Minggu, 11 Januari 2015

Kesempatan..



Aku melangkah gontai menyusuri hamparan pasir putih pantai kota ini. Pantai yang entah mengapa sore ini mendadak sepi. Sebenarnya dihari-hari biasapun pantai ini tidak terlalu ramai pengunjung, namun setidaknya ada saja satu dua pasangan yang asyik bercengkrama di bawah cemara ditepi sana, tapi entahlah kemana mereka semua sore ini. Aku juga tidak terlalu peduli.
Kubiarkan ombak kecil menyentuh kakiku. Tak kupedulikan sepoi angin menggelitik wajahku pun debur ombak yang memekakkan telinga. Sungguh aku tidak peduli, dan tetap tidak ingin peduli lagi. Hei, lihatlah bukankah aku bisa bersikap apatis ? lalu mengapa aku tidak bisa melakukan itu padanya. Bukankah tidak ada bedanya ?
Ah, bahkan ombakpun tidak pernah lelah mengejar tepi. Senjapun tak pernah lelah menanti matahari. Lalu, apa yang kutakutkan ? Apa yang membuatku bosan ? Apa yang membuatku berhenti ? Penerimaan, ya penerimaan. Penerimaan yang harus membuatku berhenti. Penerimaan dan kesadaran penuh bahwa kenyataan tidak akan selalu mengikuti harapan. Lalu, apakah benar aku telah mulai menerima ? Menerima bahwa aku tidak pernah punya kesempatan ? Ya, nyatanya aku tidak pernah punya kesempatan. Tepatnya mungkin, aku tidak pernah diberinya kesempatan. Sial, mengapa aku harus menangis lagi. Bukankah aku telah menangisi ini berulang kali. Kubaca surat yang kuterima beberapa hari lalu. Mungkin inilah kesempatan itu. Kurogoh saku, mengambil ponsel dan mengetikkan nomor yang sudah kuhapal diluar kepala.
“ Hallo Juna, hmm.. Mengenai tawaran waktu itu, apakah masih berlaku ? Well, yeah. Sepertinya aku mulai mempertimbangkannya, sepertinya aku setuju. Oke, Thanks. Tolong kau urus secepatnya ya. Baik, sampai ketemu”
Kulirik jam tangan yang selalu setia melingkari pergelangan tangan kananku. Ah, sebentar lagi matahari akan terbenam. Menyaksikan empat puluh tujuh detik terindah diujung hari seperti ini selalu mampu membuatku menarik seulas senyum. Setidaknya tuhan masih menyiapkan sepotong senja yang indah untuk menutup hari-hari yang melelahkan. Setidaknya, setidaknya aku pernah melalui senja seperti ini bersamanya, beberapa hari lalu. Aku mendadak ingat pembicaraan kami senja itu. Ditempat yang sama, debur ombak yang sama, meski dengan latar pantai yang berbeda. Kotaku memang dikelilingi pantai yang indah, lengkap dengan senjanya yang selalu sempurna.
“ Hei, sedang apa kau disini Sekar ?” suara itu menyapaku. Aku tidak terkejut benar, sebab aku memang telah melihat, dari sudut mataku dia yang sedari tadi perlahan mendekat, melangkah ragu. Aku menoleh, mencoba merangkai senyum yang barangkali bisa membuatnya terpesona dan kemudian perlahan menggeleng. Tidak ada, aku sedang tidak melakukan apa-apa. Ia seolah mengerti akan isyaratku lantas kemudian duduk tepat disamping kananku.
Aku tidak pernah berada sedekat ini dengannya, berjarak kurang dari satu jengkal dan duduk bersama. Seingatku, yah paling tidak dia selalu berada beberapa meter dibelakangku atau beberapa meter didepanku. Itupun hanya bila kami berada dalam kelas yang sama diperkuliahan. Selebihnya, sama sekali tidak ada interaksi dan aku hanya bisa memandang punggungnya yang perlahan menjauh dikelokan gedung belajar kami.
“ Kenapa sendirian ? Acaranya kan belum selesai ?” ia kembali bertanya
“ Well, sebenarnya aku tidak suka keramaian”
“ Kalau begitu kenapa kau ikut acara ini ?”
Aku menoleh, lalu kemudian kembali memandang jauh ke rangkaian ombak yang terus saja bergelung menepi. Aku mendesah pelan, kenapa aku ikut ? Seharusnya kau tidak perlu bertanya alasannya. Aku tahu benar itu adalah pertanyaan basa-basi. Kau pasti tahu alasannya dengan sangat jelas. Aku hanya menggeleng, tak perlulah kujelaskan mengapa.
“ Kalau kau sedang tak ingin diganggu, aku bisa pergi” Ia perlahan beranjak untuk pergi.
“ Kau sendiri, kenapa kau kesini ?” Aku bertanya tanpa menoleh. Ia menghentikan langkah sejenak lantas kemudian duduk kembali.
“ Karena ini mungkin perayaan terakhir angkatan kita”
“ Bukan itu maksudku. Maksudku kenapa kau disini dan tidak bergabung disana?”
“ Entahlah, mungkin karena kulihat kau sendiri disini. Aku hanya ingin menemani”
“ Terima kasih sudah peduli” Aku menoleh, tersenyum tipis. Amat tipis malah. Hah, sejak kapan kau peduli.
“ Sekar, apakah kau ingin mengatakan sesuatu padaku?” Ia bertanya ragu.
Aku lagi-lagi menoleh. Mengatakan sesuatu? Apa yang harus kukatakan dan apa yang ia harapkan untuk aku katakan. Entah, aku tak mengerti alasan mengapa ia mengajakku berbicara seperti ini. Aku lagi-lagi menggeleng, entah gelengan keberapa sejak pembicaraan ini dimulai.
“ Lalu, kau. Apa ada yang ingin kau katakan padaku ?” Aku balik bertanya. Ia tersenyum simpul, meski tanpa menoleh aku tahu ia tengah tersenyum.
“ Terima kasih untuk semuanya Sekar. Aku juga ingin minta maaf”
“ Maaf untuk apa?” Aku menatapnya heran
“ Untuk semuanya” Ia menoleh dan membalas tatapanku. Aku jengah dengan tatapan itu. Semacam tatapan iba dan sejenisnya, entahlah.
“ Jika maksudmu itu tentang perasaanku, kau sama sekali tidak perlu minta maaf” Aku kembali mendesah pelan. Pembicaraan ini memang tidak bisa dihindari. Cepat atau lambat kami akan tiba dipembicaraan ini. Mungkin memang ini saat yang tepat untukku untuk mulai mengenal tentang arti penerimaan dan pemahaman.
“ Bukan itu maksudku Sekar”
“ Tidak masalah. Aku sudah terbiasa” Aku tersenyum pahit. Ia tak merespon, matanya terus menatap lurus kedepan. Entah apa yang tengah ia amati. Aku memang tidak pernah bisa menyelami hatinya, memahami pola pikirnya. Siluet wajahnya begitu indah, lekuk rahangnya yang tegas dengan gurat tipis dikedua pipinya. Angin membelai manja helai demi helai rambutnya yang sebelumnya selalu terlihat rapi. Seulas senyum mengembang diwajahnya, senyum yang selalu membuatku jatuh cinta berkali-kali. Ah, andai saja aku punya kesempatan itu.
“ Hei, apa kabar dia ?” aku bertanya memecah kesunyian setelah beberapa saat kami saling terperangkap dengan pikiran masing-masing.
“ Dia ? Siapa yang kau maksud Sekar ?”
“ Wanita itu, pacarmu. Kalian sudah membicarakannya kembali kan ?”
“ Dia bukan pacarku lagi. Pembicaraan itu juga tidak ada dan tidak akan pernah ada” Ia berkata lirih. Ada luka disetiap perkataannya, aku tahu itu.
“ Semua orang pernah berbuat kesalahan, termasuk kau pun aku. Namun terkadang yang dibutuhkan hanyalah kesempatan kedua. Kesempatan untuk memperbaiki semuanya”
“ Semuanya tidak akan berhasil Sekar, aku sudah belajar mengerti. Namun entahlah, aku rasa memang semua sudah seharusnya berakhir. Kami masih terlalu egois.”
Aku menoleh, kali ini kulihat matanya berkaca. Oh tuhan, bagaimana mungkin engkau membiarkannya menangis. Tangis yang akan menjadi tangisku juga, tangisnya yang hanya memiliki satu arti, dia begitu mencintai gadis itu. Gadis yang tidak pernah kulihat rupanya. Gadis yang tidak akan pernah bisa kukalahkan, gadis dari masa lalu yang terus saja mengikatnya. Gadis yang telah membuatnya terluka, gadis yang tentunya sangat istimewa. Oh ibu, apa yang harus kulakukan.
“ Kau tidak pernah berpikir ketidaksempurnaan dia adalah hal yang harus kau sempurnakan ? Semua itu bukan malah menjadi alasan untuk kau pergi. Dia berhak punya kesempatan, setiap orang berhak punya kesempatan. Kau tidak akan tahu bagaimana rasanya kehilangan sebelum orang itu benar-benar pergi”
“ Entahlah Sekar. Aku hanya merasa semua ini butuh waktu. Setidaknya biarkan aku berpikir matang. Aku tidak ingin melakukan kesalahan lagi”
“ Teruslah berkata bahwa kau butuh waktu, dan kau akan kehilangan semuanya. Kau tidak tahu, sementara kau bergelut dengan waktu semua perlahan akan menjauh dan kemudian pergi”
“ Tidak Sekar. Sepertinya aku sudah menyukai gadis lain. Kau, kau orangnya dan.. dan aku tidak akan membiarkan kau pergi”
Aku lagi-lagi menoleh. Oh tuhan, lihatlah. Tadi ia bahkan masih berkaca-kaca saat kami tengah membicarakan gadis itu, dan kini ia malah mengatakan ia menyukaiku. Sungguh aku memang tidak pernah bisa menyelami hatinya. Aku menggeleng. Bukan, bukan kesempatan seperti ini yang kumaksud.
“ Kau boleh membuatku patah hati, tapi jangan mengasihaniku. Kau harus kembali ketempat dimana seharusnya kau berada. Kembalilah, masih ada waktu. Kau mencintainya, masih mencintainya. Katakan semua padanya, bagaimana mungkin kau membiarkan perasaanmu tak terkatakan”
“ Lalu kau ? mengapa kau biarkan perasaanmu padaku tidak terkatakan, Sekar ?”
“ Kita sedang membicarakan kau, bukan aku”
“ Baik, sepertinya kau benar. Selalu ada kesempatan kedua. Terimakasih Sekar, terimakasih untuk pembicaraan yang sangat menyenangkan ini. Sepertinya matahari sudah terbenam, kita harus bergabung bersama mereka” Ia bangkit berdiri, mengulurkan tangannya padaku membantuku berdiri. Sentuhan tangannya yang membuat nadiku serupa berhenti.
Aku tersadar dari lamunan ketika ombak mulai menepi dan menyentuh jemari tanganku. Matahari sudah terbenam, ah sepertinya sudah terlalu lama aku melamun. Terima kasih tuhan untuk sepotong senja yang kembali engkau hadirkan. Senja selalu mampu memberikan rasa damai. Kedamaian yang belakangan mulai hilang.
***
Jalanan masih lengang. Mobil yang kutumpangi melaju kencang membelah jalanan kota ini. Belum banyak aktivitas yang terlihat, hanya satu dua kendaraan yang lewat. Sesekali aku menguap menahan kantuk yang masih tersisa. Semalam aku hanya tidur dua jam setelah aku menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengepak barang yang akan kubawa. Semua barang yang dipersiapkan sebelumnya hanya menyisakan satu koper ukuran sedang dan satu tas ransel kecil. Ah, menyesal juga mengapa aku harus memesan penerbangan pertama dihari ini ditambah penyesalan kenapa aku baru mengepak barang bawaanku tadi malam, tidak dari jauh-jauh hari seperti perintah bunda.
Mobil yang dikemudikan ayah memasuki pelataran parkir bandara. Bandara di kota kami yang tidak terlalu besar. Petugas karcis yang melayani kamipun masih terlihat mengantuk. Mungkin semalam ia juga begadang, ada keperluan mungkin. Entahlah. Lagi-lagi aku tidak ingin peduli dengan hal remeh-temeh semacam itu. Kuturunkan koper dan ransel yang kubawa. Kuseret koper melewati jalur yang telah tersedia, entah mengapa koper itu berubah seakan lebih berat dari sebelumnya. Ataukah sebenarnya aku tengah menyeret-nyeret hatiku yang seakan berat sekali untuk melangkah ?
Setelah berpamit-pamit ria dengan keluarga (yang tentu saja tanpa diiringi airmata) aku cepat-cepat masuk untuk pergi ke counter check in, jika tidak maka aku akan menangis. Hei, percaya tidak percaya aku sama sekali tidak pernah menangis didepan mereka. Aku putri bungsu mereka yang manis dan tidak pernah bisa menangis. Meskipun belakangan ini entah mengapa aku agak sedikit cengeng. Biarlah, biar mereka tetap menganggapku begitu.
Tak banyak penumpang pagi itu, hanya satu dua yang mengantri. Selebihnya lebih banyak berada di kursi tunggu bandara. Ada yang bercengkrama, ada pula yang pulas tertidur. Sementara aku lebih memilih duduk sembari mendengarkan musik dengan earphone di telinga. Belum juga tuntas lagu pertama yang kudengarkan, ponselku bergetar, ada pesan masuk.
“Heii, jgn pergi tanpa pamit. Cepat keluar sebentar, aku tunggu”
Aku menghembuskan napas dalam. Bagian inilah yang sebenarnya ingin kulewatkan. Aku sama sekali tidak ingin membuat kepergian ini menjadi lebih sulit. Kulirik jam dinding yang tergantung disudut bandara. Aku masih punya waktu sekitar dua puluh menit lagi. Tak apa, mungkin aku memang harus melalui bagian ini. Kulangkahkan kaki keluar dari ruang tunggu, aku memang harus menemuinya
Aku melihatnya ketika ia tengah sibuk memperhatikan sekitar, sembari sesekali menengok ke bagian dalam ruangan. Aku perlahan mendekat, mencoba merangkai-rangkai penjelasan yang mungkin saja akan ia tanyakan. Ah, bahkan meski telah berulang kali aku memandangnya aku masih tetap saja jatuh cinta, untuk kesekian kalinya. Ia mengenakan jaket warna gelap favoritnya, yang diam-diam juga telah menjadi warna favoritku. Aku menyentuh bahunya, ia menoleh lantas tersenyum. Senyum yang membuatku serupa beku.
“ Kau seharusnya bilang kalau kepergianmu hari ini”
“ Aku sudah bilang”
“ Ya, tapi bukan padaku. Kau masih tidak ingin mengatakan sesuatu padaku, Sekar ?”
“ Kau ingin aku mengatakan apa ?”
“ Kau mencintaiku atau semacamnya”
“ Tidak. Tidak ada”
“ Lalu bagaimana kalau aku yang ingin mengatakan sesuatu padamu ?”
“ Apa ?”
“ Aku mencintaimu, Sekar”
“ Berhentilah bersikap bodoh”
“ Aku serius Sekar, tolong kali ini kau percaya padaku”
“ Berhenti mengasihaniku Raditya, aku bilang berhenti. Aku memang mencintai kau, amat sangat malah. Aku memang selalu menunggu kau selama ini, berharap dikelokan gedung kuliah kita kau akan sudi menengok kearahku. Berharap kau tahu, namamu selalu memenuhi setiap imajinasiku, bermimpi suatu saat kau akan mencintaiku. Berharap suatu saat kelak aku bisa menggantikan dia, gadismu yang demi tuhan bahkan aku tidak pernah tahu siapa dia. Gadismu yang selalu berhasil membuatmu mengacuhkanku. Berharap kau ingat kau pernah menyuruhku menunggu. Sialnya aku tetap menunggu, Raditya. Aku tetap menunggu. Sayangnya, itu sudah terlalu lama. Terlalu lama Raditya” Suaraku meninggi memaki-makinya. Aku terisak, lihatlah kini apa yang kulakukan padanya. Aku bahkan telah membentaknya, semuanya semakin menyesakkan. Maafkan aku tuhan, aku telah melanggar janjiku untuk tidak lagi menyebut namanya. Kini bahkan aku menyebut namanya berkali-kali.
“ Dengarkan aku, Sekar. Aku minta maaf untuk semua itu, aku minta maaf telah membuatmu terlalu lama menunggu. Kali ini ijinkan aku menebusnya. Bukankah kau pernah bilang kita selalu punya kesempatan untuk memperbaikinya? Berikan aku Sekar, berikan aku satu kesempatan” ia berkata lirih, matanya berkaca.
Ia mendekapku, aku mencoba berontak tapi dekapan itu terlalu hangat. Aku pasrah, menangis lemah dipundaknya.
***
Mobil ini melaju membawaku membelah jalanan yang mulai tampak ramai. Aktivitas kota ini sudah dimulai sejak beberapa jam lalu, lengkap dengan langkah tergesa dari semua orang yang terburu-buru. Seolah tidak ada waktu untuk beristirahat, ataupu sekedar rehat sejenak. Aku menyandarkan kepala ke jok mobil, lelah. Kepalaku pening.
“ Semuanya sudah kusiapkan sesuai permintaanmu waktu itu Sekar. Sebentar lagi kita akan sampai. Nanti sore kuantar kau melihat-lihat lokasi kantornya dimana”
“ Ya..”
“ Kau sepertinya lelah sekali, beristirahatlah. Nanti kubangunkan kalau sudah sampai. Jalanan agak macet, maklum beginilah kalau di Kalimantan tidak seperti di Bengkulu yang tidak pernah macet”
“ Oke, Thanks Juna”
“ Sama-sama. Semoga kau betah disini”
Aku hanya tesenyum kecut, betah ? semoga saja. Mau tidak mau aku harus betah. Bukankah ini adalah keputusanku. Bukankah tidak ada yang memaksaku menerima tawaran pekerjaan ini. Bukankah aku yang memutuskan untuk mengambil kesempatan ini.
 Ah, lagi-lagi ini tentang kesempatan. Benar saja, tuhan memang selalu menyiapkan kesempatan-kesempatan terbaik untuk semua manusia. Tentunya kesempatan yang tepat diwaktu yang tepat pula. Sekarang kitalah yang memutuskan untuk mengambil kesempatan tersebut atau malah menyia-nyiakannya. Kesempatan yang telah kau sia-siakan tidak akan bisa kau ambil kembali. Aku telah memilih dan mengambil kesempatan itu. Kesempatan untuk menata kembali hatiku, melanjutkan hidup. Meski tanpa Raditya, setidaknya tuhan telah memberiku kesempatan untuk mencintainya dan mengetahui ia juga mencintaiku meskipun diwaktu yang tidak tepat. Semoga kelak kita bisa bersama dikesempatan yang lainnya, diwaktu yang tepat pula. Kubenarkan sandaran kepalaku, menutup mata. Sepertinya kepalaku semakin enggan kompromi. Aku hanya ingin istirahat, aku lelah.

Senin, 10 November 2014

Cukup, Pergilah !



Aku menyeruput kopi hitam pesananku yang telah diantarkan pelayan setengah jam yang lalu. Kopi pahit itu telah dingin, sedingin udara pagi yang kini seolah semakin menusuk tulang, maklum hari sedang mendung. Pahit, sepahit kenyataan yang belakangan mulai datang silih berganti. Aku menarik napas dalam, melirik jam dinding klasik yang dipenuhi oleh ukiran indah, disudut ruangan kafe ini. Konsep yang menarik, menawarkan kedamaian. Tapi bukan itu tujuanku datang kemari, bukan itu. Aku sedang menunggu seseorang.
 Sudah satu setengah jam aku menunggu. Tidak, dia tidak datang terlambat. Akulah yang memaksa datang lebih cepat. Bersiap-siap dengan berbagai kemungkinan. Menimbang-nimbang perangai mana yang kelak harus kupakai untuk menghadapinya. Sibuk mengira-ngira apa yang akan terjadi nanti. Menerka-nerka bagaimana arah pembicaraan kami nanti. Ah, selalu saja begini. Hatiku selalu saja diracuni oleh harapan-harapan baik, semu.
Pintu kafe terbuka, sesaat hatiku seolah berhenti berdetak. Sepasang kaki melangkah masuk, diikuti sepasang kaki yang lainnya. Aku mendesah pelan, bukan, bukan dia. Mereka pasangan muda yang nampak sangat bahagia. Perlahan menuju meja bundar tepat disebrang mejaku dan terlihat sangat mesra. Ah, aku membuang muka sebal. Menatap keluar jendela yang nampaknya mulai sibuk. Kulirik arlojiku, masih ada lima belas menit dari waktu yang dijanjikan.

“ Sekar..” suara berat itu menyapa. Aku hapal mati suara itu. Tiga tahun aku mengenalnya dan tak sedikitpun aku melupakan suara itu. Aku menoleh, dan tersenyum. Meskipun sebenarnya senyuman itu lebih mirip seringaian.
“ Sudah lama menunggu?” lanjutnya
Aku menggeleng, tidak. Apalah artinya satu setengah jam bila dibandingkan bertahun-tahun sebelumnya aku menunggu. Entah, berhadapan dengannya selalu membuat wajahku bersemu merah, bibirku serupa terkunci.
“ Apa yang ingin kau sampaikan hingga memaksaku bangun sepagi ini Sekar, awas ya kalau tidak penting kujitak kau” ia mencoba bergurau, meski yaah wajahnya tetap saja datar.
Aku mencubit lengannya, membuatnya meringis kesakitan. Aku tahu ia berbohong, bahkan tanganku hanya menyentuh kemeja cokelatnya. Ia memang pandai berpura-pura seperti yang ia lakukan selama ini.
“ Aku akan pergi Danar” ujarku pelan
“ Kemana? Kau mau ku antar?” ujarnya santai, seolah aku baru saja mengatakan kalau aku hanya sekedar ingin pergi belanja.
Oh tuhan, lihatlah pria dihadapanku ini. Dia memang tidak pernah peka, ataukah berpura-pura tidak peka. Dia memang tidak pernah mengerti, ataukah memang berpura-pura tidak mengerti. Tidakkah ia mendengar ada yang berbeda dari nada suaraku. Lagi-lagi aku mendesah pelan, menggeleng tak percaya aku mampu bertahan selama ini.
“ Ke Swedia, Danar” Kulirik wajahnya, ekspresinya sama sekali tidak berubah. Ah, pria ini memang nyatanya sangat pandai berpura-pura. Ataukah dia memang tak pernah menganggapku seistimewa itu.
“ Kapan?”
“ Lusa aku berangkat”
“ Berapa lama?” ia bertanya masih saja dengan santai
“ Entah, mungkin dua, tiga atau lima tahun, atau mungkin tidak kembali”
“ Kenapa?”
Far1, ditugaskan kembali kesana, tempat kelahirannya, dan Far juga berpikir aku bisa melanjutkan studi masterku disana”
“ Maksudku kenapa kau baru memberitahuku sekarang? Tentu rencana sebesar ini sudah kau ketahui jauh-jauh hari bukan?”
Aku menggeleng, kenapa? Entah. Aku juga tidak tahu. Apa karena kejadian dirumahnya beberapa hari yang lalu. Aku juga baru memutuskan semuanya semalam. Lalu kemudian berpikir untuk mengajaknya bertemu pagi ini. Aku mengalihkan pandangan keluar jendela, diluar mulai gerimis.
“ Baik, pergilah” Ujarnya tiba-tiba
Aku menoleh, menatapnya. Ia yang juga tengah menatap nanar keluar jendela. Seperti memikirkan sesuatu dan aku tidak pernah berhasil menyelami pikirannya. Seperti aku yang tak pernah berhasil pula menyentuh hatinya.
“ Kupikir kau akan memintaku tetap tinggal, Danar. Nyatanya kau memang ingin aku pergi”
“ Apa maksudmu Sekar, bukankah kau yang benar-benar ingin pergi?”
“ Ya, untuk sekarang sepertinya aku benar-benar ingin pergi”
“ Maksudmu, sebelumnya kau menolak pergi?”
“ Entahlah, nyatanya aku memang tidak pernah istimewa bagimu”
“ Apa maksudmu Sekar, berhentilah bertingkah menyebalkan dengan terus membicarakan hal ini”
“ Kau bilang aku menyebalkan? Nyatanya kaulah yang selalu bertingkah menyebalkan Danar, Kau!! Kau terlalu pandai berpura-pura, kau terlalu pandai bermain peran” Nada suaraku mulai meninggi.
“ Kita selalu membicarakan hal ini berulang-ulang, kumohon jangan terus meributkan hal-hal sepele, Sekar”
“ Sepele kau bilang, ya Tuhan. Bertahun-tahun aku menyukaimu, menunggu dan berharap kau juga menyukaiku. Bertahun-tahun aku seolah selalu bersaing dengan bayangan masa lalumu yang entah aku tak pernah tahu siapa wanita itu, namun aku tetap mencoba bertahan Danar. Bertahun-tahun aku selalu mendengar kau bercerita tentang mimpi-mimpi dan harapanmu, namun pernahkah kau mau mendengar kubercerita tentang mimpi-mimpi dan harapanku? Semuanya selalu tentang kau dan bayangan dari masa lalumu. Sampai kapan Danar, sampai kapan?”
“ Sekar, kau istimewa. Bagiku kau selalu istimewa” ia meraih tanganku
“ Tidak Danar, tidak. Aku tidak pernah bisa menang dari masa lalumu. Kau tidak pernah menganggapku istimewa, tidak pernah”
Aku melepaskan genggaman tangannya, merapikan tasku dan beranjak pergi. Meninggalkannya, meninggalkan semua kepahitan dibelakang. Aku harus melangkah maju, dan lihatlah, Pria itu tetap disana, tak berniat menyusul. Nyatanya aku memang tidak pernah istimewa dimatanya.
Aku memandangi sekeliling dari bangku taman yang kududuki, orang-orang mempercepat langkah agar lekas sampai ketujuan karena gerimis kian membesar. Tapi aku tidak peduli, aku malah berharap gerimis kian menderas. Sudah lama kota kami tidak diguyur hujan di pagi hari seperti ini.
Gerimis memaksaku mengingat kembali beberapa potongan kenangan. Aku mendadak ingat beberapa hari lalu saat aku pergi kerumah Danar ingin memberitahukan kabar ini. Setelah dipersilahkan masuk oleh ibunya yang sudah kukenal baik, aku melangkah menuju kamarnya yang saat itu terbuka sedikit. Kulihat pria itu menangis, memandangi foto wanita yang sangat kukenali, meski hanya dari beberapa ceritanya saja. Setelah kudengar gumaman disela isak tangisnya, akupun mengerti. Itulah sebabnya, itulah alasannya mengapa selama beberapa tahun ini hubungan kami tidak ada perkembangan. Ia hanya membalas dengan berkata ia juga menyukaiku, namun entahlah. Nyatanya ia masih saja dan akan selalu terikat dengan seseorang dimasa lalunya. Masa lalu yang tidak pernah bisa kukalahkan. Saat itu aku memutuskan pulang, menunda memberitahukan berita itu. Berharap hari esok lebih berbaik hati padaku.
Ah, aku mendesah pelan. Mengeluarkan ponsel disaku celanaku, dan mengetikkan nomer yang kuhapal diluar kepala.
Hej2, Far. Sekar jadi ikut Far ke Swedia. Nej3, Sekar serius Far. Far tolong urus semuanya ya. Oke, Tack sa mycket4, Far”
Gerimis semakin menderas saja. Aku mendongakkan kepala membiarkan bulir-bulir air menyentuh wajahku. Ah, akhirnya hujan turun setelah mendung beberapa hari ini. Membawa semua potongan kenangan dan perasaan ini. Cukup, semua perasaan ini harus diakhiri. Sekarang pergilah !


Note :
1.      Salah satu sebutan untuk ayah di Swedia
2.      Hallo
3.      Tidak
4.      Terima kasih banyak

Minggu, 12 Oktober 2014

Airlangga, Namanya Airlangga..

Bintang, namanya Bintang. Laki-laki 21 tahun yang melankolis. Itu kesimpulan yang akhirnya kudapatkan. Sebenarnya kesimpulan yang sedikit kupaksakan. Lantaran aku tidak pernah tahu yang lainnya. Lantaran aku memang tidak pernah mengenalnya lebih jauh. Lebih tepatnya tidak berani.
Kututup laptop yang sudah sedari tadi menyala. Tentunya setelah sebelumnya sing out dari akun sosial mediaku dan mematikannya. Kulirik jam dinding spongebob berwarna kuning yang terpaku di dinding. Jarumnya menunjukkan pukul dua lebih tujuh belas menit dini hari. Mataku mulai berair menuntut haknya untuk di pejamkan. Kepalaku juga mulai terasa berat. Sayup-sayup kudengar dengkuran halus dari Diah teman sekamarku yang telah terlelap sedari tadi. Aku berharap dapat segera menyusulnya menikmati empuknya kasur busa yang baru kami ganti seminggu yang lalu. Tentunya tidur dengan nyenyak, tanpa mimpi yang beberapa hari belakangan ini menghantui. Mimpi tentang sosok itu.

***
Selesai mandi aku melangkah tergesa melewati lorong deretan kamar kos kami. Berkali-kali merutuki jarak kamar mandi dengan kamarku yang terlalu jauh. Heran, mengapa tidak dibuatkan saja kamar mandi untuk setiap kamar. Tentu aku tidak akan semakin membuang-buang waktu seperti ini.
Setelah semalam tidur terlalu larut dan lupa menyetel alarm, jadilah aku seperti ini. Terlambat bangun, padahal ada jadwal kelas pagi yang harus kuhadiri. Diah mungkin sudah pergi dari tadi karena mengira aku tidak ada kelas pagi. Padahal aku sudah mengingatkannya semalam untuk membangunkanku, namun mengingat dia adalah pelupa yang akut, aku maklum. Aku makin mempercepat gerakanku, mengganti pakaian, berdandan dan mengenakan kerudung seperti biasa. Menyemprotkan parfum kesukaanku dan bergegas berangkat.
Kulirik arloji yang kukenakan, masih ada lima menit lagi sebelum mata kuliah pertama dimulai. Aku menarik napas lega karena aku hanya perlu menaiki satu deretan anak tangga lagi untuk mencapai kelasku di lantai tiga, sebelum seseorang itu menyenggolku dan membuat map yang kupegang terlepas. Seseorang yang seolah sama tergesanya sepertiku. Aku tidak melihat wajahnya dengan jelas. Ia terus begegas menaiki anak tangga tanpa menghiraukan aku yang tengah kerepotan memungut kertas-kertas dalam mapku yang berserakan. Ia hanya menoleh sebentar lantas pergi.
Aku mendengus kesal, sungguh dia benar-benar tidak tahu sopan santun. Jangankan menolong, meminta maaf saja tidak. Aku menghela napas panjang. Pagiku kali ini sudah cukup buruk, aku tidak ingin membuatnya semakin buruk hanya dengan memulai semuanya dengan marah-marah. Sabar Tari, sabar. Aku melanjutkan menaiki beberapa anak tangga lagi dan bergegas masuk ke kelas dengan perasaan lega karena ternyata kelas belum dimulai.

***
Aku tengah menyeruput jus buah naga yang kupesan saat Diah datang sambil menangis dan duduk dihadapanku. Aku enggan bertanya karena aku tahu apa masalahnya sebelum ia bercerita. Melihatku yang tak merespon kehadirannya spontan Diah berhenti menangis. Lantas bertanya,
“Tarii, kok kamu diam aja sih?” ujarnya sambil melototiku. Aku hanya menggeleng,  enggan menanggapi.
“ Tariiiii”
“ Nggak usah teriak-teriak gitu juga neng. Aku nggak tuli.”
“ Abis, kamu diam aja sih. Tanyain kek kenapa aku nangis”
“ Nggak perlu ditanya juga aku udah tahu. Gara-gara si Angga kan?
“ Kok tahu sih, iihh kamu so sweet banget sih. Sebelum aku cerita kamu udah tahu gitu. Iya nih, gara-gara dia”
“ Kenapa lagi ?”
“ Berantem lagi. Dia nyebelin banget, pokoknya sebeeeell ”
“ Yaudah putusin aja”
“ Iihh, kok gitu sih Tari. Nggak sampai putus juga sih, Cuma kesal aja”
“Yaudah, kalo gitu nggak usah pakai acara nangis-nangisan segala. Ribet banget sih kalian”
“ Ya, namanya aja pacaran Tari. Berantem itu biasa. Hehe..” Ujarnya cengengesan
“ Terserah kalian” aku kembali mnyeruput minumanku yang masih tersisa setengah.
“Kamu sendiri, ada perkembangan sama si Bintang ?” Tanyanya penasaran. Aku hanya menggeleng entah tak mengerti perkembangan macam apa yang ditanyakan oleh Diah.
“Yaah, kamu cari tahu dong Tari. Ntar kamu makin penasaran loh. Kebawa mimpi lagi loh.”
“Cari tahu ke siapa? Nama aslinya aja aku nggak tahu”
“ Lah makanya itu aku bilang cari tahu dong”
“ Cari tahu ke siapa?”
“ Ya usaha dong Tariiiii. Mana tahu namanya Jono”
“ Jono? Enak aja.”
“ Loh bisa aja kan, makanya dia malu pakai nama aslinya dia. Kalau nggak kenapa dia harus pakai nama pena segala coba?” ujarnya sekenanya.
Aku menggeleng tak tertarik. Kembali menyeruput minumanku yang hampir habis. Mengacuhkan Diah yang makin cerewet tak jelas dan banyak bertanya.
Ah, nama itu lagi. Entah apa aku tertarik untuk mengenalnya lebih jauh. Untuk apa, toh aku hanya menyukai tulisan-tulisannya. Menyukai semua puisi-puisinya. Meski aku tak pernah mengenal sosoknya, yang jelas aku mengenalnya sebagai Bintang. Terlepas siapa nama sebenarnya, aku tak peduli (sebenarnya aku sangat peduli).

***
Malam ini, malam kesekian aku tak berhenti memelototi layar laptopku. Membaca update terbaru dari akun blog yang beberapa minggu terakhir ini sungguh membuatku tertarik. Akun yang tidak sengaja kutemukan ketika tengah browsing mencari bahan untuk tugas kuliah. Bintang’s Notes nama akun itu. Akun yang menggodaku untuk tak berhenti membaca isinya. Waktu itu aku merasa seperti begitu familiar dengan nama pena itu. Bukankah ini nama pena seseorang yang rajin mempublikasikan tulisannya di majalah remaja mingguan kota ini. Majalah langganan Diah yang tak sengaja kubaca. Majalah yang menjadi bacaan wajib gadis-gadis populer dikampus. Hampir setiap minggu majalah itu memuat tulisan-tulisannya yang indah.
Aku lebih tertarik membaca tulisan-tulisan yang ia publish di akun blognya. Mungkin karena semuanya masih sangat natural dan belum melalui banyak proses editing seperti ketika tulisannya dimuat di majalah. Entah mengapa, seolah aku turut berada dalam situasi yang ditulisnya melalui tulisan-tulisan itu. Entah mengapa aku menemukan nyawa disetiap tulisannya. Entah mengapa aku menemukan perasaan kesepian didalamnya. Ah, penulis selalu punya cara tersendiri bukan, untuk menuangkan apa yang ada dipikirannya, dan entahlah. Aku menyukai bagaimana cara ia bercerita.
Aku mulai berandai-andai dan bertanya. Siapa sosok itu. Blog itu tak memuat sedikitpun tentang dia. Bahkan majalah itupun tak pernah sekalipun menginformasikan biodatanya, kecuali alamat e-mail aktif yang bisa dihubungi. Aku pernah, dengan begitu nekatnya mengirimkan e-mail singkat. Tak banyak, hanya dua paragraf. Berisi salam perkenalan dan menanyakan namanya. Namun berminggu-minggu ia tak pernah membalas, seperti yang kuduga. Mana mungkin ia punya waktu.
Ingatanku kembali kepada mimpi beberapa hari lalu. Entah bagaimana saat aku sendiri ditaman, tenggelam dalam halaman demi halaman novel yang belum selesai kubaca, sosok itu datang menghampiri. Tak jelas benar, namun yang jelas wajahnya bercahaya, meneduhkan. Ia duduk disampingku, hanya memandang sesaat lalu tersenyum. Mengulurkan tangan dan berkata lembut
“ Hai, Mentari. Aku adalah bagian darimu, Bintang kecil yang cahayanya tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan cahaya bintang besar sepertimu. Kau disiang hari dan aku dimalam hari, bagaimanalah kita bisa bertemu. Ah, tak perlulah risau. Bukankah selalu ada skenario terbaik untuk kita?”
Aku tergugu, tak mengerti arah pembicaraan itu. Sebelum sempat ku menyahut ia telah menghilang. Sekejap saja. Secepat kedipan mata. Meninggalkan aku yang kebingungan. Mencari kesemua penjuru berharap ia berada disalah satu sisi taman ini. Namun nihil. Aku tak menemukannya dimanapun. Entah mengapa meninggalkan perasaan sesak, bahkan hingga aku membuka mata dan menyadari semuanya hanya mimpi.
Aku tersadar dari lamunan ketika handphoneku berdering. Kubaca nama pengirim di layar handphoneku, ternyata Diah yang mengirimiku pesan. Mungkin ia ingin memberitahuku kalau ia akan pulang terlambat. Yah, seperti yang dikatakannya tadi siang. Ia harus menghadiri rapat kegiatan organisasi. Aku membuka pesan itu. Sesaat aku terdiam, membaca tulisan singkat itu. mendadak aku serasa ingin segera memeluk Diah. Sahabatku yang satu itu selalu tahu bagaimana cara membuat sahabatnya tersenyum.
 Sejurus aku beranjak tidur setelah mematikan laptopku. Berharap segera terlelap dan hari itu datang lebih cepat. Seperti biasa, Diah akan menginap dikampus dan malam ini aku tidur sendirian.
***
Hari ini tepat seminggu dari sejak malam Diah memberiku kabar baik yang tak henti-hentinya membuatku tersenyum. Membuat hariku seminggu terakhir mendadak rusuh. Bagun lebih pagi hanya untuk melingkari tanggal pada kalender dengan spidol merah. Berharap hari ini datang lebih cepat. Berharap semua rasa penasaran itu cepat menghilang.
Hari ini workshop kepenulisan dikampus. Entah bagaimana, panitia acara termasuk Diah didalamnya, berhasil mengundang sosok itu. Sosok yang kian menjadi perbincangan beberapa minggu terakhir. Itulah kabar yang dulu Diah berikan padaku.
Meski aku telah datang sepagi mungkin, tetap saja aku tak kebagian tempat di depan panggung. Semua sudah dipenuhi oleh peserta lain yang kebanyakan adalah wanita sepertiku. Aku seperti pernah melihat sosok itu. Sosok bersahaja nan rupawan. Mengenakan kemeja batik berwarna cokelat, bercelana jins berwarna senada dan sepatu kets putih. Bukankah ia yang menabrakku tempo hari di tangga? Aku menggeleng tak yakin.
 Acara hanya berlangsung sembilan puluh menit. Membahas banyak hal tentang gaya kepenulisannya, membahas tulisan-tulisannya, pun nama pena yang ia gunakan. Anehnya selama acara berlangsung tak ada yang tahu nama aslinya. Ia sengaja meminta panitia untuk tidak membocorkannya. Biarlah orang-orang mengenalnya sebagi Bintang, begitu katanya. Semua penonton mendesah kecewa, pun aku.
 Acara selesai seiring dengan diumumkannya lima peserta yang beruntung untuk berfoto bersama. Memang, sehari sebelumnya para peserta diminta mengirimkan amplop berisi surat ke panitia, untuk nantinya dipilih secara acak pemenangnya. Sayangnya aku belum beruntung. Aku keluar ruangan dengan rasa kecewa, lantaran sampai sekarang aku sama sekali belum mempunyai ide siapa namanya. Apa mungkin namanya Jono?
Ditaman, tetap sama riuhnya. Ia tetap dikelilingi banyak peserta. Terutama para gadis muda yang memaksa berfoto atau sekedar minta tanda tangan. Mendadak aku ingin menjadi salah satu diantara mereka. Gadis-gadis cantik yang begitu populer dikampus. Pakaian modis dan tatanan rambut penuh gaya. Bercerita tentang tas-tas branded yang baru saja diimpor dan menghiasi etalase kaca toko-toko yang sering kumasuki, meski hanya sekedar melihat-lihat. Bercerita tentang pria-pria pujaannya sembari menikmati hidangan istimewa di kafe ternama. Tapi yang paling membuatku iri, aku ingin berada dibarisan itu. Dideretan depan dan berhadapan langsung dengan sosok itu, Bintang. Sosok yang kukagumi melalui tulisan-tulisannya yang indah.
Namun aku terpuruk disini, tersisih oleh orang-orang yang lebih bisa membuatmu bahagia. Gadis-gadis yang bisa dengan begitu implusifnya meneriakkan namamu, mengelu-elukan dirimu, meski kutahu itu hanya nama penamu. Lantas siapa namamu sebenarnya, Bintang ?
Manalah mungkin kamu mau mengenalku, gadis biasa yang baru mengenal dunia. Dan lagi, dari radius sepuluh meter ke utara aku hanya bisa menatapmu. Aku melangkah gontai meninggalkan keramaian itu, setelah sadar aku tak bisa lebih dekat dari jarak ini. Setidaknya aku telah menuliskannya kemarin. Aku memutuskan berbalik dan pergi.
Sayup kudengar langkah kaki mendekat, mungkin Diah sahabatku. Aku berbalik, mendadak jantungku berdetak lebih cepat, dia..
“ Hai Mentari ” ia memanggil namaku. Aku hanya tersenyum bodoh menutupi kegugupan yang seketika melandaku dan kemudian mengangguk.
“ Tempo hari aku pernah kemari untuk menemui panitia, kalau tidak salah aku pernah menabrakmu di tangga. Maaf untuk itu” ujarnya ramah. Lagi-lagi aku hanya mengangguk, tak bersuara. Oh ibu, makhluk dihadapanku ini sungguh sempurna. Sempurna pula membuatku serupa bisu.
“ Airlangga, namaku Airlangga. Ssstt, tapi ini rahasia” ujarnya sembari menunjukkan amplop biru yang digenggamnya. Amplop yang begitu kukenal. Amplop surat berisi pertanyaan sederhana.
“ Namamu Mentari kan? Nama yang indah. Mentari dan bintang, hmm.. akan menyenangkan nantinya kalau kita bisa ngobrol. Nanti kuhubungi kau. Sampai nanti” ujarnya kemudian berlalu.
Aku tergugu. Memandangi punggunggnya yang hilang diujung lorong. Airlangga, namanya ternyata Airlangga. Bukan Jono seperti olokan Diah tempo hari. Rona merah muncul dipipiku tanpa kusadari. Mungkin inilah yang ia bilang skenario terbaik dimimpiku tempo hari.

Sabtu, 05 Juli 2014

Mungkin Kamu Mulai Lupa, *.

Pagi ini, disaat kokok ayam jantan bersahutan memaksa mentari muncul malu malu, aku terpikirkan kamu.
Mungkin kamu masih terjaga setelah selesai dengan makan pagi yang tentunya sangat pagi sekali.
Mungkin juga kamu kembali merebahkan diri, nyaman dengan sisa kantuk di pelupuk mata kamu.
Apa kini kamu benar menikmati semuanya? Bukankah semula kamu terlihat enggan?
Apa ada hal menyenangkan yang mengubah semuanya?
Syukurlah, setidaknya kamu masih tersenyum dengan senyum yang sama.
Mungkin kamu mulai lupa kalau aku tidak pernah lupa.
Mungkin kamu mulai bosan sementara aku kian mendalam.
Biarlah, toh skenario terbaik telah dituliskan.
Mengapa kamu harus mengabarkan pada mereka.
Berita pun cerita yang membuat hatiku terlena.
Sementara aku pernah tahu bagaimana rasanya ketika semua itu berbalik melukai.
Asa yang kiranya lelah menanti, kamu hidupkan lagi dengan cerita cerita pun mimpi yang kamu titipkan pada mereka.
Mereka bercerita bintang, dan rasanya aku enggan kembali percaya.
Karena kamu serupa ada dan tiada, kerap kali mengabaikan dan menghilang.
Mungkin bukan aku, bukan pula di kisahku kamu akan berlabuh.
Masih ada alur yang harus kamu tempuh.
Masih ada jalan yang harus kamu tapaki.
Ketika kamu temukan bahagia mungkin sebaiknya kamu tidak menoleh kembali akan aku.
Aku rindu memandang lekuk wajah sendu kamu, senyum menawan kamu, pun anggun perilaku kamu.
Bintang, setelah kamu menyelesaikan semua alur pun jalan panjang itu, ketika tak jua kamu temukan bahagia, ingatlah aku yang akan selalu peduli.
Mungkin kamu mulai lupa, aku selalu disini, bintang.


5 Juli 2014 pukul 5:56

Masih Bolehkah Kusapa Begitu ?

Rasanya sudah terlalu lama aku tidak menyapa kamu.
Rasanya sudah terlalu lama pula aku tidak menatap kamu dari beranda rumahku, kamu yang tetap berkelip indah di langit pekat tempat biasa kamu bersandar.
Apa kabar kamu bintang? Masih bolehkah kamu kusapa begitu? Bolehkah?
Bagaimana kehidupan kamu yang baru?
Apakah begitu menyenangkan hingga kamu selalu enggan berbagi denganku?
Ternyata aku memang tidak pernah dapat menyentuh hati kamu.
Hal yang dulunya kukira begitu.
Ternyata aku juga tidak pernah bisa menuju tepi hati kamu, entah bagaimana malah menenggelamkanku.
Puisi yang seharusnya tiada pernah kutulis pun sajak yang seharusnya tiada pernah kukirimkan.
Mengapa baru sekarang disaat semua sudah terlalu dalam, satu rahasia kecil yang tiada pernah kamu bagi.
Tidak bintang, aku tidak berhenti mengagumi kamu.
Aku hanya berhenti mengganggu kamu.
Semua kian menyesakkan, mengapa aku harus tenggelam di laut lapang ketika aku dapat memilih untuk menepi.
Bukankah diammu adalah sebuah kepastian yang kutunggu?
Bukankah begitu?
Apa yang kuharapkan dari kisah yang bahkan tiada bermula.
Semoga yang maha membolak balikkan hati memberikan rencana terbaik.
Bila tidak sekarang, mungkin nanti.
Semoga kamu baik saja bintang.
Masih bolehkah kamu kusapa begitu?
Semoga :)


2 Juli 2014 pukul 20:29

Dan Lagi, Sajak Untuk Kamu

Malam ini ketika aku rehat sejenak dari berbagai aktivitasku hari ini, aku rindu untuk kembali menulis sajak, bintang.
Sajak yang sejak beberapa malam lalu mulai kuabaikan.
Sebentar lagi bintang, hanya tinggal menunggu waktu. Semoga kamu baik baik saja bintang, meski sepertinya kamu sedikit enggan.
Bukankah awalnya kamu seperti menantikan hari itu, bukankah semuanya nanti akan sangat menyenangkan bagi kamu.
Bahkan kamu sampai lupa, akupun ingin tahu, bintang.
Malam ini, saat kamu tengah menikmati istirahat kamu, melepaskan lelah yang mengukung hati kamu, aku hanya ingin sedikit bercerita, pun bertanya.
Bagaimanalah aku kan ingkar, sementara kamu selalu ada di setiap ku menatap.
Ini bukan tentang perpisahan bintang, namun ini tentang asa yang kian redup dikala ratusan aksara yang kuuntai tidak jua dapat menyentuh hati kamu.
Hati tempatku memutuskan berhenti. Hati yang kian menenggelamkanku serupa samudra mengamuk kapal.
Malam ini ketika aku melangkah gontai menyusuri jalanan tanpa penerang, aku tak peduli bintang.
Karena kamu, selalu setia diatas sana menerangi pun memayungiku dari pekat malam.
Bintang, seharusnya aku mulai belajar mengabaikan bukan?
Karena aku tahu nyatanya kamu selalu enggan, bertanya pun kembali menyapa.
Selamat beristirahat, bintang.
Semoga kita bertemu, nanti di ujung waktu ketika kamu sudah lelah mengabaikan aku pun sajakku.


26 Juni 2014 pukul 19:26

Percakapan Satu Minggu Lalu, * !

Satu minggu yang lalu, tepatnya beberapa menit lewat dari pukul delapan.
Beberapa menit disaat aku mulai duduk menatapi langit, tempat dimana kamu biasa bersandar, kamu hadir.
Kamu menyapa dengan cara kamu biasa menyapa.
Aku juga menyikapinya dengan cara yang biasa, riang tertawa.
Aku masih ingat dengan jelas, rentetan kejadiannya pun detail pesan yang kamu kirimkan.
Pesan yang membuat malamku tak biasa, kamu tentu tahu maksudku.
Aku mencoba untuk tidak percaya, karena kamu tahu bintang, cukup sulit rasanya meyakinkan hatiku untuk tak lekas riang.
Tapi bagaimanalah bintang, aku bahkan tidak peduli andai saja semua yang kamu katakan itu dusta.
Jelasnya, kamu menepis rasaku yang terabaikan.
Malam ini, untuk kesekian kalinya aku menatapi layar ponsel yang menampilkan baris percakapan kita.
Hal yang kerap kali kulakukan ketika aku mulai meragu, ketika kamu tak dapat kutemukan.
Bukankah aku hanya harus percaya, bukankah aku tahu akibat dari menjadikan kamu sebagai bintang adalah tak mudah.
Tidak bintang, ketika aku mulai terlalu berlebihan bukankah seharusnya kamu menghentikanku?
Tapi bagaimanalah bintang, bahkan ketika pembicaraan itu dusta, aku malah tetap percaya.
Percakapan kita di bawah gemintang, satu minggu lalu.
Sampai bertemu di ujung waktu, bintang.


22 Juni 2014 pukul 20:34