Senin, 10 November 2014

Cukup, Pergilah !



Aku menyeruput kopi hitam pesananku yang telah diantarkan pelayan setengah jam yang lalu. Kopi pahit itu telah dingin, sedingin udara pagi yang kini seolah semakin menusuk tulang, maklum hari sedang mendung. Pahit, sepahit kenyataan yang belakangan mulai datang silih berganti. Aku menarik napas dalam, melirik jam dinding klasik yang dipenuhi oleh ukiran indah, disudut ruangan kafe ini. Konsep yang menarik, menawarkan kedamaian. Tapi bukan itu tujuanku datang kemari, bukan itu. Aku sedang menunggu seseorang.
 Sudah satu setengah jam aku menunggu. Tidak, dia tidak datang terlambat. Akulah yang memaksa datang lebih cepat. Bersiap-siap dengan berbagai kemungkinan. Menimbang-nimbang perangai mana yang kelak harus kupakai untuk menghadapinya. Sibuk mengira-ngira apa yang akan terjadi nanti. Menerka-nerka bagaimana arah pembicaraan kami nanti. Ah, selalu saja begini. Hatiku selalu saja diracuni oleh harapan-harapan baik, semu.
Pintu kafe terbuka, sesaat hatiku seolah berhenti berdetak. Sepasang kaki melangkah masuk, diikuti sepasang kaki yang lainnya. Aku mendesah pelan, bukan, bukan dia. Mereka pasangan muda yang nampak sangat bahagia. Perlahan menuju meja bundar tepat disebrang mejaku dan terlihat sangat mesra. Ah, aku membuang muka sebal. Menatap keluar jendela yang nampaknya mulai sibuk. Kulirik arlojiku, masih ada lima belas menit dari waktu yang dijanjikan.

“ Sekar..” suara berat itu menyapa. Aku hapal mati suara itu. Tiga tahun aku mengenalnya dan tak sedikitpun aku melupakan suara itu. Aku menoleh, dan tersenyum. Meskipun sebenarnya senyuman itu lebih mirip seringaian.
“ Sudah lama menunggu?” lanjutnya
Aku menggeleng, tidak. Apalah artinya satu setengah jam bila dibandingkan bertahun-tahun sebelumnya aku menunggu. Entah, berhadapan dengannya selalu membuat wajahku bersemu merah, bibirku serupa terkunci.
“ Apa yang ingin kau sampaikan hingga memaksaku bangun sepagi ini Sekar, awas ya kalau tidak penting kujitak kau” ia mencoba bergurau, meski yaah wajahnya tetap saja datar.
Aku mencubit lengannya, membuatnya meringis kesakitan. Aku tahu ia berbohong, bahkan tanganku hanya menyentuh kemeja cokelatnya. Ia memang pandai berpura-pura seperti yang ia lakukan selama ini.
“ Aku akan pergi Danar” ujarku pelan
“ Kemana? Kau mau ku antar?” ujarnya santai, seolah aku baru saja mengatakan kalau aku hanya sekedar ingin pergi belanja.
Oh tuhan, lihatlah pria dihadapanku ini. Dia memang tidak pernah peka, ataukah berpura-pura tidak peka. Dia memang tidak pernah mengerti, ataukah memang berpura-pura tidak mengerti. Tidakkah ia mendengar ada yang berbeda dari nada suaraku. Lagi-lagi aku mendesah pelan, menggeleng tak percaya aku mampu bertahan selama ini.
“ Ke Swedia, Danar” Kulirik wajahnya, ekspresinya sama sekali tidak berubah. Ah, pria ini memang nyatanya sangat pandai berpura-pura. Ataukah dia memang tak pernah menganggapku seistimewa itu.
“ Kapan?”
“ Lusa aku berangkat”
“ Berapa lama?” ia bertanya masih saja dengan santai
“ Entah, mungkin dua, tiga atau lima tahun, atau mungkin tidak kembali”
“ Kenapa?”
Far1, ditugaskan kembali kesana, tempat kelahirannya, dan Far juga berpikir aku bisa melanjutkan studi masterku disana”
“ Maksudku kenapa kau baru memberitahuku sekarang? Tentu rencana sebesar ini sudah kau ketahui jauh-jauh hari bukan?”
Aku menggeleng, kenapa? Entah. Aku juga tidak tahu. Apa karena kejadian dirumahnya beberapa hari yang lalu. Aku juga baru memutuskan semuanya semalam. Lalu kemudian berpikir untuk mengajaknya bertemu pagi ini. Aku mengalihkan pandangan keluar jendela, diluar mulai gerimis.
“ Baik, pergilah” Ujarnya tiba-tiba
Aku menoleh, menatapnya. Ia yang juga tengah menatap nanar keluar jendela. Seperti memikirkan sesuatu dan aku tidak pernah berhasil menyelami pikirannya. Seperti aku yang tak pernah berhasil pula menyentuh hatinya.
“ Kupikir kau akan memintaku tetap tinggal, Danar. Nyatanya kau memang ingin aku pergi”
“ Apa maksudmu Sekar, bukankah kau yang benar-benar ingin pergi?”
“ Ya, untuk sekarang sepertinya aku benar-benar ingin pergi”
“ Maksudmu, sebelumnya kau menolak pergi?”
“ Entahlah, nyatanya aku memang tidak pernah istimewa bagimu”
“ Apa maksudmu Sekar, berhentilah bertingkah menyebalkan dengan terus membicarakan hal ini”
“ Kau bilang aku menyebalkan? Nyatanya kaulah yang selalu bertingkah menyebalkan Danar, Kau!! Kau terlalu pandai berpura-pura, kau terlalu pandai bermain peran” Nada suaraku mulai meninggi.
“ Kita selalu membicarakan hal ini berulang-ulang, kumohon jangan terus meributkan hal-hal sepele, Sekar”
“ Sepele kau bilang, ya Tuhan. Bertahun-tahun aku menyukaimu, menunggu dan berharap kau juga menyukaiku. Bertahun-tahun aku seolah selalu bersaing dengan bayangan masa lalumu yang entah aku tak pernah tahu siapa wanita itu, namun aku tetap mencoba bertahan Danar. Bertahun-tahun aku selalu mendengar kau bercerita tentang mimpi-mimpi dan harapanmu, namun pernahkah kau mau mendengar kubercerita tentang mimpi-mimpi dan harapanku? Semuanya selalu tentang kau dan bayangan dari masa lalumu. Sampai kapan Danar, sampai kapan?”
“ Sekar, kau istimewa. Bagiku kau selalu istimewa” ia meraih tanganku
“ Tidak Danar, tidak. Aku tidak pernah bisa menang dari masa lalumu. Kau tidak pernah menganggapku istimewa, tidak pernah”
Aku melepaskan genggaman tangannya, merapikan tasku dan beranjak pergi. Meninggalkannya, meninggalkan semua kepahitan dibelakang. Aku harus melangkah maju, dan lihatlah, Pria itu tetap disana, tak berniat menyusul. Nyatanya aku memang tidak pernah istimewa dimatanya.
Aku memandangi sekeliling dari bangku taman yang kududuki, orang-orang mempercepat langkah agar lekas sampai ketujuan karena gerimis kian membesar. Tapi aku tidak peduli, aku malah berharap gerimis kian menderas. Sudah lama kota kami tidak diguyur hujan di pagi hari seperti ini.
Gerimis memaksaku mengingat kembali beberapa potongan kenangan. Aku mendadak ingat beberapa hari lalu saat aku pergi kerumah Danar ingin memberitahukan kabar ini. Setelah dipersilahkan masuk oleh ibunya yang sudah kukenal baik, aku melangkah menuju kamarnya yang saat itu terbuka sedikit. Kulihat pria itu menangis, memandangi foto wanita yang sangat kukenali, meski hanya dari beberapa ceritanya saja. Setelah kudengar gumaman disela isak tangisnya, akupun mengerti. Itulah sebabnya, itulah alasannya mengapa selama beberapa tahun ini hubungan kami tidak ada perkembangan. Ia hanya membalas dengan berkata ia juga menyukaiku, namun entahlah. Nyatanya ia masih saja dan akan selalu terikat dengan seseorang dimasa lalunya. Masa lalu yang tidak pernah bisa kukalahkan. Saat itu aku memutuskan pulang, menunda memberitahukan berita itu. Berharap hari esok lebih berbaik hati padaku.
Ah, aku mendesah pelan. Mengeluarkan ponsel disaku celanaku, dan mengetikkan nomer yang kuhapal diluar kepala.
Hej2, Far. Sekar jadi ikut Far ke Swedia. Nej3, Sekar serius Far. Far tolong urus semuanya ya. Oke, Tack sa mycket4, Far”
Gerimis semakin menderas saja. Aku mendongakkan kepala membiarkan bulir-bulir air menyentuh wajahku. Ah, akhirnya hujan turun setelah mendung beberapa hari ini. Membawa semua potongan kenangan dan perasaan ini. Cukup, semua perasaan ini harus diakhiri. Sekarang pergilah !


Note :
1.      Salah satu sebutan untuk ayah di Swedia
2.      Hallo
3.      Tidak
4.      Terima kasih banyak