Aku menyeruput kopi hitam pesananku yang telah diantarkan pelayan
setengah jam yang lalu. Kopi pahit itu telah dingin, sedingin udara pagi yang
kini seolah semakin menusuk tulang, maklum hari sedang mendung. Pahit, sepahit
kenyataan yang belakangan mulai datang silih berganti. Aku menarik napas dalam,
melirik jam dinding klasik yang dipenuhi oleh ukiran indah, disudut ruangan
kafe ini. Konsep yang menarik, menawarkan kedamaian. Tapi bukan itu tujuanku
datang kemari, bukan itu. Aku sedang menunggu seseorang.
Sudah satu setengah jam aku menunggu.
Tidak, dia tidak datang terlambat. Akulah yang memaksa datang lebih cepat. Bersiap-siap
dengan berbagai kemungkinan. Menimbang-nimbang perangai mana yang kelak harus
kupakai untuk menghadapinya. Sibuk mengira-ngira apa yang akan terjadi nanti. Menerka-nerka
bagaimana arah pembicaraan kami nanti. Ah, selalu saja begini. Hatiku selalu
saja diracuni oleh harapan-harapan baik, semu.
Pintu kafe terbuka, sesaat hatiku seolah berhenti berdetak. Sepasang kaki
melangkah masuk, diikuti sepasang kaki yang lainnya. Aku mendesah pelan, bukan,
bukan dia. Mereka pasangan muda yang nampak sangat bahagia. Perlahan menuju
meja bundar tepat disebrang mejaku dan terlihat sangat mesra. Ah, aku membuang
muka sebal. Menatap keluar jendela yang nampaknya mulai sibuk. Kulirik arlojiku,
masih ada lima belas menit dari waktu yang dijanjikan.
“ Sekar..” suara berat itu menyapa. Aku hapal mati suara itu. Tiga tahun
aku mengenalnya dan tak sedikitpun aku melupakan suara itu. Aku menoleh, dan
tersenyum. Meskipun sebenarnya senyuman itu lebih mirip seringaian.
“ Sudah lama menunggu?” lanjutnya
Aku menggeleng, tidak. Apalah artinya satu setengah jam bila dibandingkan
bertahun-tahun sebelumnya aku menunggu. Entah, berhadapan dengannya selalu
membuat wajahku bersemu merah, bibirku serupa terkunci.
“ Apa yang ingin kau sampaikan hingga memaksaku bangun sepagi ini Sekar,
awas ya kalau tidak penting kujitak kau” ia mencoba bergurau, meski yaah
wajahnya tetap saja datar.
Aku mencubit lengannya, membuatnya meringis kesakitan. Aku tahu ia
berbohong, bahkan tanganku hanya menyentuh kemeja cokelatnya. Ia memang pandai
berpura-pura seperti yang ia lakukan selama ini.
“ Aku akan pergi Danar” ujarku pelan
“ Kemana? Kau mau ku antar?” ujarnya santai, seolah aku baru saja
mengatakan kalau aku hanya sekedar ingin pergi belanja.
Oh tuhan, lihatlah pria dihadapanku ini. Dia memang tidak pernah peka,
ataukah berpura-pura tidak peka. Dia memang tidak pernah mengerti, ataukah
memang berpura-pura tidak mengerti. Tidakkah ia mendengar ada yang berbeda dari
nada suaraku. Lagi-lagi aku mendesah pelan, menggeleng tak percaya aku mampu
bertahan selama ini.
“ Ke Swedia, Danar” Kulirik wajahnya, ekspresinya sama sekali tidak
berubah. Ah, pria ini memang nyatanya sangat pandai berpura-pura. Ataukah dia
memang tak pernah menganggapku seistimewa itu.
“ Kapan?”
“ Lusa aku berangkat”
“ Berapa lama?” ia bertanya masih saja dengan santai
“ Entah, mungkin dua, tiga atau lima tahun, atau mungkin tidak kembali”
“ Kenapa?”
“ Far1, ditugaskan
kembali kesana, tempat kelahirannya, dan Far
juga berpikir aku bisa melanjutkan studi masterku disana”
“ Maksudku kenapa kau baru memberitahuku sekarang? Tentu rencana sebesar
ini sudah kau ketahui jauh-jauh hari bukan?”
Aku menggeleng, kenapa? Entah. Aku juga tidak tahu. Apa karena kejadian
dirumahnya beberapa hari yang lalu. Aku juga baru memutuskan semuanya semalam. Lalu
kemudian berpikir untuk mengajaknya bertemu pagi ini. Aku mengalihkan pandangan
keluar jendela, diluar mulai gerimis.
“ Baik, pergilah” Ujarnya tiba-tiba
Aku menoleh, menatapnya. Ia yang juga tengah menatap nanar keluar jendela.
Seperti memikirkan sesuatu dan aku tidak pernah berhasil menyelami pikirannya. Seperti
aku yang tak pernah berhasil pula menyentuh hatinya.
“ Kupikir kau akan memintaku tetap tinggal, Danar. Nyatanya kau memang
ingin aku pergi”
“ Apa maksudmu Sekar, bukankah kau yang benar-benar ingin pergi?”
“ Ya, untuk sekarang sepertinya aku benar-benar ingin pergi”
“ Maksudmu, sebelumnya kau menolak pergi?”
“ Entahlah, nyatanya aku memang tidak pernah istimewa bagimu”
“ Apa maksudmu Sekar, berhentilah bertingkah menyebalkan dengan terus
membicarakan hal ini”
“ Kau bilang aku menyebalkan? Nyatanya kaulah yang selalu bertingkah
menyebalkan Danar, Kau!! Kau terlalu pandai berpura-pura, kau terlalu pandai
bermain peran” Nada suaraku mulai meninggi.
“ Kita selalu membicarakan hal ini berulang-ulang, kumohon jangan terus
meributkan hal-hal sepele, Sekar”
“ Sepele kau bilang, ya Tuhan. Bertahun-tahun aku menyukaimu, menunggu
dan berharap kau juga menyukaiku. Bertahun-tahun aku seolah selalu bersaing
dengan bayangan masa lalumu yang entah aku tak pernah tahu siapa wanita itu,
namun aku tetap mencoba bertahan Danar. Bertahun-tahun aku selalu mendengar kau
bercerita tentang mimpi-mimpi dan harapanmu, namun pernahkah kau mau mendengar
kubercerita tentang mimpi-mimpi dan harapanku? Semuanya selalu tentang kau dan
bayangan dari masa lalumu. Sampai kapan Danar, sampai kapan?”
“ Sekar, kau istimewa. Bagiku kau selalu istimewa” ia meraih tanganku
“ Tidak Danar, tidak. Aku tidak pernah bisa menang dari masa lalumu. Kau
tidak pernah menganggapku istimewa, tidak pernah”
Aku melepaskan genggaman tangannya, merapikan tasku dan beranjak pergi. Meninggalkannya,
meninggalkan semua kepahitan dibelakang. Aku harus melangkah maju, dan lihatlah,
Pria itu tetap disana, tak berniat menyusul. Nyatanya aku memang tidak pernah
istimewa dimatanya.
Aku memandangi sekeliling dari bangku taman yang kududuki, orang-orang
mempercepat langkah agar lekas sampai ketujuan karena gerimis kian membesar. Tapi
aku tidak peduli, aku malah berharap gerimis kian menderas. Sudah lama kota
kami tidak diguyur hujan di pagi hari seperti ini.
Gerimis memaksaku mengingat kembali beberapa potongan kenangan. Aku mendadak
ingat beberapa hari lalu saat aku pergi kerumah Danar ingin memberitahukan
kabar ini. Setelah dipersilahkan masuk oleh ibunya yang sudah kukenal baik, aku
melangkah menuju kamarnya yang saat itu terbuka sedikit. Kulihat pria itu
menangis, memandangi foto wanita yang sangat kukenali, meski hanya dari beberapa ceritanya saja. Setelah kudengar gumaman
disela isak tangisnya, akupun mengerti. Itulah sebabnya, itulah alasannya
mengapa selama beberapa tahun ini hubungan kami tidak ada perkembangan. Ia hanya
membalas dengan berkata ia juga menyukaiku, namun entahlah. Nyatanya ia masih
saja dan akan selalu terikat dengan seseorang dimasa lalunya. Masa lalu yang
tidak pernah bisa kukalahkan. Saat itu aku memutuskan pulang, menunda
memberitahukan berita itu. Berharap hari esok lebih berbaik hati padaku.
Ah, aku mendesah pelan. Mengeluarkan ponsel disaku celanaku, dan
mengetikkan nomer yang kuhapal diluar kepala.
“ Hej2, Far. Sekar
jadi ikut Far ke Swedia. Nej3, Sekar serius Far. Far tolong urus semuanya ya. Oke, Tack sa mycket4, Far”
Gerimis semakin menderas saja. Aku mendongakkan kepala membiarkan
bulir-bulir air menyentuh wajahku. Ah, akhirnya hujan turun setelah mendung
beberapa hari ini. Membawa semua potongan kenangan dan perasaan ini. Cukup, semua perasaan ini harus diakhiri. Sekarang
pergilah !
Note :
1. Salah satu sebutan untuk ayah di Swedia
2. Hallo
3. Tidak
4. Terima kasih banyak