikan.
Ah, tidak bintang. Aku tak sedang menghabiskan waktu merayu kamu. Aku hanya mengirimkan puisi yang waktu itu pernah kamu minta.
Bintang, setidaknya kamu bisa menuangkannya ditempat biasa kamu menorehkan isi hati kamu, dan aku akan menunggu bintang.
Menunggu kabar kamu dari tiap goresan aksara pada dinding yang tetap membisu.


6 Juni 2014 pukul 23:33

Bukankah Ini Rahasia, Bintang ?

Semalam, 26 menit dari pukul 8 aku tiba dirumah.
kemarin adalah hari yang panjang, bintang. Mungkin juga hari ini.
Semalam, beberapa saat sebelum melangkah pulang, beberapa saat sebelum santapan yang kami pesan memenuhi meja makan yang kami lingkari, kami berceloteh tentang kamu, bintang.
Aku hanya tertawa menatap mereka yang semakin penasaran akan kamu, bukankah ini rahasia bintang ?
Mereka memaksaku mengingat kembali tentang kamu, semua detail lekuk wajah kamu yang belakangan mulai jarang berada dalam puisiku.
Bagaimanalah bintang, kamu bahkan tetap abai akan jalinan kata yang mulai kusam berkarat. Apa hakku kembali menulis puisi ?
Apa kamu menunggu untuk membacanya? Tidak bintang, aku rasa tidak.
Kemarin, disaat kamu berada ditempat biasa aku memandang kamu, kamu bahkan seolah enggan menatap.
Gelap pandangan kamu sepekat jaket kesayangan yang kemarin kamu kenakan.
Padahal, susah payah aku membujuk tubuhku untuk berdamai dengan sakit yang sedikit menyusahkan, hanya untuk mengamati pakaian apa yang kembali kamu kenakan.
Lalu apa yang harus kukatakan pada mereka, bintang?
Apakah aku harus mengubur kamu bintang?
Bagaimanalah bintang, meski kamu tetap abai, puisi ini tetap untuk kamu. Sudahlah bintang, sepertinya aku tak perlu bercerita banyak tentang kamu, pada mereka khususnya.
Bukankah ini rahasia, bintang ?



5 Juni 2014 pukul 7:58

Mengapa Kamu Kusapa Bintang.

Malam ini aku kan bercerita sedikit, mungkin ini jawaban untuk setiap pertanyaan kamu, bintang.
Semoga kali ini kamu memiliki cukup waktu untuk membaca klausaku, karena aku memutuskan berhenti bersajak sejak aku tahu, kamu tetap mengabaikannya, Meskipun kamu berjanji membacanya, dipercakapan kita hari itu.
Sajak yang sejak beberapa malam tiada lagi menyapa kamu, bukan aku lupa akan kamu bintang, bukan.
Aku hanya mulai berpikir semuanya hanya mengganggu kamu, hanya menghabiskan waktu singgah disetiap aksara yang kugurat dalam diam. Diam kamu yang terus mengabaikanku.
Malam ini aku memutuskan untuk kembali menghantui malam kamu dengan sajak sajak ini.
Entah sajak kesekian kalinya yang tidak menarik untuk kamu baca, tapi aku tahu bintang kamu hanya sedang enggan, bukankah begitu? Atau memang kamu selalu enggan ?
Kali ini kamu harus tahu mengapa kamu kusapa bintang.
Entah bagaimana kamu selalu ada dikala aku menatap langit meski hujan seharian yang membuat kamu selalu bosan, aku tetap menemukan kamu. Bukankah bintang tak pernah membiarkan langit sendirian?
Kamu selalu disana, ditempat dimana aku bisa menatap kamu digedung belajar kita, dengan senyum yang sama pun sendu yang sama, bukankah bintang tak pernah meninggalkan temannya sendirian?
Aku menemukan kamu disetiap aku memulai hari, bukankah bintang selalu mengalah dan membiarkan mentari menggantikannya bersinar?
Bintang, entah sejak kapan kamu kupanggil begitu. Entah sejak kapan kamu mulai begitu sering menjadi tokoh disetiap catatanku.
Aku mulai lupa mengapa kamu kusapa bintang, mungkin karena kamu tiada pernah meninggalkanku dikala malam.
Mengapa kamu kusapa bintang? Entahlah,
Selamat malam, Bintang.



31 Mei 2014 pukul 19:45

Mengibaratkan Kamu, Bintang.

Beberapa menit sebelum tengah malam aku masih sibuk mengibaratkan kamu.
Dipenghujung hari kamu yang mungkin begitu lelah.
Aku pun mulai lelah menghitung menit menit terakhir kali kamu berada dalam daftar orang yang mungkin ku ajak bicara, tadi.
Hampir lima kali enam puluh menit sudah, nyatanya kamu tetap tidak nampak.
Sepertinya kamu selalu sibuk, bintang. Tidak seperti aku yang akan selalu punya waktu luang, kapanpun kamu perlu.
Tapi bukankah disisa percakapan kemarin kamu bilang akan selalu punya waktu, apa kamu lupa bintang?
Kamu mungkin menghabiskan malam bersama teman kamu, begitu yang kubaca dari sebait tulisan yang tanpa sengaja lewat, bukankah esok libur panjang. Kamu tentu bisa tidur sedikit larut. Benar tidaknya aku tidak tahu. Bukankah kamu bahkan jarang sekali berbagi cerita denganku, kecuali waktu itu.
Kepalaku makin pusing bintang, tapi mataku enggan beranjak dari beberapa baris tulisan yang kamu kirimkan, waktu itu.
Dibalik sendu kamu bintang, aku tahu ada banyak misteri disana, bagai kepingan puzzle yang harus kuselesaikan, barulah terlihat rupanya.
Tidak, kamu bahkan lebih rumit dari kepingan puzzle itu. Kamu adalah pecahan kaca, membentuk indah serupa mozaik malam bintang.
Disini, beberapa menit sebelum tengah malam, aku mengibaratkan kamu, bintang.

28 Mei 2014 pukul 23:41

-_-

Mungkin hari ini lebih indah dibanding kemarin disaat kamu merasa sangat bosan.
Mungkin juga lebih bermakna dibanding kemarin saat kamu tak melakukan apa apa.
Tadi, disaat kupandangi kamu melangkah anggun dari tempat biasa kamu memarkir kendaraan kamu, aku terpaku, Tadi pagi, disaat aku melangkah tergesa ke toilet wanita.
Aku tak ingin kehilangan banyak waktu karena aku tahu, tadi pelajaran akan segera dimulai. Tentunya aku lebih tak ingin kehilangan banyak waktu memandang kamu, diruang berpendingin tempat kita menghela udara yang sama.
Tadi setelah melihat kamu, aku semakin yakin kamu mengoleksi pakaian itu aneka warna, bintang. Membuatku sukar mengingat warna apa yang mungkin belum kamu punya.
Entahlah bintang, kepalaku semakin berdenyut, mendadak pening.
Suhu tubuhku juga tak menentu, aku flu berat. Mungkin karena dinginnya hujan kemarin, tapi kamu tentu baik baik saja bukan?
Mungkin saja kamu tidak peduli bintang, karena tadi nampaknya kamu sedang sibuk sekali.
Tapi, tadi, disaat teman teman kamu yang juga teman temanku tertawa riang, mengapa kamu tetap diam? Tak tertarikkah turut serta? Atau mungkin ada hal yang lebih menarik untuk kamu pikirkan, berceritalah sedikit, bintang. Seperti waktu itu.
Setidaknya cerita kamu dapat menjadi dongeng pengantarku beristirahat petang ini, tubuhku yang mulai ambruk tak bertenaga.
Ah bintang, mungkin lain kali kita dapat bercengkrama di depan teras gedung belajar kita, seandainya saja aku sedikit lebih berani untuk menyapa.
Nanti disaat flu berat ini sirna, mungkin kamu mau bercerita, sedikit saja, seperti waktu itu.

28 Mei 2014 pukul 15:50

Puisi Yang Tadi Kujanjikan, Untuk Kamu.

Rinai telah berakhir. Rinai yang sedari petang membanjiri halaman rumahku.
Ah, tidak, mungkin sedari siang.
Rinai yang mungkin memaksa kamu untuk tetap beristirahat melepas penat, atau malah rinai yang kian membuat kamu kian penat, entahlah. Aku tak tahu pun mengerti.
Kubaca berulang beberapa baris percakapan kita tadi, mungkin saja sedikit membuat kamu tersenyum, mungkin juga muak.
Aku tak memaksa kamu percaya, karena memang tiada yang pernah percaya.
Percakapan ringan dibawah hujan yang mengukung.
Mungkin cukup membuatku tahu sedikit tentang kamu, kesukaan kamu misalnya.
Tentu saja kamu ingat sebait aksara yang tadi kujanjikan bukan, apakah kamu mau membacanya pun berkomentar ?
Semua klausaku yang dulunya berdebu, semua klausaku yang mungkin baru selesai kamu baca.
Puisi ini untuk seseorang yang tadi meminta, mungkin saja dapat kamu baca selagi hujan mulai mereda.
Karena nanti, disaat hujan dengan derasnya mengguyur akan memaksa kamu kembali penat dan menghentikan percakapan ringan kita dibawahnya.
Mungkin nanti, disaat kamu tahu siapa objek ditiap bait puisiku, kamu akan dan mau percaya
:)


27 Mei 2014 pukul 19:13

Kamu Tidak Sendirian, Bintang.

Semoga saja kamu tak lekas bosan, karena sajak ini lagi lagi tentang kamu, bintang.
Bintang, akhirnya aku tahu kemana kamu menghabiskan waktu, akhir pekan kamu yang lalu.
Kamu pergi ketempat dimana adalah tempat yang selalu ingin kukunjungi.
Ceritakan padaku bintang bagaimana rasanya, apakah cukup melelahkan ?
Namun tempat yang begitu indah, bukankah begitu? Tempat kita dapat melihat panorama kota kecil dibanding kota tempat kita menetap sekarang. Mungkin juga kamu dapat melihat kota kamu dari atas sana, mungkin itu harapanku.
Bintang, sepertinya kamu sedang bosan.
Aku tidak tahu kamu tengah menatap hujan dari beranda rumah sewaan kamu atau dari desa kelahiran kamu disebelah utara kota ini. Yang jelas, kita tengah menatapi rinai yang sama.
Bintang, seperti ajakanku di rinai sebelumnya, maukah kamu kutemani minum teh. Jawablah bintang, kamu tentu tidak ingin semakin bosan sendirian bukan?
Banyak cerita yang mungkin ingin kamu dengar pun kamu bagi, tentang libur panjang ini misalnya.
Jangan lupa kenakan jaket gelap pekat kamu, cuaca sedang tak bersahabat. Aku tak ingin kamu flu seperti aku.
Bintang, semoga kamu tak lekas bosan dengan sajak yang kukirimkan.
Mungkin saja ini bisa menjadi teman kamu yang sendirian menanti hujan.
Dari sini ku kirimkan catatan kecil yang mungkin dapat membuat kamu tersenyum, simpul saja.
Senyuman dibawah hujan, dan kamu tahu kamu tak sendirian, bintang.


27 Mei 2014 pukul 15:14

Tim Kesayangan Kamu, Bintang.

Masih tentang akhir pekan, bintang.
Tepatnya hari ini, hari minggu. Hari yang tentunya menyenangkan bagi kamu, bukankah demikian?
Bintang, semalam istirahatku sedikit sekali, hingga kini aku sepertinya sedikit lelah. Suhu tubuhku naik turun, entah.
Bagaimana dengan hari minggu kamu, bintang?
Semalam, ah, tepatnya pukul dua dikala larut malam menuju subuh, aku terjaga.
Aku memaksa mataku menyaksikan pertandingan bola di layar lebar di halaman sebuah gedung.
Pertandingan yang tentu saja juga menyedot perhatian kamu bukan? Bukankah kamu suka bermain bola?
Sayangnya aku tidak menjagokan siapa siapa, bintang, pun kamu.
Aku tahu tim kesayangan kamu, si biru biru.
Aku juga menyukainya, karena aku menyukai semua yang kamu suka, meskipun sebenarnya tim kesayanganku tentu saja lebih hebat dari tim kesayangan kamu.
Lalu, semalam kamu bersorak untuk siapa?
Bukankah itu pertandingan yang menegangkan, bintang. Ataukah kamu tetap diam, bersama keanggunan sikap kamu.
Bukankah kamu tidak pernah bersorak pun berceloteh tidak penting seperti para pecundang yang turut menyaksikan pertandingan semalam.
Mungkin kamu hanya tersenyum mengangguk dan bersorak dalam hati.
Semalam, sambil makan kacang aku kembali berkhayal tentang kamu.
Percayakah kamu saat aku beritahu jika kamu menyapaku dalam mimpiku. Sungguh bintang, begitu menyenangkan mengingatnya.
Kita tertawa begitu akrab, bercengkrama.
Sambil makan kacang aku mengibaratkan kamu duduk disampingku.
Menyaksikan bersama pada layar lebar dihadapan kita, sembari mengomentari sesekali.
Aku akan mendengarkan pendapat kamu, celotehan kamu, atau teriakan kekesalan kamu saat pemain andalan melakukan kesalahan.
Andai saja semalam pertandingan tim kesayangan kamu, mungkin kamu mau menyaksikannya bersamaku bertemankan kacang goreng.
Bintang, kalau boleh tahu, dimana kamu menyaksikan pertandingan semalam?
Cukupkah waktu istirahat kamu?
jika kamu terlalu lelah, beristirahatlah.
Esok atau lusa mungkin kita dapat menyaksikan bersama, pertandingan tim kesayangan kamu, di akhir pekan kamu


25 Mei 2014 pukul 20:45

Minggu, 25 Mei 2014

Akhir Pekan Kamu, Bintang.

Tahukah kamu bintang, langit malam ini nampaknya sedang tidak terlalu senang. Langit yang kupandangi dari beranda rumahku hanya menyisakan beberapa bintang yang tak seberapa indah dibanding kamu.
Bagaimanalah aku akan turut senang?
Bintang, malam ini tentunya kamu tengah bersantai. Bukankah begitu seharusnya? Bayaran untuk lelah kamu atas kesibukan kamu yang selalu membuatmu penat.
Aku sedang mengira ngira apa yang tengah dan akan kamu lakukan.
Kalau aku tidak salah kira, kamu pasti tengah memainkan permainan yang biasa kamu mainkan, bersama teman kamu yang juga temanku. Andai aku layar yang terus kamu pandangi dan kursi tempat kamu menyandarkan bahu kamu, mungkin akan sangat menyenangkan.
Atau jika kamu tidak melakukan apa apa malam ini, ceritakan padaku apa yang kamu lakukan petang tadi. Misalnya pukul berapa kamu bangun dari istirahat siang kamu. Atau kamu mungkin menghabiskan waktu berkeliling.
Hei Bintang, tadi saat matahari dengan garangnya membakar bumi, aku dan teman temanku yang juga adalah teman teman kamu mengunjungi sebuah tempat yang indah.
Aku tak begitu ingat pukul berapa, yang jelas kamu harus mengenakan jaket kesayangan kamu agar tidak kepanasan, mungkin juga penutup kepala.
Tadi, ditempat yang kami kunjungi kamu dapat dengan jelas menatap ombak, menepi menuju hati kamu.
Sayangnya ombak sedang tak mau berteman denganku, bintang. Tak dapat kulukis nama kamu di pasirnya yang sedikit menghitam. Mungkin lain kali, saat aku kembali.
Aku tidak tahu bintang, apakah kamu pernah, mau dan akan mengunjungi tempat ini.
Jalanannya berbatu, terjal. Tapi apalah artinya ketika kamu kan mendengar merdunya suara alam, bintang.
Aku akan senang hati membuatkan kamu puisi yang bisa kamu baca selagi ombak terus mengejar tepi.
Mungkin yang lebih menyenangkan kita dapat mengambil gambar kita berlatar tebing merah yang menjulang.
Maukah kamu bintang ?
Tadi, mereka lagi lagi bertanya siapa kamu. Mereka menyebutkan nama nama yang membuatku tergelak, bintang.
Berulang kali kukatakan pada mereka namamu bintang, bukankah demikian?
Bintang, barangkali di lain pekan kamu berniat mengunjunginya bersama. Bukankah itu akan menjadi akhir pekan yang menyenangkan, bintang ?


24 Mei 2014 21:12

Sederhana Saja, Bintang.

Seharusnya malam ini aku sudah terlelap. Seperti kamu yang mungkin tengah memeluk guling kamu dengan nyaman. Dibawah balutan dingin sisa hujan, bermimpi akan esok yang mungkin jauh lebih indah, mungkin juga jauh lebih sibuk dari biasanya.
Seharusnya dan selayaknya aku tak kembali menulis sajak, sajak sajak yang kerap kali mengusik kamu. Tapi entahlah bintang, sejak hari itu, hari dimana kamu tahu dan memutuskan menjauh, aksara ini mengalir begitu saja. Aku telah kehabisan cara menghentikannya.
Bintang, tak lama lagi nampaknya kita tak kan jumpa sesering dulu.
Kamu akan sibuk sekali tentunya, dipenghujung tahun terakhir kita.
Kamu juga akan pergi ketempat yang baru bagi kamu, ah, mungkin juga tidak. Bukankah tempat itu dekat kota kelahiran kamu ? Sebelah utara dari kota ini.
Begitupun aku, pergi ketempat asing yang mungkin tidak pernah terpikir oleh kamu.
Bintang, semakin aku menyelami hati kamu semakin aku tak mengerti.
Ketika hampir setiap malam aku terjaga hanya untuk memastikan kamu telah terlelap.
Bintang, ketika semua menjadi kian rumit dan menyesakkan, maukah kiranya kamu menyapaku seperti mula ? Bukankah itu sederhana saja, bintang ?


23 Mei 2014 23:45

Hujan, Bintangku Sedang Apa ?

Rinai yang kesekian kalinya memaksaku tepekur disini.
Disudut ruang persegi yang kunamai kamar tidur.
Menatapi tiap bulir yang jatuh mengikis tandusnya tanah di halaman rumahku, mungkin juga di halaman rumah sewaan kamu.
Guntur juga bergemuruh, hebat sekali.
Apakah kamu menyukai hujan, bintang?
Setidaknya hujan memaksa kamu beristiraht sejenak dari penat kamu, dari semua urusan penting yang menyita waktu kamu.
Atau kamu malah membenci hujan yang telah merenggut semua waktu kamu yang berharga. Semua waktu kamu yang seolah selalu tergesa.
Bintang, sekiranya hujan tak jua mau reda, aku penasaran apa yang akan kamu lakukan.
Bukankah hari ini kamu harus menghadiri banyak jadwal di gedung belajar kita.
Apakah kamu akan nekat melewati hujan dengan kendaraan yang biasa kamu gunakan.
Tidak khawatirkah sepatu kamu akan basah, baju kamu akan kuyup, atau jam tangan kamu akan dibasuh hujan.
Ah, aku lebih takut lagi kamu akan terkena flu dan sakit kepala misalnya.
Bintang, sekiranya kamu tetap memaksa melalui hujan bolehkah aku menemani kamu.
Menapaki jalanan yang basah, memayungi kamu tentunya. Mungkin kita dapat bertelanjang kaki agar sepatu kamu tidak basah dan kamu tidak kedinginan.
Bintang, atau bila kamu enggan menyusuri hujan, kita bisa melakukan hal menyenangkan lain, minum teh dan mendengarkan musik kesayangan kamu misalnya, tentu saja sambil bercengkrama.
Kan ku ceritakan lelucon lelucon yang mungkin dapat kita tertawakan bersama.
Bintang, hujan begini kamu sedang apa ?


23 Mei 2014 pukul 9:41

15.10 WIB Catatan Di Sela-Sela Presentasi Di Gedung Belajar Kita.

Catatan ini kubuat disela sela presentasi digedung belajar kita, tadi.
Diujung sana, kamu tertawa pada hal yang sama yang aku tertawakan.
Bukankah ini menyenangkan, bintang?
Melihat tawa kamu yang belakangan mulai tak sering lagi kujumpai.
Tawa yang begitu berharga, dibalik sendu mata kamu.
Dan lagi, kamu diujung sana. Radius sepuluh meter ke utara dari tempatku berada.
Kali ini warna yang berbeda dari kemarin, bukan lagi jaket gelap pekat.
Kamu kembali ke tabiat kamu yang biasa, kamu kenakan baju tradisional yang kamu punya.
Mungkin kamu sangat menyukainya, hingga seringkali kamu mengenakannya.
Dan kamu tahu bintang, aku juga menyukainya. Aku akan menyukai apapun yang kamu suka, bintang.
Tadi, beberapa saat lalu digedung satunya, tempat kita menyelesaikan segala sesuatunya.
Segala sesuatu yang mungkin kamu anggap penting.
Entahlah, aku mulai bingung hal mana yang kamu anggap penting dan mana yang tidak kamu anggap penting.
Yang jelas dan teramat penting bagiku adalah, kamu menatapku.
Kali ini, bukan hanya perasaanku, kali ini nyata, dan aku tahu itu kamu, bintang.
Kamu yang kini mulai terlalu sering berada dipikiranku, berlari lari diotakku.
Apakah kamu tidak bosan mendengarkan materi materi yang sama?
Penyampaian yang seperti itu itu saja.
Kemarilah, lihatlah, kubuatkan sebuah puisi untuk kamu.
Puisi yang mungkin lebih menarik untuk kamu baca, dibanding materi materi yang sama sekali tidak kita mengerti.
Catatan ini kubuat disela sela presentasi digedung belajar kita.
Disela sela tawa kamu yang begitu menggodaku untuk menuliskan sajak ini.
Sajak yang entah kali ini kan indah atau tidak.
Aku tak peduli, bintang.
Bagiku, saat kamu tertawa pada hal yang sama yang aku tertawakan.
Tawa itu begitu berharga, bintang.


Bengkulu, 22 Mei 2014

Rabu, 21 Mei 2014

Dalam Jarak Sejauh Ini, Bintang,

Maafkan aku bintang, kemarin dan kemarin lusa pula aku tak menepati janjiku.
Dua sajak yang harusnya ku hadirkan lebih awal, maaf bintang.
Tadi, disaat kembali ku tatap mata kamu, ketenangan itu kembali dihatiku.
Kesenduan mata kamu, keanggunan perilaku kamu, masih sama seperti dulu. Dibalik jaket gelap yang kamu kenakan, kamu tersenyum. Simpul saja, dari radius sepuluh meter di sebelah utara tempatku duduk. Aku menatap kamu takzim, diantara kecamuk hati yang masih terluka.
Diantara riuhnya omong kosong di gedung belajar kita, kamulah salah satunya alasanku tetap betah, bertahan dengan semua kemunafikan yang ditawarkan.
Bintang, tahukah kamu kemarin dan kemarin lusa disaat aku tak menepati janjiku, begitu banyak yang terjadi.
Sungguh bintang, aku ingin berceritera pada kamu. Mendengar apa pendapat kamu akan ceritaku, atau setidaknya melihat wajah kamu bersimpati akan ceritaku.
Tapi bagaimanalah bintang, bahkan kamu kini benar telah lenyap dari radarku, tak pernah menampakkan diri ditempat kamu biasanya dapat kupandangi.
Tadi, dibalik jaket gelap yang kamu kenakan, aku melihat kamu menatapku.
Entah, mungkin saja aku salah tafsir bukan? Dari radius sepuluh meter aku melihat kamu tersenyum bintang, senyum yang bagiku selalu menenangkan meski dalam kecamuk yang tetap membuatku terluka.
Bukankah kamu tetap berada disana, dari radius sepuluh meter sebelah utara dari tempatku duduk, dengan senyum simpul kamu. Dari jarak sejauh ini, kamu berikan aku ketenangan

Sabtu, 17 Mei 2014

Puisi Untuk Kamu, Bintang..

Bintang, untuk kesekian kalinya tak kujumpai kamu. Maaf, tak kupenuhi janjiku menuliskan puisi untuk kamu semalam. Lantaran banyak sekali yang ada dipikiranku, banyak sekali yang berdesakan didalamnya. Ah,tidak. Tidak berarti aku tidak memikirkan kamu. Bukan begitu maksudku, bintang.
Aku hanya membutuhkan waktu, sejenak saja untuk berpikir. Setidaknya memikirkan kembali tentang kita. Ah, tentang perasaanku saja tepatnya.
Kamu memang baik, begitu kataku pun temanku yang juga teman kamu.
Mungkin kamu tersenyum pada siapapun yang memang kamu jumpai, dijalanan yang biasa kamu lewati, gedung belajar kita, pun di kantin tempat kamu biasa memesan makan siang.
Hanya saja, aku selalu menganggapnya spesial, sama spesialnya saat kamu kenakan kemeja cokelat tuamu, atau pakaian tradisional bermacam warna yang kamu punya.
Sapaan itu juga hangat, sama hangatnya ketika sinar surya menerobos celah jendela kamarku.
Bintang, sebenarnya banyak sekali hal yang harus kuselesaikan, kubaca, dan kupahami.
Nanti dihari senin, banyak sekali hal yang harus kulewati. Menjawab soal soal pelik, misalnya menanti untuk kami selesaikan.
Tahukah kamu bintang, semua demi almamater kita.
Dan bolehkah aku berharap kamu nanti duduk disana, menyemangati hatiku.
Tidak perlulah kamu berteriak macam suporter bola, cukup diam dan tersenyum saja.
Hah, Tapi kini aku lebih suka menarikan jemariku, bercerita tentang kamu.
Kamu yang bagiku selalu spesial. Sama spesialnya saat kamu pertama kali kukenal.
Setidaknya malam ini kupenuhi janjiku.
Satu puisi untuk kamu, dan lagi, berbaris dalam draft aksara yang menanti untuk kamu baca

Bagaimanlah, Bintang ?

Aku tersuruk dalam senyapnya malam.
Malam yang indah,seharusnya.
Rembulan yang kian bundar tetap setia menggantung diatas sana. Sama layaknya aku yang setia menggantungkan asa.
Esok, disaat ku langkahkan kaki ke gedung belajar kita. Gedung tempat pertama kali kita bertemu aku berharap dapat menyapa kamu.
Kamu yang belakangan makin jarang ku temukan, disetiap nyata pun maya. Apakah benar kamu merasa begitu terganggu akan sajak sajak bodohku?
Aku tak memaksa kamu membacanya bila benar tak ingin. Pun tak pernah menyuruh kamu diam disini agar dapat ku sentuh jemari kamu. Aku membiarkan kamu pergi, berlari, atau sekedar berdiam diri. Tetap dengan mata sendu kamu, senyum khas kamu, serta anggun perilaku kamu. Bahkan tak ada yang lebih berharga dari itu. Tak perlulah menghabiskan waktu berlama lama membaca sajakku, mengomentari tiap klausaku, bila benar kamu tak lagi ingin.
Bila saja semua tetap pada tempatnya. Tak perlu pula mereka tahu akan kita. Tentulah semua tetap berjalan seperti mula. Disaat kita berteman biasa, dengan temanku yang juga teman kamu.
Bintang, bagaimanalah langit tak bermuram durja. Kehilangan kamu yang tak lagi mau menyapa. Bagaimanalah rembulan tak menangis, bila bintang bahkan tak lagi hendak menemaninya menulis sajak sajak nya, melukiskan sinarnya saja bintang telah enggan. Bagaimanlah bisa, bintang ?

Bintangnya Rembulan..

Bintang, apakah kamu melihat bundarnya rembulan di atas sana? Indah menggantung.
Menyenangkan memandangnya. Apakah kamu tengah memandang rembulan yang sama ?
bukankah kamu telah selesai dengan semua tugas tugas kamu. Bukankah kini kamu punya sedikit waktu, setidaknya sekedar untuk membaca tulisan tulisanku.
Bintang, tadi setidaknya ku temukan sosok kamu. Meski ku tahu kamu bahkan tak ada waktu untuk sekedar memasukkan namaku di daftar teman yang ingin kamu sapa, tadi di ruangan putih berpendingin yang nyaris membuatku beku. Sebeku wajah kamu, sebeku sikap kamu.
Dan lagi, aku penasaran. Berapa koleksi pakaian tradisional yang kamu punya.
Pakaian yang biasa kamu kenakan di gedung belajar kita.
Bintang, bukankah pernah ku katakan pada kamu. Aku mengagumi senyum kamu. Dan kamu tertawa waktu itu. Kamu kira aku bercanda. Kamu bilang itu lelucon. Bahkan sebenarnya aku tak pernah lebih serius dari saat itu. Tapi tak apa, biarlah. Toh mungkin saja itu tidak lebih penting dari kegiatan kamu memandang rembulan.
Bintang, andai rembulan itu aku, masihkah kamu sudi memandangnya?
bukankah kamu dapat memandangku tak hanya dimalam sepi, tapi setiap pagi digedung belajar kita ? Atau sekedar memasukkan namaku dalam daftar teman yang mungkin kamu sapa ?