Senin, 17 Maret 2014

Sebuah Anggukan Yang Keliru


“ Eh, Udah aku kirim dari kemarin tuh. Udah di cek belum ?” Suara cempreng itu terdengar tiba-tiba
“ Maaf maaf, Belum sempat buka email, lagi sibuk” Ujarku berbohong. Sebenarnya email itu bahkan sudah kubaca berkali-kali.
“ Yah, Cepetan dilihat dong. Mas Tio tetap kekeuh minta pendapat kamu tuh” aku bergetar tiap kali nama itu disebut.
“ Iya, nanti aku cek”
“ Sip. Kalau foto yang aku kirim Jum’at lalu udah kamu liat kan?”
“ Udah”
  Buat cover depan bagusan yang mana? yang ditaman atau yang di jembatan ?”
“ Dua-duanya”
“ Yang Bener dong!”
“ Yang di taman”
“ Hmm, kok sama seperti pilihan mas Tio sih. Padahal bagusan yang di jembatan itu. Tapi yaudah deh, nanti aku kasih tau dia”
“ Eh, kamu nanti pasti datang kan?” tanyanya lagi.
“ Belum tahu, masih banyak tugas. Sayang kalau ditinggal”
Ya udah kalau nggak bisa nggak usah dipaksa” Ujarnya dengan nada yang sama sekali tak mengharapkan kedatanganku. “ Udah ya, udah malam. Bye”
Klik. Telepon ditutup.
Tak seharusnya perasaan sesak itu muncul kembali setelah berminggu-minggu aku telah mencoba berdamai dengan hatiku. Udara pagi London  begitu sejuk. Mentari bersinar malu-malu diufuk timur. Kuingat saat dulu seseorang yang sepenuh hati menyemangatiku  untuk mengambil tawaran schoolarship ke negeri Ratu Elizabet ini.
“ Kamu harus ambil tawaran itu, semua demi masa depan kamu” Ujarnya sembari membelai rambutku
“ Aku takut” jawabku waktu itu
“ Tidak ada yang perlu ditakutkan, ada aku yang akan selalu menyemangatimu. Tidak ada yang perlu ditakutkan”
“ Aku takut kita..”
“ Aku tetap disini untuk kamu  Marsya, aku  akan  tetap menunggu sampai kamu menyelesaikan studimu dan kembali kesini. Tidak ada yang perlu ditakutkan tentang hubungan kita”
Aku menggeleng keras waktu itu. Tapi kamu tetap meyakinkanku dengan pandangan mata itu. Pandangan yang akan selalu membuatku  percaya bahwa jarak tidak akan pernah menjadi penghalang. Hingga akhirnya aku mengangguk. Sebuah anggukan  persetujuan. Anggukan yang keliru rupanya.
Untuk kesekian kalinya kubaca email itu. Format undangan merah muda dengan dua merpati disisinya.
Menikah:
 Tio Adi Saputra dan Mischa Putri Violet
Mengapa Harus dia, mengapa harus adikku. Mataku kebas menahan tangis. Teringat telepon sebulan  lalu. Telepon yang menghancurkan semua mimpi ditahun terakhir masa studiku. Mischa menangis merengek bilang hamil dua bulan. Betapa aku  ingin pingsan setelah namamu ia sebutkan. Aku hanya bisa mengangguk mengiyakan. Kuharap bukan sebuah anggukan yang keliru.

Senin, 03 Maret 2014

(2) disini, disudut yang luput dari pandanganmu aku bermimpi . .

1 Februari 2014 pukul 20:04
dari sini, dari sudut yang luput dari pandanganmu aku memeluk mimpi.
Mimpi yang hilang membumbung tinggi ketika bintang berebut berkelip di pekatnya langit setelah petang.
mimpi yang menyentuh lemah sayap kunang di dekat jendela kaca.
tak terhitung telah jutaan kali kumimpikan tentang kamu, bermimpi didalam mimpi, aneh sekali bukan?
langkah yang pernah kamu dan aku ukir dijalan setapak itu tak terendus angin, pun tak tercium hujan, hanya membumbung tinggi laksana asap dari tumpukan sisa pembakaran sampah yang membusuk dibelakang rumah kamu..
kamu adalah riak ombak yang menepi malu malu, kerlip bintang yang bersinar terang, jangkrik yg berderik ramai, pun pelangi yang melengkung indah diantara becek sisa hujan..
namun kamu tetaplah mimpiku, mimpi yang kuimpikan dalam tiap tetes hujan pun dalam teriknya panas sang surya..
aku singgah diperempatan lampu merah, semua kendaraan berderu bergegas pulang sebelum petang, tapi kenapa kamu tidak pernah pulang? Atau karena aku bukan menjadi tempat kamu kembali?
kamu yang selalu jadi objek dari tiap klausa ku, dan aku yang hanya selalu jadi pelengkap dari tiap klausa mu . .
hatimu adalah meja bundar yang tak bertepi, dimana tempatku meletakkan semua gelas kaca bermotif hati, hatimu adalah lingkaran jam yang tak bosan kuputari.
biarlah, biarkan senja beranjak pergi. Pun lengkung pelangi..
dari sini, dari sudut yang luput dari pandanganmu aku bermimpi..

(1) Dari sini, dari sudut yg luput dari pandanganmu aku memeluk mimpi.

Dari sini, dari sudut yg luput dari pandanganmu aku memeluk mimpi..
mimpi yang terkukung oleh jingganya langit sore, langit sore yang bias kan lengkung senyummu..
dari sini, dari sudut yang luput dari pandanganmu aku memeluk mimpi..
mimpi yang terhalang ramainya kepakan sayap kelelawar, kelelawar nakal yang bisikkan namamu diantara awan sirus..
Teriakanku lenyap diantara anak tangga rumah kayu yang reot, berderit menjemukan!
lamunanku terputus diantara syair kelu lagu era remaja ibuku, berdendang memabukkan..
dan aku tersadar dari sudut ini, sudut yang luput dari pandanganmu..
Manalah sempat aku mencegah hatiku, manalah kuat ku hilangkan rasaku, sedangkan tiap ku menghadapNya namamu selalu yg terakhir kusebut kerana banyak sekali pintaku akan kamu, sedangkan saat kubuka layar ponselku selalu saja gambar itu, potret kita dengan dua jari disebelah deretan gigi, bagaimanalah bisa mengagumi seperti ini?
aku ingin tahu, tidakkah kamu bosan duduk disana? Tidak tertarikkah duduk disini, disudut yg luput dari pandanganmu?
hatimu adalah meja bundar yang tak bertepi, lingkaran jam yang tak bosan diputari, biarlah, biarkan senja beranjak pergi tanpa kamu yang harus perduli..
dari sini, dari sudut yang luput dari pandanganmu aku memeluk mimpi . .

Minggu, 02 Maret 2014

Bait puisi yang hilang dan keping cerita yang ketinggalan !

Jam dinding berdentang dua kali, pukul dua yang terjadi sehari dua kali, dua kali yang telah pula terjadi ribuan kali hari. Aku tergelak di pagi buta ini, semata karena aku teringat pertanyaan pertanyaan aneh dari mereka yg seolah peduli akan jalan cerita ini, sedangkan mereka bukan tokoh dalam bait ceritaku, Pun sutradara. Entah dimana aku telah kehilangan bait bait puisiku, entah dimana kutinggalkan keping puzzle terakhir jalan ceritaku. Jalinan puisi yang tak pernah selesai, kepingan cerita yang tidak pernah padu. .
ah, bukan. Aku tentu saja bukan penyair.
aku bukan si 'Binatang Jalang' Chairil Anwar pun Penyair kenamaan sekelas Khairil Gibran. kamu tentu mengenalku baik sekali. bagaimanalah mungkin aku menjelma menjadi mereka sementara aku tetap tak dapat menemukan bait puisi serta keping terakhir ceritaku.
bukankah demikian?
Tidak ada maksud aku mengusik kamu yang terlelap dibawah selimut yang kamu tarik menutupi helai rambut.
Nyatanya hujan yang mengusik aku yang berhayal tentang kamu. kenapa panas sekali, sementara diluar hujan turun membabi buta. aku penasaran, apakah kamu tokoh utama ceritaku tidak kepanasan ?
Eh, tidakkah kamu penasaran mengapa kini kamu terlalu sering masuk dalam ribuan sajakku?
Tahu kah kamu, aku telah berkawan dengan pencinta gila lainnya.
pencinta gila yang lebih suka mengheningkan cipta disaat mereka memuja sajaknya. Ah, tentu saja aku bukanlah dia. Bagaimanalah mungkin aku menjadi dia dengan bait bait puisi yang hilang dan keping cerita yang ketinggalan. tapi tetap saja aku tak mau kalah darinya. Kan kujadikan kamu objek di tiap klausaku seperti dia yang adalah objek di tiap klausanya.
aku bukan penyair,bukan. Tentu saja kamu mengenalku baik sekali. Karena tak perlu Chairil Anwar pun Khairil Gibran untuk cerita ini.
aku hanya sekedar harus temukan bait bait puisiku yang hilang serta keping terakhir puzzle cerita ini. Dan kamu, tetap objek dari tiap klausaku pun tokoh disetiap catatan kecilku.
02.02.2014
02.14