Jumat, 18 April 2014

Journey of Battambang, Cambodia



Sebelumnya :D

Pukul 06.30 waktu Singapore kami tengah flight ke Cambodia. Penerbangan itu memakan waktu kurang lebih dua jam, jadi kami tiba di Phnom Penh pukul 07.50 waktu setempat. Dimana waktu di Cambodia sama dengan waktu Indonesia. Artinya lebih lambat 1 jam dari waktu Singapore. First impression waktu pertama lihat Cambodia dari atas yaitu asri, karena dari atas kami bisa melihat hamparan sawah yang luas, aliran sungai besar yang membelah kota Cambodia, serta perumahan padat disekitarnya. Dibandingkan dengan bayanganku, Cambodia jauh lebih maju.
Kami mendarat dengan mulus di Phnom Penh International Airport, Cambodia. Kami mendarat disini karena memang Phnom Penh  adalah  ibukota Negara Cambodia, selain itu memang tidak ada pesawat langsung menuju Battambang, tempat tujuan kami sebenarnya karena memang tidak ada rute pesawat ke Battambang. Dulu katanya sempat ada, namun sekarang bandaranya sudah tidak beroperasi  lagi.
Setelah mengurus bagasi dan melewati counter imigrasi Cambodia yang sama sekali nggak ramah itu kami memutuskan untuk menunggu jemputan di depan pintu masuk bandara. Banyak calo taksi yang berebut ingin mengantar kami, namun kami menolak dengan halus. Wajah-wajah sopir taksi itu tidak jauh berbeda dengan wajah-wajah sopir taksi di Indonesia. Perawakan mereka yang cenderung berkulit agak cokelat dengan tubuh yang tidak begitu tinggi itu membuat kami merasa berada di negeri sendiri. Hanya saja mereka menggunakan bahasa Cambodia, yakni Khmer.
Sudah satu jam kami menunggu jemputan yang akan membawa kami ke tempat tujuan yang sebenarnya. Namun sama sekali tidak ada tanda-tanda jemputan itu akan datang. Kami mulai dilanda rasa was-was, jangan-jangan tidak ada yang akan menjemput kami, lantas kami harus bagaimana. Sementara Negara ini sama sekali asing bagi kami. Perutpun mulai keroncongan, maka kami memutuskan untuk makan di salah satu restoran di bandara yang berlogo halal. Sulit menemukan  makanan halal di Cambodia, karena mayoritas penduduk disana memeluk agama Budha. Kami memesan lengkap nasi plus cincangan sayur dan daging sapi dan telur dadar serta minuman kaleng. Total yang harus kami bayar sekitar U$ 5,75 per porsinya atau hampir enam puluh ribuan untuk kurs saat itu. Negara ini memang memakai dollar Amerika sebagai mata uangnya, meskipun mata uang Negara sebenarnya adalah Riel. Namun keduanya diterima dengan baik sebagai alat pembayaran. So for the second impression, Cambodia is “Mahal”. Bisa-bisa jadi kere kalau lama-lama hidup dan makan dengan pola begini.

Selesai makan kami kembali ke depan pintu masuk bandara untuk menunggu jemputan kami. Namun beberapa saat menunggu kami tetap tidak melihat tanda-tanda jemputan yang kami tunggu akan datang. Akhirnya kami memutuskan untuk meminjam telepon ke bagian informasi bandara dan menelpon pihak dari Universitas Battambang. Mengejutkan sekali saat mereka bilang bahwa mereka tidka tahu bahwa kami akan datang hari ini. Mereka bilang mereka akan segera menjemput kami. kami harus menunggu, lagi !

Beberapa jam  kami menunggu tetap saja tidak ada tanda-tanda kedatangan orang yang akan menjemput kami. Akhirnya aku mengusulkan untuk membuat banner kecil bertuliskan Universitas Battambang dan meletakkannya diantara tumpukan koper-koper kami agar mereka mengenali kami. mataku hampir menutup gara-gara ngantuk yang amat sangat sesaat setelah sepasang suami isteri dan anak kecil mendekati kami dan mengaku bahwa merekalah yang menjemput kami. Aku bernapas lega, beruntung karena kami tidak harus menggembel lagi di bandara. Sangat mengejutkan saat mereka mengaku telah menunggu kami dua jam yang lalu di salah satu tempat makan di dalam bandara dna mereka nyaris pulang apabial tak melihat banner kecil yang kubuat. Pantas saja tidak bertemu, kami menunggu ditempat yang berbeda.

Sang perempuan adalah mantan dosen di Universitas Battambang yang pindah Ke Phnom Penh. Mereka bilang tidak bisa mengantar kami sampai ke battambang. Mereka mencarikan kami taksi dan mengantar kami ke stasiun bus yang akan membawa kami ke Battambang. Diperlukan 6 jam lagi bagi kami untuk tiba di Battambang menggunakan bus. Sebelum ke stasiun kami meminta diantarkan ke KBRI di Phnom Penh, namun saying saat tiba disana kami mendapati gedung kantor tersebut tutup. Hanya tersisa beberapa orang penjaganya saja. Mereka bilang sedang pergi semua.

Bus yang kami pesan ternyata berangkat pukul tiga sore waktu setempat. Sedangkan waktu menunjukkan pukul dua. Kami beristirahat sebentar menunggu waktu keberangkatan. Sang istri datang membawakan kami berbagai macam makanan cepat saji untuk bekal kami.serta meminta maaf atas keterlambatan penjemputan.
Pukul tiga, bus berangkat ketujuan. Bus terisi penuh penumpang tujuan Battambang yang tenyata kalau dibaca menjadi “Baddambong”. Sepanjang jalan menuju Battambang hanya hamparan sawah yang terlihat dikiri kanan bus. Jalanan juga lurus dan sama sekali tidak berliku. Aku menikmati perjalanan ini. Menjelang malam perjalanan makin membuatku  mengangkat bahu. Rumah-rumah bergaya lama yang berjejer di pinggir jalan. Jalanan yang berdebu dan cukup gersang. Tidak banyak bangunan mewah saat kami mulai memasuki daerah Battambang. Tulisan-tulisan aneh yang tak kukenal memenuhi rumah-rumah dan toko-toko di sepanjang jalan. Beberapa klub malam juga Nampak di sepanjang jalan. Berada disini aku merasa seperti terlempar ke masa sepuluh tahun silam. Ah, semuanya terasa semakin menantang.
Sekitar pukul Sembilan kami mulai memasuki daerah perkotaan di Battambang karena aku mulai bisa melihat beberpa gedung –gedung yang sepertinya gedung pemerintahan. Kami juga melihat patung symbol dari kota Battambang yang berdiri kokoh tidak jauh dari Universitas Battambang. Patung orang tua besar yang memegang tongkat. Yang konon menjadi asal nama Battambang (Kakek yang kehilangan tongkat).

Kami berhenti di pemberhentian bus yang sama sekali tidak bisa di bilang layaknya stasiun bus. Beberapa saat kemudian datanglah dua orang perempuan bersepada motor yang mengaku sebagai orang yang menjemput kami. Mereka memperkenalkan diri sebagai staff di international liason office di Universitas Battambang. Mereka menyewakan tuk-tuk untuk kami. Kendaraan khas Cambodia yang berupa sepeda motor dengan tempat duduk seperti gerobak beratap yang mampu menampung sampai dengan enam penumpang.
Jadilah malam itu kali pertama kami menyusuri Battambang di malam hari menggunakan tuk-tuk. Beberapa saat kemudian kami tiba di Universitas Battambang. Universitasnya cukup besar dengan gedungnya yang bertingkat dan terlihat masih baru. Di halaman universitas ditanami tanaman kelapa sawit. Kami akan di tempatkan di dormitory dosen yang berada di halaman universitas. Malam itu kami juga bertemu dengan rektor Universitas Battambang yang baru saja kembali dari luar kota. Setelah berbincang sebentar kami diantar ke kamar kami yang berada di lantai dua.

 Naik Tuk-Tuk Perdana di Battambang :D

Kamarnya cukup luas dengan fasilitas yang cukup. Kami berada di dua kamar yang berbeda. Setelah berberes-beres sebentar kami di ajak makan malam ke sebuah restoran yang ternyata di kelola oleh mahasiswa universitas Battambang untuk praktik. Restorannya besar dengan menu yang beragam yang di masak oleh mahasiswa juga. Kami berbincang sebentar setelah makan. Lalu kami diantar kembali ke dormitory untuk beristirahat.
Dormitory kami dilengkapi dengan fasilitas WiFi yang kecepatannya sangat memuaskan. Setelah mengkoneksikan  gadget dengan WiFi, aku pun menulis pesan kepada keluarga melalui jejaring sosial karena kami belum memiliki nomer telepon lokal. Setelahnya aku mulai beristirahat dan tak lupa menyetting alarm pukul tiga untuk sahur, karena keesokan harinya bulan ramadhan  telah dimulai. Ah, ramadhan yang pastinya akan menjadi penuh tantangan. :)
Continue :D 
 

Jiaah, melloow lagii -_-

Malemm..
Lagi pengen banget share chord salah satu lagu favorit aku. Lagu yang belakangan sering banget aku mainkan pake gitar tua dirumah kalo lagi suntuk berat. Ini lagu liriknya sederhana sih, tapi maknanya dalem bangettt. Jadi pengen mewek,hujan pula -_-
Here we goo..

Anima, Andai Saja
Intro : G
G                 C
Andai saja kau masih sendiri
D
Ku akan jadi bagian
G
Hidupmu
G                 C
Karena aku pun kini
D
sendiri..Sendiri...
G                 C
Yang sesungguhnya kau telah berdua
D                 G
Bahagia dengan dirinya
G                 C                 D
Aku hanya bisa bersedih... Bersedih...
Reff :
G                 C
Andai saja aku jadi milikmu
D
Andai saja kau pun mencintaiku
Em      Am          C        D
Ku kan akhiri kesendirianku Ini
G                 C
Yang sesungguhnya kau telah berdua
D                 G
Bahagia dengan dirinya
G                 C
Aku hanya bisa bersedih...
D
Bersedih...

Interlude : G C D G Em Am C D (2x)
G                 C
Andai saja aku jadi milikmu
D
Andai saja kau pun mencintaiku
Em     Am           C        D
Ku kan akhiri kesendirianku... Ini..
G                 C
Andai saja kamu putus dengannya
D                 G
andai saja kau akhiri dengannya
Em           Am              C             D
Ku kan gantikan dirinya untukmu Jadi kekasihmu
G                 C
Andai saja aku masih sendiri
D                 G
Andai saja kau pun mencintaiku
Em           Am             C              D
Ku kan gantikan dirinya untukmu jadi kekasihmu

Coda : G

Ai..

Ai..
bukankah kita pernah berjanji, saling mengikat hati dibawah pohon kelapa dekat gedung belajar kita ?
Bukankah kita pernah mesra duduk bersama di pelajaran bahasa ?
Ai..
Demi masa, aku telah rela..

Kepada April ..

Padamu 1 April ku,
Terima kasih untuk semua rajutan mimpi, rajutan asa pun cita
Hingga kini mampu ku tegak dengan rasa bangga nan bahagia,
Ah,andai ku tahu berkahMU pada April ku..
Akankah kembali KAU bukakan aku pintu layaknya dulu?
Bukankah KAU telah lelah pada tiap keluh yg ku teriakkan,
Pada tiap marah yg ku sampaikan, pun makian yg kulontarkan..
PadaMU duhai Allahku, terima kasihku atas 1 AprilMU..