Jumat, 25 April 2014

Days in Beloved Battambang, Cambodia

Hari itu Selasa 10 Juli 2013 adalah pagi pertama kami menyambut pagi di kota Battambang yang merupakan kota kedua terbesar di Cambodia. Pagi itu setelah bangun pagi dan mandi kami bersiap-siap untuk bertemu pihak universitas dan mengkonfirmasi kehadiran kami.
Setelah selesai bersiap-siap kami diantar menemui petinggi di universitas. Kami juga diajak berkeliling mengitari universitas yang cukup besar dan mengambil gambar di depan lambang universitas serta ikon Universitas Battambang. Kami juga diajak berkeliling menemui mahasiswa di berbagai kelas dan berbagai jurusan. Senang rasanya melihat respon mereka yang sangat antusias sekali menyambut kehadiran kami. Terutama yang paling menarik hatiku adalah mahasiswa jurusan ekonomi khususnya akuntansi yang begitu senang saat tahu aku adalah mahasiswi di jurusan yang sama dengan mereka.

 Pose Didepan Gerbang Universitas Battambang

 Pose Didepan Simbol Universitas Battambang

Setelah puas berkeliling kami diajak untuk ke pasar guna membeli berbagai perlengkapan, Tapi hal pertama yang kami cari adalah kartu perdana lokal. Jarak antara universitas dan pasar terdekat tidaklah begitu jauh, namun cukup melelahkan juga. Ditambah itu adalah hari pertama puasa di bulan Ramadhan. Sungguh, betapa beratnya puasa di negeri orang yang mayoritas penduduknya bukan muslim. Pengalaman puasa di negeri orang akan aku share disini.

Untuk membeli kartu perdana lokal kami harus menunjukkan passport kami. Hal ini hanya berlaku untuk orang asing seperti kami. Kartu perdana yang kami gunakan adalah smart, yang konon katanya kartu perdana paling murah disana (bukan promosi). Kami juga di ajak ke money changer yang cukup banyak di temui di pasar dan menukar sebagian uang dollar kami ke riel. kurs waktu itu sekitar 4000 Riel untuk 1 Dollarnya.

 Setelah slesai membeli beberapa keperluan kami di ajak kembali ke dormitory. Dormitory kami cukup nyaman dimana seperti ceritaku sebelumnya bahwa kamar kami terletak di lantai dua. Bagian balkon belakang langsung menghadap ke area tanah lapang yang cukup luas. Tanah tersebut ditanami berbagai macam tumbuhan, Namun yang paling banyak adalah tanaman tebu. Tak heran banyak penjual es tebu di sepanjang jalan yang pernah kami lalui.
Kami beristirahat dan membereskan barang bawaan yang memang belum sempat di bereskan ketika kami tiba disini. Novi teman sekamarku anak yang baik. Namun hanya saja dia sedikit lebih pendiam. Sementara Aldi dan Kak Ronald juga berbenah dikamar sebelah.
Keesokan harinya kami bertemu dengan para petinggi di Universitas Battambang guna membicarakan prihal kedatangan kami. Sempat ada miss comunnication diantara kami waktu itu, namun akhirnya cepat selesai. Dimana mereka mengira kami datang untuk mengambil mata kuliah, sementara program kami yang sebenarnya adalah cultural exchange. Akhirnya kami di beri jadwal kegiatan selama disana. Diantaranya kami dapat bergabung bersama kelas-kelas yang ada disana, seperti kelas akuntansi, bahasa inggris, dan kimia, serta kelas TOEFL preparation. Kami juga bergabung di forum diskusi ekonomi di sore harinya. Selain itu kami juga membuka kelas untuk belajar bahasa Indonesia, bergabung bersama kelas seni dan mempelajari beberapa tarian, lagu serta permainan traisional Cambodia. Bahkan beberapa pertemuan kemudian mereka memutuskan membuat sebuah event khusus pertukaran budaya antara Indonesia dan Cambodia. Di event tersebut kami membawakan dua tarian dan beberapa lagu-lagu daerah dari Indonesia.
Semua program kami jalani selama disana. Mahasiswa yang menyambut kami juga sangat bersahabat. Namun memang ada beberapa kejadian yang berada diluar ekspektasi, namun semuanya tetap berjalan baik. Kami menemukan sahabat baik disana. Mereka menamai diri mereka dengan "best buddies". Mereka lah yang selalu membantu kami selama kami berada disana. Mereka jugalah yang selalu membawa kami ketempat-tempat wisata yang belum kami kunjungi disana. Kami juga menemukan seorang "Fazi" yang adalah seorang muslim satu-satunya di universitas Battambang, ia adalah staff sekaligus mahasiswa S2 disana. Dia lah yang meminjamkan kami peralatan memasak selama disana hingga kami tidak perlu menggunakan dapur umum universitas untuk memasak makanan sahur dan buka puasa. Dia jugalah yang mengajak kami berbelanja keperluan sehari-hari hingga kami tahu mana makanan yang halal untuk kami dan yang mana yang tidak boleh. Terima kasih Fazi *peyuukk.
Kami bertemu best buddies untuk pertama kali di kelas Bahasa Indonesia. Kami mengajari mereka percakapan dasar dalam Bahasa Indonesia dan memperkenalkan kepada mereka permainan tangan traisional di diringi lagu Ampar-ampar pisang. Permainan ini sering aku mainkan ketika masih di sekolah dasar. Mereka begitu tertarik dan bersemangat. Ketertarikan itu berlanjut hingga kelas berakhir. Mereka mendatangi kami, menanyakan dimana kami tinggal di Indonesia, dimana itu Bengkulu, berapa harga tiket penerbangan ke Indonesia, hingga menanyakan akun facebook kami dan meminta berfoto bersama. Pertama kalinya merasa seperti artis, hahaha.

 Pose Bareng English Class

Sejak hari itulah Best Buddies rajin mengunjungi kami dan mengajak kami ke tempat-tempat wisata yang ada di Kota Battambang. Beberapa di antaranya adalah temple atau candi-candi peninggalan agama budha maupun hindu disana. Kami juga diajak mengunjungi pagoda tempat mereka biasa berdoa. banyak hal baru yang kami temukan disana. Di antaranya adalah kebiasaan mereka yang akan selalu berdoa dimanapun kami menemukan candi atau pagoda. Mereka akan berdoa dengan khusu'nya.
Masyarakat di Battambang cukup ramah terhadap orang asing. Mengingat Battambang adalah kota kedua terbesar di Cambodia sehingga masyarakat telah terbiasa dengan kedatangan orang asing di kota mereka. Kami hanya sedikit kesulitan ketika harus berkomunikasi dengan mereka karena kebanyakan dari mereka tidak begiu paham menggunakan Bahasa Inggris. Terutama ketika kami berbelanja di pasar tradisional yang memerlukan tawar menawar, jadilah kami menggunakan sistem tawar menawar menggunakan kalkulator. kami hanya tinggal mengetikkan harga yang kami kehendaki dan membelinya ketika harga telah di sepakati. Namun kondisi ini juga tidaklah jauh berbeda jika kita bandingkan dengan Indonesia. Jadi bagiku ini tidak terlalu mencengangkan.
Pernah satu waktu saat kami ingin membeli Es batu untuk berbuka puasa kami mengalami hal yang sangat menggelikan. Sore itu kami mendatangi pedagang es yang berada di sekitar gerbang depan universitas dan bermaksud membeli es batu. Peagang cantik itu masih muda, kira-kira sebaya dengan kami. Ia tersenyum ramah melayani kami. lantas kami menunjuk es batu yang telah di pecah menjadi kecil-kecil dalam wadah milik si penjual sambil berkata kami ingin yang lebih besar.
Ia mengangguk tersenyum dan membungkuskan kami es tebu lemon yang ia jual. Kami menggeleng, dan berkata kami hanya ingin es batu nya saja. Ia mengerenyitkan dahi tak mengerti dan menoleh kepada salah satu mahasiswa yang kebetulan sedang duduk disana dan berdialog dalam bahasa yang tak kami mengerti. Lalu ia mengangguk dan tersenyum mengerti.
Ia membungkuskan kami es batu yang kami pesan, namun dalam cup es yang ia jual. Lagi-lagi kami menggeleng dan bilang itu terlalu sedikit kami ingin yang lebih besar. Lagi-lagi ia mengerenyitkan dahi tanda tak mengerti dan kembali berdialog dalam bahasa yang tak kami mengerti. Lalu ia tersenyum dan berkata kepada kami seolah meminta kami menunggu sebentar, kami mengangguk. Ia lalu masuk kedalam rumahnya beberapa saat. Kami tersenyum akhirnya ia mengerti keinginan kami dan mengambikan kami es batu yang masih utuh.
Namun diluar dugaan, ia keluar  tidak membawa es batu yang kami pesan melainkan membawa plastik besar. Ia kemudian mengantongi es batu ingga memenuhi kantong plastk besar yang ia bawa. Kami hanya saling pandang dan menahan tawa. Karena merasa tidak enak telah menyusahkan akhirnya kami menerima saja. Saat kami bertanya berapa harga yang harus kami bayar, ia kembali kebingungan. Ia bertanya kembali kepada mahasiswa disana yang juga mengangkat bahu. Akhirnya kuputuskan untuk membuka dompetku dan membiarkan ia memilih uang yang harus kami bayar. Ia mengambil dua lembar uang seribuan riel. Sekitar lima ribuan lebih kalau di konversi ke rupiah. Wah harga yang cukup mahal untuk sekantong es batu kerikil, -_- setelah itu kami kembali ke dormitory dengan tak henti-hentinya tertawa akan kebodohan kami barusan, hahaha 
Malam- malam di Battambang kami habiskan dengan berkeliling kota Battambang. Jarak universitas dengan pusat kota memang tidak terlalu jauh. Kami menggunakan sepeda untuk berkeliling kota dan menikmati udara malam serta kuliner Battambang yang tidak bisa kami lakukan disiang hari karena kami sedang berpuasa. Para pria (baca: Kak Ronald dan Aldi) bertugas menyetir (baca: menggoes sepeda) sementara kami para wanita bertugas menyemangati (baca: di bonceng).

 Thank Udah Nyetir Buat Kami *Peyuukk

Tempat favorit kami untuk menghabiskan malam adalah di sebuah kafe bernama "White Rose". Kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam disana bahkan pernah sampai gerbang universitas telah di tutup saat kami kembali. Kami menghabiskan waktu dengan memesan es krim seharga satu dollar per gelas nya. Terkadang kami juga memesan makanan yang di tawarkan, salah satunya "Amok" makanan khas Cambodia yang terbuat dari ikan. Rasanya seperti opor tapi tampilannya seperti ikan pepes. Rasanya tidak diragukan lagi.
 Terkadang kami menghabiskan waktu kami dengan duduk bersantai di pinggiran "Sangke River" yang membelah kota sembari menikmati makanan ringan yang kami beli sebelumnya. Sungai besar itu seringkali banjir apabila musim hujan tiba.

 Pose dulu lahh :D
Ini Foto SatNite Pertama di Battambang, kyaa Miss Yu Gal :'(