Senin, 14 April 2014

Duh,, Salah Siapa ?


Aihh, aku benci bulan keempat tahun ini
Jijik dan muak sekali
Melirik wajah-wajah najis berwibawa, lengkap dengan dasi pun peci..
Aihh, semua mendadak pasang foto berwajah ramah
Berseliweran, berserak di jalan raya macam artis saja. .
Katanya ingin makmur yang nomor dua,
Ingin sejahtera yang nomor tiga,
Ingin bebas sekolah yang nomor lima,
Aihh, janji-janji para bedebah !
Nurani ditukar dengan dua puluh lima ribu rupiah, jika beruntung seratus ribu..
Duh salah siapa ?
Kaum  papa atau kaum penguasa?
Duh salah siapa ?
Harga cabe dan tempe meroket, bawangpun turut serta..
Ibu-ibu mengeluh pada bapak yang bekerja penuh peluh
Anak-anak merengek ingin jajan pun beli buku
Duh, salah siapa jika nurani seharga seratus ribu ?
Tanyakan pada sopir angkot yang berseliweran tiap pagi, yang terkentut dan terseok membelah kota..
Atau tanyalah pada tukang ojek yang mangkal di prapatan depan..
Bukankah itu bukan salah si papa?
Hei kawan, daku tak pengaruhi kamu jadi golongan putih
Bisa mati daku ditangkap sang penguasa yang sibuk beriklan di televisi..
Daku ingin mengajak kamu mengevaluasi, berkoordinasi, dan mengkritisi
Ah, macam gaya bicara politisi saja !!

Bapak dan ibu yang berdasi pun berpeci, sungguh betapa kalian baik hati..
Demi kursi kau beli nurani kami,
Duh, apa ini salah kami ?
seratus ribu untuk cabe, tempe, bahkan buku..
Aih, salah siapa ?

                                                                                               
Bengkulu, 02 Maret 2014

Singapore Part I

Sebelumnya :D


Hari itu, Senin 8 Juli 2013 menjadi hari yang paling bersejarah bagiku. Karena hari itu, untuk pertama kalinya aku akan pergi jauh dari orang tua dan jauh dari tanah air dalam waktu yang tidak singkat, yakni dua bulan. Semuanya terjadi begitu saja, tak pernah terbayang olehku bahwa aku akan bertualang ke tempat asing yang tak pernah kudengar sebelumnya. Battambang, Cambodia. Semangat itu muncul dan semakin kuat saja ketika aku melihat ketiga teman seperjuangan yang sama-sama akan berangkat kesana. Ketiga orang yang tak pernah kukenal sebelumnya, ketiga orang yang hanya kukenal baik baru beberapa minggu sebelum keberangkatan. Ketiga orang yang kelak menjadi begitu berarti dalam perjalanan ini. Mereka Artisa Rinaldi Simamora (Aldi), Kak Ronald Muhammad (Kak Ronald), dan Novi Sylvia (Novi).
Kami berangkat dari Bandara Fatmawati Bengkulu sekitar pukul 10.30 WIB menuju Bandara Soetta Jakarta. Setelah peluk hangat dan berpamitan pada keluarga kami harus segera berangkat. Kali pertama aku harus meninggalkan keluargaku yang tak pernah jauh dariku sebelumnya. Pesawat yang kami tumpangi lepas landas, menembus awan tipis yang berarak beriringan. Aku tersenyum dalam lamunanku, terbayang olehku keindahan negeri seberang.
Kami mendarat ketika waktu menunjukkan waktu sekitar pukul 11.30 WIB. Bergegas turun dan mengantri ke bagian pengambilan bagasi. Kupandangi ketiga teman yang menyertaiku, ah, semoga semua sesuai harapan, harapku dalam hati.
Penerbangan selanjutnya adalah ke Singapore, karena tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Cambodia. Penerbangan masih cukup lama yakni pukul 17.45 WIB. Selain itu, penerbangan internasional ada di terminal 3 Soetta, artinya kami harus menggunakan shuttle bus untuk kesana. Setelah tiba di terminal 3 maka kami menghabiskan waktu untuk berkeliling dan mencari outlet penjual makanan untuk mengisi perut yang mulai keroncongan dan melaksanakan sholat zuhur.
Tak terasa waktu sudah mendekati pukul setengah enam, artinya sbentar lagi penerbangan lanjutan. Setelah beberapa saat check in dan melewati counter imigrasi akhirnya kami menaiki pesawat yang akan membawa kami terbang melintasi Negara ini, menuju Singapore. Negara yang menjadi salah satu list Negara yang paling ingin kukunjungi. Sebelum naik pesawat telah kuketik pesan untuk berpamitan pada keluarga. Airmataku menetes, aku terharu. Perjalanan pertamaku dan mengemban misi besar dari kampus, yang artinya juga membawa nama Indonesia pada dunia. Aku mengangguk takzim, tetapi mereka tidak tahu. Tak pernah tahu.
Penerbangan ke Singapore memakan waktu kurang lebih satu jam 45 menit. Kami tiba di Singapore pukul 20.30 waktu setempat. Waktu Singapore lebih cepat 1 jam dari Indonesia. Artinya di Indonesia baru pukul 19.30 WIB. Setelah turun dan melewati petugas imigrasi kami bergegas ke counter tempat pengambilan bagasi. Karena waktu itu kami menggunakan jasa airport transfer jadi kami tidak perlu mengambil bagasi karena akan langsung dikirimkan ke bandara internasional Phnom Penh, Cambodia. Setelah menerima tanda bukti klaim bagasi kami memutuskan untuk keluar dari bandara dan menikmati Singapore malam hari. Kami mencari stasiun MRT (Mass Rapid Transportation) yang ada di bandara kami membeli tiket perjalanan ke daerah Raffles, dimana tempat Merlion Park berada. Ikon Singapore yang terkenal itu.
Dan Ceritapun  mendadak lebayy .... *Evil Smile

Naik MRT bareng Novi Sylvia

Dari Changi Airport kami membeli tiket ke daerah Raffles seharga 2,20 dollar Singapore untuk pulang pergi. Kami tiba di stasiun MRT di daerah Raffles. Kami keluar dari stasiun dan berjalan kurang lebih sepuluh menit hingga tiba di depan hotel Fullerton yang amat sangat mewah. Setelah berfoto-foto ria kami melanjutkan perjalanan ke Merlion Park yang berada tidak jauh dari hotel tersebut. Setelah menyebrang dan menuruni anak tangga jembatan, akhirnya tibalah kami disana. Mimpi yang akhirnya terwujud, bisa mengunjungi ikon Singapore yang sangat terkenal dan tentunya dengan gratis .
Sesampainya disana kami berfoto-foto dengan puasnya. Berlatar patung singa yang kokoh serta megahnya hotel Marina Bay Sands yang berdiri tidak jauh dari sana. Konon hotel termewah di sana. Sungguh, indahnya Singapore malam hari. Negeri kecil yang menjadi favorit untuk berlibur dan berbelanja Negara ASEAN, khususnya Indonesia. 
 Night in Merlion Park :)

 Marina Bay Sands Hotel

Waktu tak terasa apabila kau menikmatinya, betul sekali kalimat itu. Tak terasa kami telah menghabiskan waktu beberapa jam disana. Waktu kira-kira menunjukkan pukul setengah dua belas waktu setempat. Kami harus segera kembali ke airport karena MRT terakhir pukul dua belas. Alhasil kami bergegas, berlari-lari kecil menuju stasiun. Sayangnya waktu  itu sepatu yang aku pakai ada heels nya, hiks.. lecet-lecet semua :(
Nah, waktu itu saking capeknya gak pakai istirahat dari awal sampai tiba di Changi Airport sampai keliling Merlion park, turun naik tangga stasiun jadilah kami berempat melakukan hal bodoh. Ceritanya waktu itu kita udah dapat MRT  ke Changi Airport. Dari stasiun di Raffless kami harus melewati banyak stasiun untuk tiba di stasiun terakhir di bandara. Nah, seharusnya kami harus turun di stasiun di Tanah Merah dan berganti MRT lain untuk ke bandara. Saking capek plus ngantuk kami lupa turun, jadi tuh MRT bawa kita ke jalur lain, stasiun di Pasir Ris. Waktu itu baru sadar waktu ada suara pemberitahuan pintu kereta MRT ditutup di stasiun tanah Merah, perasaan ada yang ganjil. Kami berempat Cuma liat-liatan doang, tapi nggak ada yang angkat suara. Kami berempat baru sadar saat MRT berhenti di stasiun Pasir Ris yang adalah stasiun terakhir di jalur itu. Kami berempat nggak berhenti ketawa waktu sama-sama sadar kalau kami salah jalur kereta. Akhirnya kami nggak turun-turun sampai itu kereta balik lagi sambil saling ngingatin buat turun saat kereta sampai di stasiun Tanah Merah. Beruntung saat turun nggak lama kemudian kereta untuk ke bandara lewat, kereta itu kereta terakhir malam itu. Kami akhirnya naik menuju bandara. Sesampainya di bandara langsung istirahat sambil asyik internetan dari WiFi bandara.

Di Changi memang menyediakan WiFi gratis, beda sama Soetta. Kita hanya tinggal pergi ke bagian informasi dan menunjukkan passport, petugasnya akan ngasih password buat internetan gratis. Fasilitas bandara juga lengkap banget. Ada kursi pijat pula, si Aldi sama Kak Ronald sampai nyobain beberapa kali. Sayang aku nggak sempat nyobain. Outlet barang-barang bagus juga banyak. Outlet makanan juga lengkap, tapi yah harganya agak kurang cocok di kantong orang Indonesia kere kayak kita berempat J

Satu lagi, kalau di Singapore air mineral mahal banget. Waktu itu sempat beli air mineral ukuran botol yang kecil harganya SGD 1,8, kira-kira sekitar 14.000 an rupiah di kurs saat itu. Tapi bandara menyediakan keran air bersih yang bisa langsung diminum. Nah, waktu itu aku belum tahu sama itu keran air. Jadi waktu pertama kali liat jadi kepo mau cobain. Bingung gimana caranya, mau tanya kanan kiri nggak ada yang kenal pada sibuk sendiri. Jadi waktu itu coba sendiri. Kerannya beda banget, nggak ada puter-puteran kayak di Indonesia. Jadilah melengok penasaran, ehh tiba-tiba airnya muncrat sendiri ke wajah. Karena kaget, jadinya mundur ke belakang. Tapi airnya tiba-tiba berhenti muncrat. Jadilah kesimpulan saya, airnya akan keluar sendiri kalau kita mendekat. Girang banget waktu itu, jadi tinggal nganga doang, Airnya dingin banget, kayak dari kulkas, haha. Jadilah waktu itu rame-rame menuhin botol minum buat bekal

Bukan Cuma air mineral yang mahal, Singapore juga terkenal pelit banget sama air bersih. Hampir semua toilet di Changi nggak pakai air. Toiletnya memang bersih dan nyaman, tapi nggak ada air buat nyiram ataupun semprotan yang biasa di pakai di toilet duduk selain air buat ngalirin kotoran di toilet. Yang ada hanya gulungan tisu gede yang di taruh di samping toilet. Pertamanya shock banget, tapi ya lama-lama maklum juga. Nggak heran juga sih, Negara ini memang rada susah air bersih. Tapi, bingungnya waktu mau sholat, kan mesti ngambil wudhu tuh, sementara nggak ada keran air. Mushola juga susah di temuin, entah mungkin karena saking luasnya itu bandara jadi nggak ketemu. Alhasil kami sholat di lantai atas bandara di tempat yang cukup sepi.
Malam itu kami harus beristirahat. Tapi mata tetap belum bisa terpejam. Pada sibuk sendiri dengan gadget masing-masing menikmati WiFi gratis yang ngebut abis. Kira-kira jam dua lewat waktu setempat baru bisa tidur. Sementara kami harus bangun jam setengah lima buat check in, sholat subuh dan lain-lain karena penerbangan ke Phnom Penh, Cambodia sekitar pukul 06.50 waktu setempat. Super duper capek, plus ngerasain jadi gembel di negeri orang, karena tidurnya di karpet dekat kursi tunggu bandara. pada berjejer kayak ikan asin, hahaa


Ini Gaya Gembel Elit di Changi Airport :D 

Changi Airport memang top. Singapore memang istimewa. Negara kecil yang bersih dan teratur. Seandainya Indonesia bisa belajar lebih banyak dari Negara kecil ini. Pasti Indonesia bisa lebih baik dan tidak sesemrawut seperti sekarang. Tapi seindah-indahnya negeri orang, masih lebih enak negeri sendiri. Memang, dilihat dari beberapa hal Singapore lebih baik, namun di beberapa sisi Indonesia tetap lebih baik. Terutama dari warganya. Indonesia terkenal dengan keramah tamahannya, itu bukan mitos. Jika dibandingkan dengan warga di Singapore, menurut saya pribadi  Indonesia jauh lebih baik. Masyarakat di Singapore cenderung agak individualis dan tidak peduli dengan orang-orang sekitar. Memang beberapa diantaranya masih ramah dan menyapa, namun lebih banyak tidak. Contohnya saat di MRT, semua sibuk sendiri dengan gadget masing-masing, Ada yang bermesraan dengan pasangannya di dekat pintu, ada yang asyik telepon, bahkan ada yang tidur sendirian di ujung kursi. Ada beberapa kejadian lagi yang nanti bakalan aku ceritain nantinya.

Kesimpulannya kali ini, boleh saja kita bangga akan Negara lain dengan segala kehebatannya. Namun ingatlah, negeri sendiri tetaplah selalu di hati. Aku Cinta Singapore, Aku Lebih Cinta Indonesia :D

 To be Continue :D