Minggu, 11 Januari 2015

Kesempatan..



Aku melangkah gontai menyusuri hamparan pasir putih pantai kota ini. Pantai yang entah mengapa sore ini mendadak sepi. Sebenarnya dihari-hari biasapun pantai ini tidak terlalu ramai pengunjung, namun setidaknya ada saja satu dua pasangan yang asyik bercengkrama di bawah cemara ditepi sana, tapi entahlah kemana mereka semua sore ini. Aku juga tidak terlalu peduli.
Kubiarkan ombak kecil menyentuh kakiku. Tak kupedulikan sepoi angin menggelitik wajahku pun debur ombak yang memekakkan telinga. Sungguh aku tidak peduli, dan tetap tidak ingin peduli lagi. Hei, lihatlah bukankah aku bisa bersikap apatis ? lalu mengapa aku tidak bisa melakukan itu padanya. Bukankah tidak ada bedanya ?
Ah, bahkan ombakpun tidak pernah lelah mengejar tepi. Senjapun tak pernah lelah menanti matahari. Lalu, apa yang kutakutkan ? Apa yang membuatku bosan ? Apa yang membuatku berhenti ? Penerimaan, ya penerimaan. Penerimaan yang harus membuatku berhenti. Penerimaan dan kesadaran penuh bahwa kenyataan tidak akan selalu mengikuti harapan. Lalu, apakah benar aku telah mulai menerima ? Menerima bahwa aku tidak pernah punya kesempatan ? Ya, nyatanya aku tidak pernah punya kesempatan. Tepatnya mungkin, aku tidak pernah diberinya kesempatan. Sial, mengapa aku harus menangis lagi. Bukankah aku telah menangisi ini berulang kali. Kubaca surat yang kuterima beberapa hari lalu. Mungkin inilah kesempatan itu. Kurogoh saku, mengambil ponsel dan mengetikkan nomor yang sudah kuhapal diluar kepala.
“ Hallo Juna, hmm.. Mengenai tawaran waktu itu, apakah masih berlaku ? Well, yeah. Sepertinya aku mulai mempertimbangkannya, sepertinya aku setuju. Oke, Thanks. Tolong kau urus secepatnya ya. Baik, sampai ketemu”
Kulirik jam tangan yang selalu setia melingkari pergelangan tangan kananku. Ah, sebentar lagi matahari akan terbenam. Menyaksikan empat puluh tujuh detik terindah diujung hari seperti ini selalu mampu membuatku menarik seulas senyum. Setidaknya tuhan masih menyiapkan sepotong senja yang indah untuk menutup hari-hari yang melelahkan. Setidaknya, setidaknya aku pernah melalui senja seperti ini bersamanya, beberapa hari lalu. Aku mendadak ingat pembicaraan kami senja itu. Ditempat yang sama, debur ombak yang sama, meski dengan latar pantai yang berbeda. Kotaku memang dikelilingi pantai yang indah, lengkap dengan senjanya yang selalu sempurna.
“ Hei, sedang apa kau disini Sekar ?” suara itu menyapaku. Aku tidak terkejut benar, sebab aku memang telah melihat, dari sudut mataku dia yang sedari tadi perlahan mendekat, melangkah ragu. Aku menoleh, mencoba merangkai senyum yang barangkali bisa membuatnya terpesona dan kemudian perlahan menggeleng. Tidak ada, aku sedang tidak melakukan apa-apa. Ia seolah mengerti akan isyaratku lantas kemudian duduk tepat disamping kananku.
Aku tidak pernah berada sedekat ini dengannya, berjarak kurang dari satu jengkal dan duduk bersama. Seingatku, yah paling tidak dia selalu berada beberapa meter dibelakangku atau beberapa meter didepanku. Itupun hanya bila kami berada dalam kelas yang sama diperkuliahan. Selebihnya, sama sekali tidak ada interaksi dan aku hanya bisa memandang punggungnya yang perlahan menjauh dikelokan gedung belajar kami.
“ Kenapa sendirian ? Acaranya kan belum selesai ?” ia kembali bertanya
“ Well, sebenarnya aku tidak suka keramaian”
“ Kalau begitu kenapa kau ikut acara ini ?”
Aku menoleh, lalu kemudian kembali memandang jauh ke rangkaian ombak yang terus saja bergelung menepi. Aku mendesah pelan, kenapa aku ikut ? Seharusnya kau tidak perlu bertanya alasannya. Aku tahu benar itu adalah pertanyaan basa-basi. Kau pasti tahu alasannya dengan sangat jelas. Aku hanya menggeleng, tak perlulah kujelaskan mengapa.
“ Kalau kau sedang tak ingin diganggu, aku bisa pergi” Ia perlahan beranjak untuk pergi.
“ Kau sendiri, kenapa kau kesini ?” Aku bertanya tanpa menoleh. Ia menghentikan langkah sejenak lantas kemudian duduk kembali.
“ Karena ini mungkin perayaan terakhir angkatan kita”
“ Bukan itu maksudku. Maksudku kenapa kau disini dan tidak bergabung disana?”
“ Entahlah, mungkin karena kulihat kau sendiri disini. Aku hanya ingin menemani”
“ Terima kasih sudah peduli” Aku menoleh, tersenyum tipis. Amat tipis malah. Hah, sejak kapan kau peduli.
“ Sekar, apakah kau ingin mengatakan sesuatu padaku?” Ia bertanya ragu.
Aku lagi-lagi menoleh. Mengatakan sesuatu? Apa yang harus kukatakan dan apa yang ia harapkan untuk aku katakan. Entah, aku tak mengerti alasan mengapa ia mengajakku berbicara seperti ini. Aku lagi-lagi menggeleng, entah gelengan keberapa sejak pembicaraan ini dimulai.
“ Lalu, kau. Apa ada yang ingin kau katakan padaku ?” Aku balik bertanya. Ia tersenyum simpul, meski tanpa menoleh aku tahu ia tengah tersenyum.
“ Terima kasih untuk semuanya Sekar. Aku juga ingin minta maaf”
“ Maaf untuk apa?” Aku menatapnya heran
“ Untuk semuanya” Ia menoleh dan membalas tatapanku. Aku jengah dengan tatapan itu. Semacam tatapan iba dan sejenisnya, entahlah.
“ Jika maksudmu itu tentang perasaanku, kau sama sekali tidak perlu minta maaf” Aku kembali mendesah pelan. Pembicaraan ini memang tidak bisa dihindari. Cepat atau lambat kami akan tiba dipembicaraan ini. Mungkin memang ini saat yang tepat untukku untuk mulai mengenal tentang arti penerimaan dan pemahaman.
“ Bukan itu maksudku Sekar”
“ Tidak masalah. Aku sudah terbiasa” Aku tersenyum pahit. Ia tak merespon, matanya terus menatap lurus kedepan. Entah apa yang tengah ia amati. Aku memang tidak pernah bisa menyelami hatinya, memahami pola pikirnya. Siluet wajahnya begitu indah, lekuk rahangnya yang tegas dengan gurat tipis dikedua pipinya. Angin membelai manja helai demi helai rambutnya yang sebelumnya selalu terlihat rapi. Seulas senyum mengembang diwajahnya, senyum yang selalu membuatku jatuh cinta berkali-kali. Ah, andai saja aku punya kesempatan itu.
“ Hei, apa kabar dia ?” aku bertanya memecah kesunyian setelah beberapa saat kami saling terperangkap dengan pikiran masing-masing.
“ Dia ? Siapa yang kau maksud Sekar ?”
“ Wanita itu, pacarmu. Kalian sudah membicarakannya kembali kan ?”
“ Dia bukan pacarku lagi. Pembicaraan itu juga tidak ada dan tidak akan pernah ada” Ia berkata lirih. Ada luka disetiap perkataannya, aku tahu itu.
“ Semua orang pernah berbuat kesalahan, termasuk kau pun aku. Namun terkadang yang dibutuhkan hanyalah kesempatan kedua. Kesempatan untuk memperbaiki semuanya”
“ Semuanya tidak akan berhasil Sekar, aku sudah belajar mengerti. Namun entahlah, aku rasa memang semua sudah seharusnya berakhir. Kami masih terlalu egois.”
Aku menoleh, kali ini kulihat matanya berkaca. Oh tuhan, bagaimana mungkin engkau membiarkannya menangis. Tangis yang akan menjadi tangisku juga, tangisnya yang hanya memiliki satu arti, dia begitu mencintai gadis itu. Gadis yang tidak pernah kulihat rupanya. Gadis yang tidak akan pernah bisa kukalahkan, gadis dari masa lalu yang terus saja mengikatnya. Gadis yang telah membuatnya terluka, gadis yang tentunya sangat istimewa. Oh ibu, apa yang harus kulakukan.
“ Kau tidak pernah berpikir ketidaksempurnaan dia adalah hal yang harus kau sempurnakan ? Semua itu bukan malah menjadi alasan untuk kau pergi. Dia berhak punya kesempatan, setiap orang berhak punya kesempatan. Kau tidak akan tahu bagaimana rasanya kehilangan sebelum orang itu benar-benar pergi”
“ Entahlah Sekar. Aku hanya merasa semua ini butuh waktu. Setidaknya biarkan aku berpikir matang. Aku tidak ingin melakukan kesalahan lagi”
“ Teruslah berkata bahwa kau butuh waktu, dan kau akan kehilangan semuanya. Kau tidak tahu, sementara kau bergelut dengan waktu semua perlahan akan menjauh dan kemudian pergi”
“ Tidak Sekar. Sepertinya aku sudah menyukai gadis lain. Kau, kau orangnya dan.. dan aku tidak akan membiarkan kau pergi”
Aku lagi-lagi menoleh. Oh tuhan, lihatlah. Tadi ia bahkan masih berkaca-kaca saat kami tengah membicarakan gadis itu, dan kini ia malah mengatakan ia menyukaiku. Sungguh aku memang tidak pernah bisa menyelami hatinya. Aku menggeleng. Bukan, bukan kesempatan seperti ini yang kumaksud.
“ Kau boleh membuatku patah hati, tapi jangan mengasihaniku. Kau harus kembali ketempat dimana seharusnya kau berada. Kembalilah, masih ada waktu. Kau mencintainya, masih mencintainya. Katakan semua padanya, bagaimana mungkin kau membiarkan perasaanmu tak terkatakan”
“ Lalu kau ? mengapa kau biarkan perasaanmu padaku tidak terkatakan, Sekar ?”
“ Kita sedang membicarakan kau, bukan aku”
“ Baik, sepertinya kau benar. Selalu ada kesempatan kedua. Terimakasih Sekar, terimakasih untuk pembicaraan yang sangat menyenangkan ini. Sepertinya matahari sudah terbenam, kita harus bergabung bersama mereka” Ia bangkit berdiri, mengulurkan tangannya padaku membantuku berdiri. Sentuhan tangannya yang membuat nadiku serupa berhenti.
Aku tersadar dari lamunan ketika ombak mulai menepi dan menyentuh jemari tanganku. Matahari sudah terbenam, ah sepertinya sudah terlalu lama aku melamun. Terima kasih tuhan untuk sepotong senja yang kembali engkau hadirkan. Senja selalu mampu memberikan rasa damai. Kedamaian yang belakangan mulai hilang.
***
Jalanan masih lengang. Mobil yang kutumpangi melaju kencang membelah jalanan kota ini. Belum banyak aktivitas yang terlihat, hanya satu dua kendaraan yang lewat. Sesekali aku menguap menahan kantuk yang masih tersisa. Semalam aku hanya tidur dua jam setelah aku menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengepak barang yang akan kubawa. Semua barang yang dipersiapkan sebelumnya hanya menyisakan satu koper ukuran sedang dan satu tas ransel kecil. Ah, menyesal juga mengapa aku harus memesan penerbangan pertama dihari ini ditambah penyesalan kenapa aku baru mengepak barang bawaanku tadi malam, tidak dari jauh-jauh hari seperti perintah bunda.
Mobil yang dikemudikan ayah memasuki pelataran parkir bandara. Bandara di kota kami yang tidak terlalu besar. Petugas karcis yang melayani kamipun masih terlihat mengantuk. Mungkin semalam ia juga begadang, ada keperluan mungkin. Entahlah. Lagi-lagi aku tidak ingin peduli dengan hal remeh-temeh semacam itu. Kuturunkan koper dan ransel yang kubawa. Kuseret koper melewati jalur yang telah tersedia, entah mengapa koper itu berubah seakan lebih berat dari sebelumnya. Ataukah sebenarnya aku tengah menyeret-nyeret hatiku yang seakan berat sekali untuk melangkah ?
Setelah berpamit-pamit ria dengan keluarga (yang tentu saja tanpa diiringi airmata) aku cepat-cepat masuk untuk pergi ke counter check in, jika tidak maka aku akan menangis. Hei, percaya tidak percaya aku sama sekali tidak pernah menangis didepan mereka. Aku putri bungsu mereka yang manis dan tidak pernah bisa menangis. Meskipun belakangan ini entah mengapa aku agak sedikit cengeng. Biarlah, biar mereka tetap menganggapku begitu.
Tak banyak penumpang pagi itu, hanya satu dua yang mengantri. Selebihnya lebih banyak berada di kursi tunggu bandara. Ada yang bercengkrama, ada pula yang pulas tertidur. Sementara aku lebih memilih duduk sembari mendengarkan musik dengan earphone di telinga. Belum juga tuntas lagu pertama yang kudengarkan, ponselku bergetar, ada pesan masuk.
“Heii, jgn pergi tanpa pamit. Cepat keluar sebentar, aku tunggu”
Aku menghembuskan napas dalam. Bagian inilah yang sebenarnya ingin kulewatkan. Aku sama sekali tidak ingin membuat kepergian ini menjadi lebih sulit. Kulirik jam dinding yang tergantung disudut bandara. Aku masih punya waktu sekitar dua puluh menit lagi. Tak apa, mungkin aku memang harus melalui bagian ini. Kulangkahkan kaki keluar dari ruang tunggu, aku memang harus menemuinya
Aku melihatnya ketika ia tengah sibuk memperhatikan sekitar, sembari sesekali menengok ke bagian dalam ruangan. Aku perlahan mendekat, mencoba merangkai-rangkai penjelasan yang mungkin saja akan ia tanyakan. Ah, bahkan meski telah berulang kali aku memandangnya aku masih tetap saja jatuh cinta, untuk kesekian kalinya. Ia mengenakan jaket warna gelap favoritnya, yang diam-diam juga telah menjadi warna favoritku. Aku menyentuh bahunya, ia menoleh lantas tersenyum. Senyum yang membuatku serupa beku.
“ Kau seharusnya bilang kalau kepergianmu hari ini”
“ Aku sudah bilang”
“ Ya, tapi bukan padaku. Kau masih tidak ingin mengatakan sesuatu padaku, Sekar ?”
“ Kau ingin aku mengatakan apa ?”
“ Kau mencintaiku atau semacamnya”
“ Tidak. Tidak ada”
“ Lalu bagaimana kalau aku yang ingin mengatakan sesuatu padamu ?”
“ Apa ?”
“ Aku mencintaimu, Sekar”
“ Berhentilah bersikap bodoh”
“ Aku serius Sekar, tolong kali ini kau percaya padaku”
“ Berhenti mengasihaniku Raditya, aku bilang berhenti. Aku memang mencintai kau, amat sangat malah. Aku memang selalu menunggu kau selama ini, berharap dikelokan gedung kuliah kita kau akan sudi menengok kearahku. Berharap kau tahu, namamu selalu memenuhi setiap imajinasiku, bermimpi suatu saat kau akan mencintaiku. Berharap suatu saat kelak aku bisa menggantikan dia, gadismu yang demi tuhan bahkan aku tidak pernah tahu siapa dia. Gadismu yang selalu berhasil membuatmu mengacuhkanku. Berharap kau ingat kau pernah menyuruhku menunggu. Sialnya aku tetap menunggu, Raditya. Aku tetap menunggu. Sayangnya, itu sudah terlalu lama. Terlalu lama Raditya” Suaraku meninggi memaki-makinya. Aku terisak, lihatlah kini apa yang kulakukan padanya. Aku bahkan telah membentaknya, semuanya semakin menyesakkan. Maafkan aku tuhan, aku telah melanggar janjiku untuk tidak lagi menyebut namanya. Kini bahkan aku menyebut namanya berkali-kali.
“ Dengarkan aku, Sekar. Aku minta maaf untuk semua itu, aku minta maaf telah membuatmu terlalu lama menunggu. Kali ini ijinkan aku menebusnya. Bukankah kau pernah bilang kita selalu punya kesempatan untuk memperbaikinya? Berikan aku Sekar, berikan aku satu kesempatan” ia berkata lirih, matanya berkaca.
Ia mendekapku, aku mencoba berontak tapi dekapan itu terlalu hangat. Aku pasrah, menangis lemah dipundaknya.
***
Mobil ini melaju membawaku membelah jalanan yang mulai tampak ramai. Aktivitas kota ini sudah dimulai sejak beberapa jam lalu, lengkap dengan langkah tergesa dari semua orang yang terburu-buru. Seolah tidak ada waktu untuk beristirahat, ataupu sekedar rehat sejenak. Aku menyandarkan kepala ke jok mobil, lelah. Kepalaku pening.
“ Semuanya sudah kusiapkan sesuai permintaanmu waktu itu Sekar. Sebentar lagi kita akan sampai. Nanti sore kuantar kau melihat-lihat lokasi kantornya dimana”
“ Ya..”
“ Kau sepertinya lelah sekali, beristirahatlah. Nanti kubangunkan kalau sudah sampai. Jalanan agak macet, maklum beginilah kalau di Kalimantan tidak seperti di Bengkulu yang tidak pernah macet”
“ Oke, Thanks Juna”
“ Sama-sama. Semoga kau betah disini”
Aku hanya tesenyum kecut, betah ? semoga saja. Mau tidak mau aku harus betah. Bukankah ini adalah keputusanku. Bukankah tidak ada yang memaksaku menerima tawaran pekerjaan ini. Bukankah aku yang memutuskan untuk mengambil kesempatan ini.
 Ah, lagi-lagi ini tentang kesempatan. Benar saja, tuhan memang selalu menyiapkan kesempatan-kesempatan terbaik untuk semua manusia. Tentunya kesempatan yang tepat diwaktu yang tepat pula. Sekarang kitalah yang memutuskan untuk mengambil kesempatan tersebut atau malah menyia-nyiakannya. Kesempatan yang telah kau sia-siakan tidak akan bisa kau ambil kembali. Aku telah memilih dan mengambil kesempatan itu. Kesempatan untuk menata kembali hatiku, melanjutkan hidup. Meski tanpa Raditya, setidaknya tuhan telah memberiku kesempatan untuk mencintainya dan mengetahui ia juga mencintaiku meskipun diwaktu yang tidak tepat. Semoga kelak kita bisa bersama dikesempatan yang lainnya, diwaktu yang tepat pula. Kubenarkan sandaran kepalaku, menutup mata. Sepertinya kepalaku semakin enggan kompromi. Aku hanya ingin istirahat, aku lelah.