1 Februari 2014 pukul 20:04
dari sini, dari sudut yang luput dari pandanganmu aku memeluk mimpi.
Mimpi yang hilang membumbung tinggi ketika bintang berebut berkelip di pekatnya langit setelah petang.
mimpi yang menyentuh lemah sayap kunang di dekat jendela kaca.
tak terhitung telah jutaan kali kumimpikan tentang kamu, bermimpi didalam mimpi, aneh sekali bukan?
langkah yang pernah kamu dan aku ukir dijalan setapak itu tak terendus angin, pun tak tercium hujan, hanya membumbung tinggi laksana asap dari tumpukan sisa pembakaran sampah yang membusuk dibelakang rumah kamu..
kamu adalah riak ombak yang menepi malu malu, kerlip bintang yang bersinar terang, jangkrik yg berderik ramai, pun pelangi yang melengkung indah diantara becek sisa hujan..
namun kamu tetaplah mimpiku, mimpi yang kuimpikan dalam tiap tetes hujan pun dalam teriknya panas sang surya..
aku singgah diperempatan lampu merah, semua kendaraan berderu bergegas pulang sebelum petang, tapi kenapa kamu tidak pernah pulang? Atau karena aku bukan menjadi tempat kamu kembali?
kamu yang selalu jadi objek dari tiap klausa ku, dan aku yang hanya selalu jadi pelengkap dari tiap klausa mu . .
hatimu adalah meja bundar yang tak bertepi, dimana tempatku meletakkan semua gelas kaca bermotif hati, hatimu adalah lingkaran jam yang tak bosan kuputari.
biarlah, biarkan senja beranjak pergi. Pun lengkung pelangi..
dari sini, dari sudut yang luput dari pandanganmu aku bermimpi..
Mimpi yang hilang membumbung tinggi ketika bintang berebut berkelip di pekatnya langit setelah petang.
mimpi yang menyentuh lemah sayap kunang di dekat jendela kaca.
tak terhitung telah jutaan kali kumimpikan tentang kamu, bermimpi didalam mimpi, aneh sekali bukan?
langkah yang pernah kamu dan aku ukir dijalan setapak itu tak terendus angin, pun tak tercium hujan, hanya membumbung tinggi laksana asap dari tumpukan sisa pembakaran sampah yang membusuk dibelakang rumah kamu..
kamu adalah riak ombak yang menepi malu malu, kerlip bintang yang bersinar terang, jangkrik yg berderik ramai, pun pelangi yang melengkung indah diantara becek sisa hujan..
namun kamu tetaplah mimpiku, mimpi yang kuimpikan dalam tiap tetes hujan pun dalam teriknya panas sang surya..
aku singgah diperempatan lampu merah, semua kendaraan berderu bergegas pulang sebelum petang, tapi kenapa kamu tidak pernah pulang? Atau karena aku bukan menjadi tempat kamu kembali?
kamu yang selalu jadi objek dari tiap klausa ku, dan aku yang hanya selalu jadi pelengkap dari tiap klausa mu . .
hatimu adalah meja bundar yang tak bertepi, dimana tempatku meletakkan semua gelas kaca bermotif hati, hatimu adalah lingkaran jam yang tak bosan kuputari.
biarlah, biarkan senja beranjak pergi. Pun lengkung pelangi..
dari sini, dari sudut yang luput dari pandanganmu aku bermimpi..