Bintang, namanya Bintang. Laki-laki 21 tahun yang melankolis. Itu
kesimpulan yang akhirnya kudapatkan. Sebenarnya kesimpulan yang sedikit
kupaksakan. Lantaran aku tidak pernah tahu yang lainnya. Lantaran aku memang
tidak pernah mengenalnya lebih jauh. Lebih tepatnya tidak berani.
Kututup laptop yang sudah sedari tadi menyala. Tentunya setelah
sebelumnya sing out dari akun sosial mediaku dan mematikannya. Kulirik jam
dinding spongebob berwarna kuning yang terpaku di dinding. Jarumnya menunjukkan
pukul dua lebih tujuh belas menit dini hari. Mataku mulai berair menuntut
haknya untuk di pejamkan. Kepalaku juga mulai terasa berat. Sayup-sayup
kudengar dengkuran halus dari Diah teman sekamarku yang telah terlelap sedari
tadi. Aku berharap dapat segera menyusulnya menikmati empuknya kasur busa yang
baru kami ganti seminggu yang lalu. Tentunya tidur dengan nyenyak, tanpa mimpi
yang beberapa hari belakangan ini menghantui. Mimpi tentang sosok itu.
***
Selesai mandi aku melangkah tergesa melewati lorong deretan kamar kos
kami. Berkali-kali merutuki jarak kamar mandi dengan kamarku yang terlalu jauh.
Heran, mengapa tidak dibuatkan saja kamar mandi untuk setiap kamar. Tentu aku
tidak akan semakin membuang-buang waktu seperti ini.
Setelah semalam tidur terlalu larut dan lupa menyetel alarm, jadilah aku
seperti ini. Terlambat bangun, padahal ada jadwal kelas pagi yang harus
kuhadiri. Diah mungkin sudah pergi dari tadi karena mengira aku tidak ada kelas
pagi. Padahal aku sudah mengingatkannya semalam untuk membangunkanku, namun
mengingat dia adalah pelupa yang akut, aku maklum. Aku makin mempercepat
gerakanku, mengganti pakaian, berdandan dan mengenakan kerudung seperti biasa.
Menyemprotkan parfum kesukaanku dan bergegas berangkat.
Kulirik arloji yang kukenakan, masih ada lima menit lagi sebelum mata
kuliah pertama dimulai. Aku menarik napas lega karena aku hanya perlu menaiki
satu deretan anak tangga lagi untuk mencapai kelasku di lantai tiga, sebelum
seseorang itu menyenggolku dan membuat map yang kupegang terlepas. Seseorang
yang seolah sama tergesanya sepertiku. Aku tidak melihat wajahnya dengan jelas.
Ia terus begegas menaiki anak tangga tanpa menghiraukan aku yang tengah
kerepotan memungut kertas-kertas dalam mapku yang berserakan. Ia hanya menoleh
sebentar lantas pergi.
Aku mendengus kesal, sungguh dia benar-benar tidak tahu sopan santun.
Jangankan menolong, meminta maaf saja tidak. Aku menghela napas panjang. Pagiku
kali ini sudah cukup buruk, aku tidak ingin membuatnya semakin buruk hanya
dengan memulai semuanya dengan marah-marah. Sabar Tari, sabar. Aku melanjutkan
menaiki beberapa anak tangga lagi dan bergegas masuk ke kelas dengan perasaan
lega karena ternyata kelas belum dimulai.
***
Aku tengah menyeruput jus buah naga yang kupesan saat Diah datang sambil
menangis dan duduk dihadapanku. Aku enggan bertanya karena aku tahu apa
masalahnya sebelum ia bercerita. Melihatku yang tak merespon kehadirannya
spontan Diah berhenti menangis. Lantas bertanya,
“Tarii, kok kamu diam aja sih?” ujarnya sambil
melototiku. Aku hanya menggeleng, enggan
menanggapi.
“ Tariiiii”
“ Nggak usah teriak-teriak gitu juga neng. Aku nggak tuli.”
“ Abis, kamu diam aja sih. Tanyain kek kenapa aku nangis”
“ Nggak perlu ditanya juga aku udah tahu. Gara-gara si Angga kan?
“ Kok tahu sih, iihh kamu so sweet banget sih. Sebelum
aku cerita kamu udah tahu gitu. Iya nih, gara-gara dia”
“ Kenapa lagi ?”
“ Berantem lagi. Dia nyebelin banget, pokoknya sebeeeell ”
“ Yaudah putusin aja”
“ Iihh, kok gitu sih Tari. Nggak sampai putus juga sih, Cuma kesal aja”
“Yaudah, kalo gitu nggak usah pakai acara
nangis-nangisan segala. Ribet banget sih kalian”
“ Ya, namanya aja pacaran Tari. Berantem itu biasa. Hehe..” Ujarnya
cengengesan
“ Terserah kalian” aku kembali mnyeruput minumanku yang masih tersisa
setengah.
“Kamu sendiri, ada perkembangan sama si Bintang ?”
Tanyanya penasaran. Aku hanya menggeleng entah tak mengerti perkembangan macam
apa yang ditanyakan oleh Diah.
“Yaah, kamu cari tahu dong Tari. Ntar kamu makin
penasaran loh. Kebawa mimpi lagi loh.”
“Cari tahu ke siapa? Nama aslinya aja aku nggak tahu”
“ Lah makanya itu aku bilang cari tahu dong”
“ Cari tahu ke siapa?”
“ Ya usaha dong Tariiiii. Mana tahu namanya Jono”
“ Jono? Enak aja.”
“ Loh bisa aja kan, makanya dia malu pakai nama aslinya
dia. Kalau nggak kenapa dia harus pakai nama pena segala coba?” ujarnya
sekenanya.
Aku menggeleng tak tertarik. Kembali menyeruput minumanku yang hampir habis.
Mengacuhkan Diah yang makin cerewet tak jelas dan banyak bertanya.
Ah, nama itu lagi. Entah apa aku tertarik untuk mengenalnya lebih jauh.
Untuk apa, toh aku hanya menyukai tulisan-tulisannya. Menyukai semua
puisi-puisinya. Meski aku tak pernah mengenal sosoknya, yang jelas aku
mengenalnya sebagai Bintang. Terlepas siapa nama sebenarnya, aku tak peduli
(sebenarnya aku sangat peduli).
***
Malam ini, malam kesekian aku tak berhenti memelototi layar laptopku.
Membaca update terbaru dari akun blog
yang beberapa minggu terakhir ini sungguh membuatku tertarik. Akun yang tidak
sengaja kutemukan ketika tengah browsing mencari
bahan untuk tugas kuliah. Bintang’s Notes nama akun itu. Akun yang menggodaku
untuk tak berhenti membaca isinya. Waktu itu aku merasa seperti begitu familiar
dengan nama pena itu. Bukankah ini nama pena seseorang yang rajin mempublikasikan
tulisannya di majalah remaja mingguan kota ini. Majalah langganan Diah yang tak
sengaja kubaca. Majalah yang menjadi bacaan wajib gadis-gadis populer dikampus.
Hampir setiap minggu majalah itu memuat tulisan-tulisannya yang indah.
Aku lebih tertarik membaca tulisan-tulisan yang ia publish di akun blognya. Mungkin karena semuanya masih sangat
natural dan belum melalui banyak proses editing seperti ketika tulisannya
dimuat di majalah. Entah mengapa, seolah aku turut berada dalam situasi yang ditulisnya
melalui tulisan-tulisan itu. Entah mengapa aku menemukan nyawa disetiap
tulisannya. Entah mengapa aku menemukan perasaan kesepian didalamnya. Ah,
penulis selalu punya cara tersendiri bukan, untuk menuangkan apa yang ada
dipikirannya, dan entahlah. Aku menyukai bagaimana cara ia bercerita.
Aku mulai berandai-andai dan bertanya. Siapa sosok itu. Blog itu tak
memuat sedikitpun tentang dia. Bahkan majalah itupun tak pernah sekalipun
menginformasikan biodatanya, kecuali alamat e-mail aktif yang bisa dihubungi.
Aku pernah, dengan begitu nekatnya mengirimkan e-mail singkat. Tak banyak,
hanya dua paragraf. Berisi salam perkenalan dan menanyakan namanya. Namun
berminggu-minggu ia tak pernah membalas, seperti yang kuduga. Mana mungkin ia
punya waktu.
Ingatanku kembali kepada mimpi beberapa hari lalu. Entah bagaimana saat
aku sendiri ditaman, tenggelam dalam halaman demi halaman novel yang belum
selesai kubaca, sosok itu datang menghampiri. Tak jelas benar, namun yang jelas
wajahnya bercahaya, meneduhkan. Ia duduk disampingku, hanya memandang sesaat
lalu tersenyum. Mengulurkan tangan dan berkata lembut
“ Hai, Mentari. Aku adalah bagian darimu, Bintang kecil yang cahayanya
tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan cahaya bintang besar sepertimu. Kau
disiang hari dan aku dimalam hari, bagaimanalah kita bisa bertemu. Ah, tak
perlulah risau. Bukankah selalu ada skenario terbaik untuk kita?”
Aku tergugu, tak mengerti arah pembicaraan itu. Sebelum sempat ku
menyahut ia telah menghilang. Sekejap saja. Secepat kedipan mata. Meninggalkan
aku yang kebingungan. Mencari kesemua penjuru berharap ia berada disalah satu
sisi taman ini. Namun nihil. Aku tak menemukannya dimanapun. Entah mengapa
meninggalkan perasaan sesak, bahkan hingga aku membuka mata dan menyadari
semuanya hanya mimpi.
Aku tersadar dari lamunan ketika handphoneku berdering. Kubaca nama pengirim
di layar handphoneku, ternyata Diah yang mengirimiku pesan. Mungkin ia ingin
memberitahuku kalau ia akan pulang terlambat. Yah, seperti yang dikatakannya
tadi siang. Ia harus menghadiri rapat kegiatan organisasi. Aku membuka pesan
itu. Sesaat aku terdiam, membaca tulisan singkat itu. mendadak aku serasa ingin
segera memeluk Diah. Sahabatku yang satu itu selalu tahu bagaimana cara membuat
sahabatnya tersenyum.
Sejurus aku beranjak tidur setelah
mematikan laptopku. Berharap segera terlelap dan hari itu datang lebih cepat.
Seperti biasa, Diah akan menginap dikampus dan malam ini aku tidur sendirian.
***
Hari ini tepat seminggu dari sejak malam Diah memberiku kabar baik yang
tak henti-hentinya membuatku tersenyum. Membuat hariku seminggu terakhir
mendadak rusuh. Bagun lebih pagi hanya untuk melingkari tanggal pada kalender
dengan spidol merah. Berharap hari ini datang lebih cepat. Berharap semua rasa
penasaran itu cepat menghilang.
Hari ini workshop kepenulisan dikampus. Entah bagaimana, panitia acara
termasuk Diah didalamnya, berhasil mengundang sosok itu. Sosok yang kian
menjadi perbincangan beberapa minggu terakhir. Itulah kabar yang dulu Diah
berikan padaku.
Meski aku telah datang sepagi mungkin, tetap saja aku tak kebagian tempat
di depan panggung. Semua sudah dipenuhi oleh peserta lain yang kebanyakan
adalah wanita sepertiku. Aku seperti pernah melihat sosok itu. Sosok bersahaja
nan rupawan. Mengenakan kemeja batik berwarna cokelat, bercelana jins berwarna
senada dan sepatu kets putih. Bukankah ia yang menabrakku tempo hari di tangga?
Aku menggeleng tak yakin.
Acara hanya berlangsung sembilan
puluh menit. Membahas banyak hal tentang gaya kepenulisannya, membahas tulisan-tulisannya,
pun nama pena yang ia gunakan. Anehnya selama acara berlangsung tak ada yang
tahu nama aslinya. Ia sengaja meminta panitia untuk tidak membocorkannya.
Biarlah orang-orang mengenalnya sebagi Bintang, begitu katanya. Semua penonton
mendesah kecewa, pun aku.
Acara selesai seiring dengan diumumkannya
lima peserta yang beruntung untuk berfoto bersama. Memang, sehari sebelumnya
para peserta diminta mengirimkan amplop berisi surat ke panitia, untuk nantinya
dipilih secara acak pemenangnya. Sayangnya aku belum beruntung. Aku keluar
ruangan dengan rasa kecewa, lantaran sampai sekarang aku sama sekali belum
mempunyai ide siapa namanya. Apa mungkin namanya Jono?
Ditaman, tetap sama riuhnya. Ia tetap dikelilingi banyak peserta.
Terutama para gadis muda yang memaksa berfoto atau sekedar minta tanda tangan.
Mendadak aku ingin menjadi salah satu diantara mereka. Gadis-gadis cantik yang
begitu populer dikampus. Pakaian modis dan tatanan rambut penuh gaya. Bercerita
tentang tas-tas branded yang baru saja diimpor dan menghiasi etalase kaca
toko-toko yang sering kumasuki, meski hanya sekedar melihat-lihat. Bercerita
tentang pria-pria pujaannya sembari menikmati hidangan istimewa di kafe
ternama. Tapi yang paling membuatku iri, aku ingin berada dibarisan itu. Dideretan
depan dan berhadapan langsung dengan sosok itu, Bintang. Sosok yang kukagumi
melalui tulisan-tulisannya yang indah.
Namun aku terpuruk disini, tersisih oleh orang-orang yang lebih bisa
membuatmu bahagia. Gadis-gadis yang bisa dengan begitu implusifnya meneriakkan
namamu, mengelu-elukan dirimu, meski kutahu itu hanya nama penamu. Lantas siapa
namamu sebenarnya, Bintang ?
Manalah mungkin kamu mau mengenalku, gadis biasa yang baru mengenal
dunia. Dan lagi, dari radius sepuluh meter ke utara aku hanya bisa menatapmu.
Aku melangkah gontai meninggalkan keramaian itu, setelah sadar aku tak bisa
lebih dekat dari jarak ini. Setidaknya aku telah menuliskannya kemarin. Aku
memutuskan berbalik dan pergi.
Sayup kudengar langkah kaki mendekat, mungkin Diah sahabatku. Aku
berbalik, mendadak jantungku berdetak lebih cepat, dia..
“ Hai Mentari ” ia memanggil namaku. Aku hanya tersenyum bodoh menutupi
kegugupan yang seketika melandaku dan kemudian mengangguk.
“ Tempo hari aku pernah kemari untuk menemui panitia, kalau tidak salah
aku pernah menabrakmu di tangga. Maaf untuk itu” ujarnya ramah. Lagi-lagi aku
hanya mengangguk, tak bersuara. Oh ibu, makhluk dihadapanku ini sungguh
sempurna. Sempurna pula membuatku serupa bisu.
“ Airlangga, namaku Airlangga. Ssstt, tapi ini rahasia” ujarnya sembari
menunjukkan amplop biru yang digenggamnya. Amplop yang begitu kukenal. Amplop
surat berisi pertanyaan sederhana.
“ Namamu Mentari kan? Nama yang indah. Mentari dan bintang, hmm.. akan
menyenangkan nantinya kalau kita bisa ngobrol. Nanti kuhubungi kau. Sampai
nanti” ujarnya kemudian berlalu.
Aku tergugu. Memandangi punggunggnya yang hilang diujung lorong.
Airlangga, namanya ternyata Airlangga. Bukan Jono seperti olokan Diah tempo
hari. Rona merah muncul dipipiku tanpa kusadari. Mungkin inilah yang ia bilang
skenario terbaik dimimpiku tempo hari.