Hari
itu Selasa 10 Juli 2013 adalah pagi pertama kami menyambut pagi di kota
Battambang yang merupakan kota kedua terbesar di Cambodia. Pagi itu setelah
bangun pagi dan mandi kami bersiap-siap untuk bertemu pihak universitas dan
mengkonfirmasi kehadiran kami.
Setelah
selesai bersiap-siap kami diantar menemui petinggi di universitas. Kami juga
diajak berkeliling mengitari universitas yang cukup besar dan mengambil gambar
di depan lambang universitas serta ikon Universitas Battambang. Kami juga
diajak berkeliling menemui mahasiswa di berbagai kelas dan berbagai jurusan. Senang
rasanya melihat respon mereka yang sangat antusias sekali menyambut kehadiran kami.
Terutama yang paling menarik hatiku adalah mahasiswa jurusan ekonomi khususnya
akuntansi yang begitu senang saat tahu aku adalah mahasiswi di jurusan yang
sama dengan mereka.
Pose Didepan Gerbang Universitas Battambang
Pose Didepan Simbol Universitas Battambang
Setelah
puas berkeliling kami diajak untuk ke pasar guna membeli berbagai perlengkapan,
Tapi hal pertama yang kami cari adalah kartu perdana lokal. Jarak antara
universitas dan pasar terdekat tidaklah begitu jauh, namun cukup melelahkan juga.
Ditambah itu adalah hari pertama puasa di bulan Ramadhan. Sungguh, betapa
beratnya puasa di negeri orang yang mayoritas penduduknya bukan muslim. Pengalaman
puasa di negeri orang akan aku share disini.
Untuk
membeli kartu perdana lokal kami harus menunjukkan passport kami. Hal ini hanya
berlaku untuk orang asing seperti kami. Kartu perdana yang kami gunakan adalah
smart, yang konon katanya kartu perdana paling murah disana (bukan promosi). Kami
juga di ajak ke money changer yang cukup banyak di temui di pasar dan menukar sebagian
uang dollar kami ke riel. kurs waktu itu sekitar 4000 Riel untuk 1 Dollarnya.
Setelah slesai membeli beberapa keperluan kami
di ajak kembali ke dormitory. Dormitory kami cukup nyaman dimana seperti ceritaku
sebelumnya bahwa kamar kami terletak di lantai dua. Bagian balkon belakang
langsung menghadap ke area tanah lapang yang cukup luas. Tanah tersebut ditanami
berbagai macam tumbuhan, Namun yang paling banyak adalah tanaman tebu. Tak
heran banyak penjual es tebu di sepanjang jalan yang pernah kami lalui.
Kami
beristirahat dan membereskan barang bawaan yang memang belum sempat di bereskan
ketika kami tiba disini. Novi teman sekamarku anak yang baik. Namun hanya saja
dia sedikit lebih pendiam. Sementara Aldi dan Kak Ronald juga berbenah dikamar
sebelah.
Keesokan
harinya kami bertemu dengan para petinggi di Universitas Battambang guna
membicarakan prihal kedatangan kami. Sempat ada miss comunnication diantara
kami waktu itu, namun akhirnya cepat selesai. Dimana mereka mengira kami datang
untuk mengambil mata kuliah, sementara program kami yang sebenarnya adalah
cultural exchange. Akhirnya kami di beri jadwal kegiatan selama disana.
Diantaranya kami dapat bergabung bersama kelas-kelas yang ada disana, seperti
kelas akuntansi, bahasa inggris, dan kimia, serta kelas TOEFL preparation. Kami
juga bergabung di forum diskusi ekonomi di sore harinya. Selain itu kami juga
membuka kelas untuk belajar bahasa Indonesia, bergabung bersama kelas seni dan
mempelajari beberapa tarian, lagu serta permainan traisional Cambodia. Bahkan
beberapa pertemuan kemudian mereka memutuskan membuat sebuah event khusus
pertukaran budaya antara Indonesia dan Cambodia. Di event tersebut kami membawakan
dua tarian dan beberapa lagu-lagu daerah dari Indonesia.
Semua
program kami jalani selama disana. Mahasiswa yang menyambut kami juga sangat
bersahabat. Namun memang ada beberapa kejadian yang berada diluar ekspektasi,
namun semuanya tetap berjalan baik. Kami menemukan sahabat baik disana. Mereka
menamai diri mereka dengan "best buddies". Mereka lah yang selalu
membantu kami selama kami berada disana. Mereka jugalah yang selalu membawa
kami ketempat-tempat wisata yang belum kami kunjungi disana. Kami juga
menemukan seorang "Fazi" yang adalah seorang muslim satu-satunya di
universitas Battambang, ia adalah staff sekaligus mahasiswa S2 disana. Dia lah
yang meminjamkan kami peralatan memasak selama disana hingga kami tidak perlu
menggunakan dapur umum universitas untuk memasak makanan sahur dan buka puasa. Dia
jugalah yang mengajak kami berbelanja keperluan sehari-hari hingga kami tahu
mana makanan yang halal untuk kami dan yang mana yang tidak boleh. Terima kasih
Fazi *peyuukk.
Kami
bertemu best buddies untuk pertama kali di kelas Bahasa Indonesia. Kami
mengajari mereka percakapan dasar dalam Bahasa Indonesia dan memperkenalkan
kepada mereka permainan tangan traisional di diringi lagu Ampar-ampar pisang.
Permainan ini sering aku mainkan ketika masih di sekolah dasar. Mereka begitu
tertarik dan bersemangat. Ketertarikan itu berlanjut hingga kelas berakhir.
Mereka mendatangi kami, menanyakan dimana kami tinggal di Indonesia, dimana itu
Bengkulu, berapa harga tiket penerbangan ke Indonesia, hingga menanyakan akun
facebook kami dan meminta berfoto bersama. Pertama kalinya merasa seperti
artis, hahaha.
Pose Bareng English Class
Sejak
hari itulah Best Buddies rajin mengunjungi kami dan mengajak kami ke tempat-tempat
wisata yang ada di Kota Battambang. Beberapa di antaranya adalah temple atau
candi-candi peninggalan agama budha maupun hindu disana. Kami juga diajak
mengunjungi pagoda tempat mereka biasa berdoa. banyak hal baru yang kami
temukan disana. Di antaranya adalah kebiasaan mereka yang akan selalu berdoa
dimanapun kami menemukan candi atau pagoda. Mereka akan berdoa dengan khusu'nya.
Masyarakat
di Battambang cukup ramah terhadap orang asing. Mengingat Battambang adalah
kota kedua terbesar di Cambodia sehingga masyarakat telah terbiasa dengan
kedatangan orang asing di kota mereka. Kami hanya sedikit kesulitan ketika harus
berkomunikasi dengan mereka karena kebanyakan dari mereka tidak begiu paham
menggunakan Bahasa Inggris. Terutama ketika kami berbelanja di pasar
tradisional yang memerlukan tawar menawar, jadilah kami menggunakan sistem tawar
menawar menggunakan kalkulator. kami hanya tinggal mengetikkan harga yang kami
kehendaki dan membelinya ketika harga telah di sepakati. Namun kondisi ini juga
tidaklah jauh berbeda jika kita bandingkan dengan Indonesia. Jadi bagiku ini
tidak terlalu mencengangkan.
Pernah
satu waktu saat kami ingin membeli Es batu untuk berbuka puasa kami mengalami
hal yang sangat menggelikan. Sore itu kami mendatangi pedagang es yang berada
di sekitar gerbang depan universitas dan bermaksud membeli es batu. Peagang
cantik itu masih muda, kira-kira sebaya dengan kami. Ia tersenyum ramah
melayani kami. lantas kami menunjuk es batu yang telah di pecah menjadi kecil-kecil
dalam wadah milik si penjual sambil berkata kami ingin yang lebih besar.
Ia mengangguk tersenyum dan membungkuskan kami es tebu lemon yang ia jual. Kami menggeleng, dan berkata kami hanya ingin es batu nya saja. Ia mengerenyitkan dahi tak mengerti dan menoleh kepada salah satu mahasiswa yang kebetulan sedang duduk disana dan berdialog dalam bahasa yang tak kami mengerti. Lalu ia mengangguk dan tersenyum mengerti.
Ia membungkuskan kami es batu yang kami pesan, namun dalam cup es yang ia jual. Lagi-lagi kami menggeleng dan bilang itu terlalu sedikit kami ingin yang lebih besar. Lagi-lagi ia mengerenyitkan dahi tanda tak mengerti dan kembali berdialog dalam bahasa yang tak kami mengerti. Lalu ia tersenyum dan berkata kepada kami seolah meminta kami menunggu sebentar, kami mengangguk. Ia lalu masuk kedalam rumahnya beberapa saat. Kami tersenyum akhirnya ia mengerti keinginan kami dan mengambikan kami es batu yang masih utuh.
Namun diluar dugaan, ia keluar tidak membawa es batu yang kami pesan melainkan membawa plastik besar. Ia kemudian mengantongi es batu ingga memenuhi kantong plastk besar yang ia bawa. Kami hanya saling pandang dan menahan tawa. Karena merasa tidak enak telah menyusahkan akhirnya kami menerima saja. Saat kami bertanya berapa harga yang harus kami bayar, ia kembali kebingungan. Ia bertanya kembali kepada mahasiswa disana yang juga mengangkat bahu. Akhirnya kuputuskan untuk membuka dompetku dan membiarkan ia memilih uang yang harus kami bayar. Ia mengambil dua lembar uang seribuan riel. Sekitar lima ribuan lebih kalau di konversi ke rupiah. Wah harga yang cukup mahal untuk sekantong es batu kerikil, -_- setelah itu kami kembali ke dormitory dengan tak henti-hentinya tertawa akan kebodohan kami barusan, hahaha
Malam- malam di Battambang kami habiskan dengan berkeliling kota Battambang. Jarak universitas dengan pusat kota memang tidak terlalu jauh. Kami menggunakan sepeda untuk berkeliling kota dan menikmati udara malam serta kuliner Battambang yang tidak bisa kami lakukan disiang hari karena kami sedang berpuasa. Para pria (baca: Kak Ronald dan Aldi) bertugas menyetir (baca: menggoes sepeda) sementara kami para wanita bertugas menyemangati (baca: di bonceng).
Tempat favorit kami untuk menghabiskan malam adalah di sebuah kafe bernama "White Rose". Kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam disana bahkan pernah sampai gerbang universitas telah di tutup saat kami kembali. Kami menghabiskan waktu dengan memesan es krim seharga satu dollar per gelas nya. Terkadang kami juga memesan makanan yang di tawarkan, salah satunya "Amok" makanan khas Cambodia yang terbuat dari ikan. Rasanya seperti opor tapi tampilannya seperti ikan pepes. Rasanya tidak diragukan lagi.
Terkadang kami menghabiskan waktu kami dengan duduk bersantai di pinggiran "Sangke River" yang membelah kota sembari menikmati makanan ringan yang kami beli sebelumnya. Sungai besar itu seringkali banjir apabila musim hujan tiba.
Ia mengangguk tersenyum dan membungkuskan kami es tebu lemon yang ia jual. Kami menggeleng, dan berkata kami hanya ingin es batu nya saja. Ia mengerenyitkan dahi tak mengerti dan menoleh kepada salah satu mahasiswa yang kebetulan sedang duduk disana dan berdialog dalam bahasa yang tak kami mengerti. Lalu ia mengangguk dan tersenyum mengerti.
Ia membungkuskan kami es batu yang kami pesan, namun dalam cup es yang ia jual. Lagi-lagi kami menggeleng dan bilang itu terlalu sedikit kami ingin yang lebih besar. Lagi-lagi ia mengerenyitkan dahi tanda tak mengerti dan kembali berdialog dalam bahasa yang tak kami mengerti. Lalu ia tersenyum dan berkata kepada kami seolah meminta kami menunggu sebentar, kami mengangguk. Ia lalu masuk kedalam rumahnya beberapa saat. Kami tersenyum akhirnya ia mengerti keinginan kami dan mengambikan kami es batu yang masih utuh.
Namun diluar dugaan, ia keluar tidak membawa es batu yang kami pesan melainkan membawa plastik besar. Ia kemudian mengantongi es batu ingga memenuhi kantong plastk besar yang ia bawa. Kami hanya saling pandang dan menahan tawa. Karena merasa tidak enak telah menyusahkan akhirnya kami menerima saja. Saat kami bertanya berapa harga yang harus kami bayar, ia kembali kebingungan. Ia bertanya kembali kepada mahasiswa disana yang juga mengangkat bahu. Akhirnya kuputuskan untuk membuka dompetku dan membiarkan ia memilih uang yang harus kami bayar. Ia mengambil dua lembar uang seribuan riel. Sekitar lima ribuan lebih kalau di konversi ke rupiah. Wah harga yang cukup mahal untuk sekantong es batu kerikil, -_- setelah itu kami kembali ke dormitory dengan tak henti-hentinya tertawa akan kebodohan kami barusan, hahaha
Malam- malam di Battambang kami habiskan dengan berkeliling kota Battambang. Jarak universitas dengan pusat kota memang tidak terlalu jauh. Kami menggunakan sepeda untuk berkeliling kota dan menikmati udara malam serta kuliner Battambang yang tidak bisa kami lakukan disiang hari karena kami sedang berpuasa. Para pria (baca: Kak Ronald dan Aldi) bertugas menyetir (baca: menggoes sepeda) sementara kami para wanita bertugas menyemangati (baca: di bonceng).
Thank Udah Nyetir Buat Kami *Peyuukk
Tempat favorit kami untuk menghabiskan malam adalah di sebuah kafe bernama "White Rose". Kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam disana bahkan pernah sampai gerbang universitas telah di tutup saat kami kembali. Kami menghabiskan waktu dengan memesan es krim seharga satu dollar per gelas nya. Terkadang kami juga memesan makanan yang di tawarkan, salah satunya "Amok" makanan khas Cambodia yang terbuat dari ikan. Rasanya seperti opor tapi tampilannya seperti ikan pepes. Rasanya tidak diragukan lagi.
Terkadang kami menghabiskan waktu kami dengan duduk bersantai di pinggiran "Sangke River" yang membelah kota sembari menikmati makanan ringan yang kami beli sebelumnya. Sungai besar itu seringkali banjir apabila musim hujan tiba.
Pose dulu lahh :D
Ini Foto SatNite Pertama di Battambang, kyaa Miss Yu Gal :'(





