Sebelumnya :D
Pukul 06.30 waktu Singapore kami tengah flight ke Cambodia. Penerbangan itu memakan waktu kurang lebih dua jam, jadi kami tiba di Phnom Penh pukul 07.50 waktu setempat. Dimana waktu di Cambodia sama dengan waktu Indonesia. Artinya lebih lambat 1 jam dari waktu Singapore. First impression waktu pertama lihat Cambodia dari atas yaitu asri, karena dari atas kami bisa melihat hamparan sawah yang luas, aliran sungai besar yang membelah kota Cambodia, serta perumahan padat disekitarnya. Dibandingkan dengan bayanganku, Cambodia jauh lebih maju.
Pukul 06.30 waktu Singapore kami tengah flight ke Cambodia. Penerbangan itu memakan waktu kurang lebih dua jam, jadi kami tiba di Phnom Penh pukul 07.50 waktu setempat. Dimana waktu di Cambodia sama dengan waktu Indonesia. Artinya lebih lambat 1 jam dari waktu Singapore. First impression waktu pertama lihat Cambodia dari atas yaitu asri, karena dari atas kami bisa melihat hamparan sawah yang luas, aliran sungai besar yang membelah kota Cambodia, serta perumahan padat disekitarnya. Dibandingkan dengan bayanganku, Cambodia jauh lebih maju.
Kami
mendarat dengan mulus di Phnom Penh International Airport, Cambodia. Kami mendarat
disini karena memang Phnom Penh adalah ibukota Negara Cambodia, selain itu memang
tidak ada pesawat langsung menuju Battambang, tempat tujuan kami sebenarnya
karena memang tidak ada rute pesawat ke Battambang. Dulu katanya sempat ada,
namun sekarang bandaranya sudah tidak beroperasi lagi.
Setelah
mengurus bagasi dan melewati counter imigrasi Cambodia yang sama sekali nggak ramah
itu kami memutuskan untuk menunggu jemputan di depan pintu masuk bandara. Banyak
calo taksi yang berebut ingin mengantar kami, namun kami menolak dengan halus. Wajah-wajah
sopir taksi itu tidak jauh berbeda dengan wajah-wajah sopir taksi di Indonesia.
Perawakan mereka yang cenderung berkulit agak cokelat dengan tubuh yang tidak
begitu tinggi itu membuat kami merasa berada di negeri sendiri. Hanya saja
mereka menggunakan bahasa Cambodia, yakni Khmer.
Sudah
satu jam kami menunggu jemputan yang akan membawa kami ke tempat tujuan yang
sebenarnya. Namun sama sekali tidak ada tanda-tanda jemputan itu akan datang. Kami
mulai dilanda rasa was-was, jangan-jangan tidak ada yang akan menjemput kami,
lantas kami harus bagaimana. Sementara Negara ini sama sekali asing bagi kami. Perutpun
mulai keroncongan, maka kami memutuskan untuk makan di salah satu restoran di
bandara yang berlogo halal. Sulit menemukan makanan halal di Cambodia, karena mayoritas
penduduk disana memeluk agama Budha. Kami memesan lengkap nasi plus cincangan sayur
dan daging sapi dan telur dadar serta minuman kaleng. Total yang harus kami
bayar sekitar U$ 5,75 per porsinya atau hampir enam puluh ribuan untuk kurs
saat itu. Negara ini memang memakai dollar Amerika sebagai mata uangnya,
meskipun mata uang Negara sebenarnya adalah Riel. Namun keduanya diterima
dengan baik sebagai alat pembayaran. So for the second impression, Cambodia is “Mahal”.
Bisa-bisa jadi kere kalau lama-lama hidup dan makan dengan pola begini.
Selesai
makan kami kembali ke depan pintu masuk bandara untuk menunggu jemputan kami. Namun
beberapa saat menunggu kami tetap tidak melihat tanda-tanda jemputan yang kami
tunggu akan datang. Akhirnya kami memutuskan untuk meminjam telepon ke bagian
informasi bandara dan menelpon pihak dari Universitas Battambang. Mengejutkan sekali
saat mereka bilang bahwa mereka tidka tahu bahwa kami akan datang hari ini. Mereka
bilang mereka akan segera menjemput kami. kami harus menunggu, lagi !
Beberapa
jam kami menunggu tetap saja tidak ada
tanda-tanda kedatangan orang yang akan menjemput kami. Akhirnya aku mengusulkan
untuk membuat banner kecil bertuliskan Universitas Battambang dan meletakkannya
diantara tumpukan koper-koper kami agar mereka mengenali kami. mataku hampir
menutup gara-gara ngantuk yang amat sangat sesaat setelah sepasang suami isteri
dan anak kecil mendekati kami dan mengaku bahwa merekalah yang menjemput kami.
Aku bernapas lega, beruntung karena kami tidak harus menggembel lagi di
bandara. Sangat mengejutkan saat mereka mengaku telah menunggu kami dua jam
yang lalu di salah satu tempat makan di dalam bandara dna mereka nyaris pulang
apabial tak melihat banner kecil yang kubuat. Pantas saja tidak bertemu, kami
menunggu ditempat yang berbeda.
Sang
perempuan adalah mantan dosen di Universitas Battambang yang pindah Ke Phnom Penh.
Mereka bilang tidak bisa mengantar kami sampai ke battambang. Mereka mencarikan
kami taksi dan mengantar kami ke stasiun bus yang akan membawa kami ke
Battambang. Diperlukan 6 jam lagi bagi kami untuk tiba di Battambang
menggunakan bus. Sebelum ke stasiun kami meminta diantarkan ke KBRI di Phnom
Penh, namun saying saat tiba disana kami mendapati gedung kantor tersebut
tutup. Hanya tersisa beberapa orang penjaganya saja. Mereka bilang sedang pergi
semua.
Bus
yang kami pesan ternyata berangkat pukul tiga sore waktu setempat. Sedangkan waktu
menunjukkan pukul dua. Kami beristirahat sebentar menunggu waktu keberangkatan.
Sang istri datang membawakan kami berbagai macam makanan cepat saji untuk bekal
kami.serta meminta maaf atas keterlambatan penjemputan.
Pukul
tiga, bus berangkat ketujuan. Bus terisi penuh penumpang tujuan Battambang yang
tenyata kalau dibaca menjadi “Baddambong”. Sepanjang jalan menuju Battambang
hanya hamparan sawah yang terlihat dikiri kanan bus. Jalanan juga lurus dan
sama sekali tidak berliku. Aku menikmati perjalanan ini. Menjelang malam
perjalanan makin membuatku mengangkat
bahu. Rumah-rumah bergaya lama yang berjejer di pinggir jalan. Jalanan yang
berdebu dan cukup gersang. Tidak banyak bangunan mewah saat kami mulai memasuki
daerah Battambang. Tulisan-tulisan aneh yang tak kukenal memenuhi rumah-rumah
dan toko-toko di sepanjang jalan. Beberapa klub malam juga Nampak di sepanjang
jalan. Berada disini aku merasa seperti terlempar ke masa sepuluh tahun silam. Ah,
semuanya terasa semakin menantang.
Sekitar
pukul Sembilan kami mulai memasuki daerah perkotaan di Battambang karena aku
mulai bisa melihat beberpa gedung –gedung yang sepertinya gedung pemerintahan. Kami
juga melihat patung symbol dari kota Battambang yang berdiri kokoh tidak jauh
dari Universitas Battambang. Patung orang tua besar yang memegang tongkat. Yang
konon menjadi asal nama Battambang (Kakek yang kehilangan tongkat).
Kami
berhenti di pemberhentian bus yang sama sekali tidak bisa di bilang layaknya
stasiun bus. Beberapa saat kemudian datanglah dua orang perempuan bersepada
motor yang mengaku sebagai orang yang menjemput kami. Mereka memperkenalkan
diri sebagai staff di international liason office di Universitas Battambang. Mereka
menyewakan tuk-tuk untuk kami. Kendaraan khas Cambodia yang berupa sepeda motor
dengan tempat duduk seperti gerobak beratap yang mampu menampung sampai dengan
enam penumpang.
Jadilah
malam itu kali pertama kami menyusuri Battambang di malam hari menggunakan
tuk-tuk. Beberapa saat kemudian kami tiba di Universitas Battambang.
Universitasnya cukup besar dengan gedungnya yang bertingkat dan terlihat masih
baru. Di halaman universitas ditanami tanaman kelapa sawit. Kami akan di
tempatkan di dormitory dosen yang berada di halaman universitas. Malam itu kami
juga bertemu dengan rektor Universitas Battambang yang baru saja kembali dari
luar kota. Setelah berbincang sebentar kami diantar ke kamar kami yang berada
di lantai dua.
Naik Tuk-Tuk Perdana di Battambang :D
Kamarnya
cukup luas dengan fasilitas yang cukup. Kami berada di dua kamar yang berbeda. Setelah
berberes-beres sebentar kami di ajak makan malam ke sebuah restoran yang
ternyata di kelola oleh mahasiswa universitas Battambang untuk praktik. Restorannya
besar dengan menu yang beragam yang di masak oleh mahasiswa juga. Kami berbincang
sebentar setelah makan. Lalu kami diantar kembali ke dormitory untuk
beristirahat.
Dormitory
kami dilengkapi dengan fasilitas WiFi yang kecepatannya sangat memuaskan. Setelah
mengkoneksikan gadget dengan WiFi, aku pun
menulis pesan kepada keluarga melalui jejaring sosial karena kami belum
memiliki nomer telepon lokal. Setelahnya aku mulai beristirahat dan tak lupa
menyetting alarm pukul tiga untuk sahur, karena keesokan harinya bulan ramadhan
telah dimulai. Ah, ramadhan yang pastinya
akan menjadi penuh tantangan. :)
Continue :D
Continue :D


Tidak ada komentar:
Posting Komentar