“ Eh, Udah aku kirim dari kemarin tuh. Udah di cek belum ?” Suara cempreng itu terdengar tiba-tiba
“
Maaf maaf, Belum sempat buka email, lagi sibuk” Ujarku berbohong. Sebenarnya
email itu bahkan sudah kubaca berkali-kali.
“
Yah, Cepetan dilihat
dong. Mas Tio tetap kekeuh minta
pendapat kamu tuh” aku bergetar tiap kali nama itu disebut.
“
Iya, nanti aku cek”
“
Sip. Kalau foto yang aku kirim Jum’at lalu udah kamu liat kan?”
“
Udah”
“ Buat cover depan bagusan yang mana? yang
ditaman atau yang di jembatan ?”
“
Dua-duanya”
“
Yang Bener dong!”
“
Yang di taman”
“
Hmm, kok sama seperti pilihan mas Tio sih. Padahal bagusan yang di jembatan
itu. Tapi yaudah deh, nanti aku kasih tau dia”
“
Eh, kamu nanti pasti datang kan?” tanyanya lagi.
“
Belum tahu, masih banyak tugas. Sayang kalau ditinggal”
“ Ya
udah kalau nggak bisa nggak usah dipaksa” Ujarnya dengan nada yang sama sekali tak mengharapkan kedatanganku. “
Udah ya, udah malam. Bye”
Klik. Telepon ditutup.
Tak seharusnya perasaan sesak itu muncul kembali setelah
berminggu-minggu aku telah mencoba berdamai dengan hatiku. Udara pagi London begitu
sejuk. Mentari bersinar malu-malu diufuk timur. Kuingat saat dulu seseorang
yang sepenuh hati menyemangatiku untuk
mengambil tawaran schoolarship ke negeri Ratu Elizabet ini.
“ Kamu harus ambil tawaran itu, semua demi masa depan
kamu” Ujarnya sembari membelai rambutku
“ Aku takut” jawabku waktu itu
“ Tidak ada
yang perlu ditakutkan, ada aku yang akan selalu menyemangatimu. Tidak ada yang
perlu ditakutkan”
“ Aku takut
kita..”
“ Aku tetap
disini untuk kamu Marsya,
aku akan tetap menunggu
sampai kamu menyelesaikan studimu dan kembali kesini. Tidak ada yang perlu
ditakutkan tentang hubungan kita”
Aku menggeleng keras waktu itu. Tapi kamu tetap meyakinkanku
dengan pandangan mata itu. Pandangan yang akan selalu membuatku percaya
bahwa jarak tidak akan pernah menjadi penghalang. Hingga akhirnya aku
mengangguk. Sebuah anggukan persetujuan.
Anggukan yang keliru rupanya.
Untuk kesekian
kalinya kubaca email itu. Format undangan merah muda dengan dua merpati
disisinya.
Menikah:
Tio Adi Saputra dan Mischa Putri Violet
Mengapa Harus dia, mengapa harus adikku. Mataku kebas
menahan tangis. Teringat telepon sebulan lalu.
Telepon yang menghancurkan semua mimpi ditahun terakhir masa studiku. Mischa
menangis merengek bilang hamil dua bulan. Betapa aku ingin
pingsan setelah namamu ia sebutkan. Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan.
Kuharap bukan sebuah anggukan yang keliru.