Sebelumnya :D
Hari itu, Senin 8 Juli 2013 menjadi hari
yang paling bersejarah bagiku. Karena hari itu, untuk pertama kalinya aku akan
pergi jauh dari orang tua dan jauh dari tanah air dalam waktu yang tidak
singkat, yakni dua bulan. Semuanya terjadi begitu saja, tak pernah terbayang
olehku bahwa aku akan bertualang ke tempat asing yang tak pernah kudengar
sebelumnya. Battambang, Cambodia. Semangat itu muncul dan semakin kuat saja
ketika aku melihat ketiga teman seperjuangan yang sama-sama akan berangkat
kesana. Ketiga orang yang tak pernah kukenal sebelumnya, ketiga orang yang
hanya kukenal baik baru beberapa minggu sebelum keberangkatan. Ketiga orang
yang kelak menjadi begitu berarti dalam perjalanan ini. Mereka Artisa Rinaldi Simamora (Aldi), Kak Ronald Muhammad (Kak Ronald), dan Novi Sylvia (Novi).
Kami berangkat dari Bandara Fatmawati
Bengkulu sekitar pukul 10.30 WIB menuju Bandara Soetta Jakarta. Setelah peluk
hangat dan berpamitan pada keluarga kami harus segera berangkat. Kali pertama
aku harus meninggalkan keluargaku yang tak pernah jauh dariku sebelumnya.
Pesawat yang kami tumpangi lepas landas, menembus awan tipis yang berarak
beriringan. Aku tersenyum dalam lamunanku, terbayang olehku keindahan negeri
seberang.
Kami mendarat ketika waktu menunjukkan
waktu sekitar pukul 11.30 WIB. Bergegas turun dan mengantri ke bagian
pengambilan bagasi. Kupandangi ketiga teman yang menyertaiku, ah, semoga semua
sesuai harapan, harapku dalam hati.
Penerbangan selanjutnya adalah ke
Singapore, karena tidak ada penerbangan langsung dari Jakarta ke Cambodia.
Penerbangan masih cukup lama yakni pukul 17.45 WIB. Selain itu, penerbangan
internasional ada di terminal 3 Soetta, artinya kami harus menggunakan shuttle
bus untuk kesana. Setelah tiba di terminal 3 maka kami menghabiskan waktu untuk
berkeliling dan mencari outlet penjual makanan untuk mengisi perut yang mulai
keroncongan dan melaksanakan sholat zuhur.
Tak terasa waktu sudah mendekati pukul
setengah enam, artinya sbentar lagi penerbangan lanjutan. Setelah beberapa saat
check in dan melewati counter imigrasi akhirnya kami menaiki pesawat yang akan
membawa kami terbang melintasi Negara ini, menuju Singapore. Negara yang
menjadi salah satu list Negara yang paling ingin kukunjungi. Sebelum naik
pesawat telah kuketik pesan untuk berpamitan pada keluarga. Airmataku menetes,
aku terharu. Perjalanan pertamaku dan mengemban misi besar dari kampus, yang
artinya juga membawa nama Indonesia pada dunia. Aku mengangguk takzim, tetapi
mereka tidak tahu. Tak pernah tahu.
Penerbangan ke
Singapore memakan waktu kurang lebih satu jam 45 menit. Kami tiba di Singapore
pukul 20.30 waktu setempat. Waktu Singapore lebih cepat 1 jam dari Indonesia.
Artinya di Indonesia baru pukul 19.30 WIB. Setelah turun dan melewati petugas
imigrasi kami bergegas ke counter tempat pengambilan bagasi. Karena waktu itu
kami menggunakan jasa airport transfer jadi kami tidak perlu mengambil bagasi
karena akan langsung dikirimkan ke bandara internasional Phnom Penh, Cambodia.
Setelah menerima tanda bukti klaim bagasi kami memutuskan untuk keluar dari
bandara dan menikmati Singapore malam hari. Kami mencari stasiun MRT (Mass
Rapid Transportation) yang ada di bandara kami membeli tiket perjalanan ke
daerah Raffles, dimana tempat Merlion Park berada. Ikon Singapore yang terkenal
itu.
Dan Ceritapun mendadak lebayy .... *Evil Smile

Naik MRT bareng Novi Sylvia
Dari
Changi Airport kami membeli tiket ke daerah Raffles seharga 2,20 dollar
Singapore untuk pulang pergi. Kami tiba di stasiun MRT di daerah Raffles. Kami keluar
dari stasiun dan berjalan kurang lebih sepuluh menit hingga tiba di depan hotel
Fullerton yang amat sangat mewah. Setelah berfoto-foto ria kami melanjutkan
perjalanan ke Merlion Park yang berada tidak jauh dari hotel tersebut. Setelah menyebrang
dan menuruni anak tangga jembatan, akhirnya tibalah kami disana. Mimpi yang akhirnya terwujud, bisa mengunjungi ikon
Singapore yang sangat terkenal dan tentunya dengan gratis .
Sesampainya
disana kami berfoto-foto dengan puasnya. Berlatar patung singa yang kokoh serta
megahnya hotel Marina Bay Sands yang berdiri tidak jauh dari sana. Konon hotel termewah
di sana. Sungguh, indahnya Singapore malam hari. Negeri kecil yang menjadi favorit
untuk berlibur dan berbelanja Negara ASEAN, khususnya Indonesia.
Night in Merlion Park :)
Marina Bay Sands Hotel
Waktu tak terasa
apabila kau menikmatinya, betul sekali kalimat itu. Tak terasa kami telah menghabiskan
waktu beberapa jam disana. Waktu kira-kira menunjukkan pukul setengah dua belas
waktu setempat. Kami harus segera kembali ke airport karena MRT terakhir pukul
dua belas. Alhasil kami bergegas, berlari-lari kecil menuju stasiun. Sayangnya waktu
itu sepatu yang aku pakai ada heels nya,
hiks.. lecet-lecet semua :(
Nah,
waktu itu saking capeknya gak pakai istirahat dari awal sampai tiba di Changi
Airport sampai keliling Merlion park, turun naik tangga stasiun jadilah kami
berempat melakukan hal bodoh. Ceritanya waktu itu kita udah dapat MRT ke Changi Airport. Dari stasiun di Raffless
kami harus melewati banyak stasiun untuk tiba di stasiun terakhir di bandara. Nah,
seharusnya kami harus turun di stasiun di Tanah Merah dan berganti MRT lain
untuk ke bandara. Saking capek plus ngantuk kami lupa turun, jadi tuh MRT bawa
kita ke jalur lain, stasiun di Pasir Ris. Waktu itu baru sadar waktu ada suara pemberitahuan
pintu kereta MRT ditutup di stasiun tanah Merah, perasaan ada yang ganjil. Kami
berempat Cuma liat-liatan doang, tapi nggak ada yang angkat suara. Kami berempat
baru sadar saat MRT berhenti di stasiun Pasir Ris yang adalah stasiun terakhir
di jalur itu. Kami berempat nggak berhenti ketawa waktu sama-sama sadar kalau
kami salah jalur kereta. Akhirnya kami nggak turun-turun sampai itu kereta
balik lagi sambil saling ngingatin buat turun saat kereta sampai di stasiun
Tanah Merah. Beruntung saat turun nggak lama kemudian kereta untuk ke bandara
lewat, kereta itu kereta terakhir malam itu. Kami akhirnya naik menuju bandara.
Sesampainya di bandara langsung istirahat sambil asyik internetan dari WiFi
bandara.
Di
Changi memang menyediakan WiFi gratis, beda sama Soetta. Kita hanya tinggal
pergi ke bagian informasi dan menunjukkan passport, petugasnya akan ngasih
password buat internetan gratis. Fasilitas bandara juga lengkap banget. Ada kursi
pijat pula, si Aldi sama Kak Ronald sampai nyobain beberapa kali. Sayang aku
nggak sempat nyobain. Outlet barang-barang bagus juga banyak. Outlet makanan
juga lengkap, tapi yah harganya agak kurang cocok di kantong orang Indonesia
kere kayak kita berempat J
Satu
lagi, kalau di Singapore air mineral mahal banget. Waktu itu sempat beli air mineral
ukuran botol yang kecil harganya SGD 1,8, kira-kira sekitar 14.000 an rupiah di
kurs saat itu. Tapi bandara menyediakan keran air bersih yang bisa langsung
diminum. Nah, waktu itu aku belum tahu sama itu keran air. Jadi waktu pertama
kali liat jadi kepo mau cobain. Bingung gimana caranya, mau tanya kanan kiri
nggak ada yang kenal pada sibuk sendiri. Jadi waktu itu coba sendiri. Kerannya beda
banget, nggak ada puter-puteran kayak di Indonesia. Jadilah melengok penasaran,
ehh tiba-tiba airnya muncrat sendiri ke wajah. Karena kaget, jadinya mundur ke
belakang. Tapi airnya tiba-tiba berhenti muncrat. Jadilah kesimpulan saya,
airnya akan keluar sendiri kalau kita mendekat. Girang banget waktu itu, jadi
tinggal nganga doang, Airnya dingin banget, kayak dari kulkas, haha. Jadilah waktu
itu rame-rame menuhin botol minum buat bekal
Bukan
Cuma air mineral yang mahal, Singapore juga terkenal pelit banget sama air
bersih. Hampir semua toilet di Changi nggak pakai air. Toiletnya memang bersih
dan nyaman, tapi nggak ada air buat nyiram ataupun semprotan yang biasa di
pakai di toilet duduk selain air buat ngalirin kotoran di toilet. Yang ada
hanya gulungan tisu gede yang di taruh di samping toilet. Pertamanya shock
banget, tapi ya lama-lama maklum juga. Nggak heran juga sih, Negara ini memang
rada susah air bersih. Tapi, bingungnya waktu mau sholat, kan mesti ngambil
wudhu tuh, sementara nggak ada keran air. Mushola juga susah di temuin, entah
mungkin karena saking luasnya itu bandara jadi nggak ketemu. Alhasil kami sholat
di lantai atas bandara di tempat yang cukup sepi.
Malam
itu kami harus beristirahat. Tapi mata tetap belum bisa terpejam. Pada
sibuk sendiri dengan gadget masing-masing menikmati WiFi gratis yang
ngebut abis. Kira-kira jam dua lewat waktu setempat baru bisa tidur.
Sementara kami harus bangun jam setengah lima buat check in, sholat
subuh dan lain-lain karena penerbangan ke Phnom Penh, Cambodia sekitar
pukul 06.50 waktu setempat. Super duper capek, plus ngerasain jadi
gembel di negeri orang, karena tidurnya di karpet dekat kursi tunggu
bandara. pada berjejer kayak ikan asin, hahaa
Ini Gaya Gembel Elit di Changi Airport :D
Changi
Airport memang top. Singapore memang istimewa. Negara kecil yang bersih dan
teratur. Seandainya Indonesia bisa belajar lebih banyak dari Negara kecil ini. Pasti
Indonesia bisa lebih baik dan tidak sesemrawut seperti sekarang. Tapi seindah-indahnya
negeri orang, masih lebih enak negeri sendiri. Memang, dilihat dari beberapa
hal Singapore lebih baik, namun di beberapa sisi Indonesia tetap lebih baik. Terutama
dari warganya. Indonesia terkenal dengan keramah tamahannya, itu bukan mitos. Jika
dibandingkan dengan warga di Singapore, menurut saya pribadi Indonesia jauh lebih baik. Masyarakat di
Singapore cenderung agak individualis dan tidak peduli dengan orang-orang
sekitar. Memang beberapa diantaranya masih ramah dan menyapa, namun lebih
banyak tidak. Contohnya saat di MRT, semua sibuk sendiri dengan gadget
masing-masing, Ada yang bermesraan dengan pasangannya di dekat pintu, ada yang
asyik telepon, bahkan ada yang tidur sendirian di ujung kursi. Ada beberapa
kejadian lagi yang nanti bakalan aku ceritain nantinya.
Kesimpulannya
kali ini, boleh saja kita bangga akan Negara lain dengan segala kehebatannya. Namun
ingatlah, negeri sendiri tetaplah selalu di hati. Aku Cinta Singapore, Aku Lebih
Cinta Indonesia :D
To be Continue :D