Selasa, 29 April 2014

Sayonara Battambang :(


Sebelumnya :D
Malam dimana kami tiba di Battambang setelah berlibur ke Siem Reap adalah malam terakhir kami di kota ini. Kota yang memberikan begitu banyak kenangan yang begitu berarti. Malam sekitar pukul 9 kami tiba di Battambang. Setelah tiba di Battambang kami langsung berbenah dan berberes-beres karena keesokan harinya kami harus ke Phnom Penh dan meninggalkan Battambang.
Malam itu setelah membereskan semua peralatan memasak milik Fazi kami akhirnya menyewa tuk-tuk untuk pergi ke rumahnya dan mengembalikan semuanya. Fazi menyambut kami dengan begitu hangat dan mengajak kami makan malam bersama. Kami memesan sate daging sapi kepada penjual yang berada tidak jauh dari rumahnya. Kami makan dengan lahap malam itu, terutama Aldi. Setelahnya kami berpamitan kepada keluarga Fazi dan berterima kasih sekali atas semua kebaikannya selama ini kepada kami. Kami berjanji akan kembali mengunjungi mereka jika kami berkesempatan kembali ke Cambodia. Kami kembali ke dormitory dengan perasaan haru. :(
Sesampainya didormitory, kami langsung membereskan semua barang-barang yang harus kami bawa. Saat packing aku sungguh kebingungan karena barang bawaanku sekarang bertambah bahkan hampir dua kali lipatnya. Tentu saja semua karena oleh-oleh yang ku beli. Dengan berbagai cara akhirnya barang-barang tersebut muat dan berhasil masuk ke koperku. Fiuhh leganya -_- setelah selesai berbenah kami segera tidur karena kelelahan. Besok kami harus bangun pagi jika tidak ingin ketinggalan bus yang akan menjemput kami.
Pagi itu kami bangun dengan perasaan yang berbeda. Tentu saja karena ini adalah pagi terakhir kami di Battambang. Ku tarik koperku menyusuri satu demi satu anak tangga dormitory. Ada perasaan menyesal campur sedih jika mengingat semua kejadian yang pernah kami alami selama disini. Ditambah kelakuan menyebalkanku yang selalu meminta pulang lebih awal. Tapi setelah semua ada di depan mata kenapa rasanya begitu sesak ? Maafkan aku teman-teman :(
Kami berpamitan kepada para petinggi Universitas serta seluruh dosen dan staff yang selalu membantu kami ketika kami disana. Tak lupa kami berfoto bersama mereka. Setelah selesai berpamitan kami akhirnya turun dan menanti bus yang akan membawa kami ke Phnom Penh. Kejutan, "best buddies" ternyata telah menunggu untuk menemani kami menanti bus jemputan. Rasa-rasanya berat sekali untuk meninggalkan mereka. Entah kapan kami akan bertemu kembali. Kami berfoto bersama untuk yang terakhir kalinya. Entah mengapa aku ingin sekali menangis.
 Beberapa Saat Sebelum Jemputan Bus Datang :(

Tak lama kemudian bus tujuan kami datang. Barang-brang kami mulai dinaikkan satu-persatu, disusul kami yang juga turut naik ke bus. Detik-detik itulah yang terasa paling berat. Disaat semua mulai terasa menyenangkan namun kami harus berpisah.
Bus itu melaju membawa kami ke Phnom Penh, kurang lebih enam jam perjalanan. Sepanjang jalan kami masih saja membicarakan mereka, teman baru yang telah menjadi bagian dalam perjalanan hidup kami.
Kami tiba di Phnom Penh sekitar pukul 3 sore. Kami telah menelpon pihak kedutaan RI dan mereka mengirimkan seorang sopir untuk menjemput kami dan mengantarkan kami mencari penginapan terdekat. Sempat menunggu lama karena yang di tunggu tak datang-datang. Akhirnya kami menemukan sebuah penginapan di dekat Royal Palace Cambodia. Harga yang ditawarkan juga cukup terjangkau. Kamarnya berupa sharing room yang bisa ditempati sampai enam orang. Jadi kami memesan satu kamar untuk berempat. Selesai berbenah kami kemudian melanjutkan perjalanan kami, yakni mencari terminal bus dan memesan tiket ke Vietnam keesokan harinya.
Hostel di Phnom Penh

Setelah berjalan cukup jauh dengan berbekal GPS dan peta yang di berikan oleh pemilik penginapan akhirnya kami menemukan yang kami cari. Setelah sampai di terminal bus, kami memesan tiket ke Vietnam seharga 10 dollar per orangnya dan menjadi 18 dollar bila kami memesan tiket untuk pulang pergi. Setelah memesan tiket kami kembali melanjutkan perjalanan kami. Pihak bus akan menjemput kami esok paginya sekitar pukul 7.30. Setelah itu kami pun berjalan pulang sembari mencari makanan untuk bekal berbuka puasa. Kami juga harus mempersiapkan diri untuk perjalanan esok hari.


Amazing Siem Reap, Amazing Cambodia

Belum ke Cambodia jika belum mengunjungi kota yang satu ini. Kota tujuan wisata terpopuler disini. Kota kecil yang menjadi favorit para turis khususnya yang tertarik pada wisata sejarah. Tentu saja karena di kota ini dapat dijumpai salah satu situs warisan dunia yakni "Angkor Wat".
Angkor Wat adalah komplek candi terbesar di dunia. Candi ini adalah peninggalan agama Hindu Budha di Cambodia. Candi ini dibangun di pemerintahan raja Suryawarman pada pertengahan abad ke-12. Pembangunan ini memerlukan waktu 30 tahun. Angkor Wat masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO paa tahun 1992. Angkor Wat berarti "Kuil Kota". Nama asli candi ini adalah Preah Pisnulok atau Vhisnuloka (tempat dewa Wisnu bersemayam).
Kami sangat beruntung karena berkesempatan mengunjungi Angkor Wat saat kami berada di Cambodia. Perjalanan dari Battambang ke Siem Reap memerlukan waktu kurang lebih 3 jam. Kami menggunakan mini bus sebagai kendaraan. Kami berangkat pagi hari dan akan bermalam semalam di Siem Reap lalu kembali pada kesokan harinya. "Best Buddies" dan beberapa teman lain menemani kami pergi. Selain itu ada Mr.Voithna, yang merupakan seorang dosen sekaligus staff dari Universitas Battambang yang selalu setia menemani kami selama kami disana
Kami brangkat pukul 6.30 dan tiba hampir pukul 10 pagi. Karena komplek candi yang sangat luas maka sangat tidak mungkin untuk mengeksplor keindahan keseluruhan candi hanya dalam sehari. Jadi kami hanya menikmati keindahan beberapa komplek candi saja. Diantaranya adalah komplek candi Angkor, Bayon, dan Ta Phrom.
Untuk masuk kesana kami harus membayar 20 dollar per orangnya, khusus untuk orang asing. Sementara penduduk asli Cambodia tidak dikenakan biaya sama sekali -_- Harga yang cukup mahal bagi kami. Sebelum masuk kita akan di foto dan dicetak di dalam tiket masuk yang kita pegang dan jangan sampai hilang, karena pemeriksaan disana cukup ketat.
Kami memulai perjalanan hari itu dengan berbelanja beberapa souvenir khas. Setelah puas berbelanja kami memutuskan untuk memasuki komplek Angkor lebih dulu.Komplek tersebut di kelilingi danau yang luas di kiri kanannya. Setelah masuk melalui gerbang akan ada jembatan yang menghubungkan gerbang ke komplek candi. Konon dulu candi ini digunakan sebagai tempat pemujaan bagi agama Budha yang masuk menggantikan agama Hindu. Dinding candi terdapat relief yang sangat indah. Di komplek Angkor ini terdapat menara candi tertinggi. Untuk mencapainya kami harus menaiki tangga terjal yang disediakan.
 Angkor Watt :)

Puas menikmati Angkor dan berfoto-foto, kami melanjutkan perjalanan ke komplek candi Bayon. Bayon dalam bahasa Khmer berarti Wajah. Sesuai namanya candi yang akan kami kunjungi ini memiliki relief-relief wajah di setiap candinya. Candi ini juga sangat terkenal di komplek Angkor Wat ini.
Namun hari yang tadinya sangat terik berubah secara tiba-tiba. Hujan deras mengguyur kami hingga kamipun basah kuyup. Kami terpaksa berteduh sambil mencari makan siang. Karena saat itu kami berpuasa maka kami hanya menunggu sampai mereka selesai makan siang. Setelah selesai kami menuju hotel tempat kami menginap dan berganti pakaian. Perjalanan akan kembali dilanjutkan nanti siang.
Setelah berganti pakaian dan berbenah, siang harinya sekitar pukul setengah tiga kami melanjutkan perjalanan ke komplek Candi Bayon. Kita bebas keluar masuk candi asalkan tetap dalam jangka waktu tiket yang kita beli dan tiket kita tidak hilang. Tiketnya bermacam-macam. Ada yang 20 dollar untuk kunjungan satu hari, 40 dollar untuk tiga hari dan 60 dollar untuk satu minggu. Setelah puas menjelajah dan berfoto-foto kami melanjutkan ke candi terakhir, yaitu Ta Phrom.


 Bayon Temple :)

Candi ini sangat terkenal karena candi ini menjadi tempat shooting Angelina Jolie dalam film Thomb Rider. Oleh karena itu candi ini juga terkenal dengan Candi Angelina Jolie. Dari semua candi, yang menurutku paling menarik adalah candi ini. Karena diatas candi terdapat akar-akar pohon yang sangat besar dan menghujam tepat diatas candi. Akar-akar itu seolah muncul dari dalam candi. Banyak sekali turis-turis yang berfoto disana dan tentunya kami harus antri.
 Ta Phrom Temple

Setelah puas mengelilingi candi akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri perjalanan di Angkor Wat. Hari juga sudah sore. Setelah keluar dari sana, mereka membawa kami ke tempat hiburan. Kalau di sini mungkin hampir serupa dengan pasar malam. Sudah lama aku tidak pernah pergi berlibur seperti ini. Akhirnya setelah puas berkeliling kami lalu mencari tempat untuk berbuka puasa.
Kami memilih salah satu restoran cepat saji dan memesan makanan. Selesai makan perjalananpun dilanjutkan ke tempat yang paling aku tunggu, yaitu Night Market. Sesuai namanya tempat ini adalah pasar malam yang menjual macam-macam barang, terutama oleh-oleh. Sampai disana kami bagai orang gila, membeli barang semaunya dan sesukanya. Lebih gila dibanding tadi siang saat belanja di Angkor Wat. Apalagi aku. Lupakan semboyan kami selama ini tentang berhemat selama disana. Aku harus memuaskan nafsu belanjaku disana. Ditambah lagi banyak sekali oleh-oleh pesanan dari teman-teman dan keluarga di tanah air ( kyaa.. Lebay).
Hari sudah malam, namun nafsu belanjaku tetap saja belum hilang. Setelah dihitung-hitung aku sudah hampir menghabiskan 150 Dollar (kurs 10.040) hari itu hanya untuk oleh-oleh. Jumlah yang jauh lebih besar daripada biaya hidup kami satu bulan di Battambang. Setelah di ingatkan oleh temanku karena hari sudah semakin malam maka aku menghentikan semua kesenangan itu dan kembali ke mobil dimana semua temanku telah menunggu. Perjalanan hari itu berakhir. Kami segera kembali ke hotel tempat kami menginap. Perjalanan akan kami lanjutkan esok hari. Rencana selanjutnya kami akan mengunjungi air terjun dan berenang disana.
Di hotel, aku sekamar dengan Novi dan Vyvann seorang teman dari Cambodia. Ada kejadian yang tidak akan pernah terlupakan malam itu. Malam itu saat kami melaksanaan sholat isya dikamar, Vyvan yang menyaksikan Novi yang baru selesai melaksakan sholat Isya lantas bertepuk tangan riang. Aku yang baru keluar dari kamar mandi untuk berwudhupun sontak tertawa melihatnya bertepuk tangan seolah baru saja menyaksikan sesuatu yang tiak pernah ia saksikan sebelumnya. Aku dan Novi hanya tertawa bingung malam itu. Karena baru pertama juga bagi kami melihat ada orang yang bertepuk tangan melihat orang melaksanakan sholat. Kami menutup malam itu dengan berbincang sebentar dan pergi tidur.
Keesokan paginya kami bangun dan bergegas bersiap-siap untuk perjalanan selanjutnya yaitu ke objek wisata air terjun. Kalau tidak salah namanya adalah Phnom  Kulen. Perjalanan dimulai pukul 7.30 karena cukup jauh dari sana. Satu yang sangat kami ingat di perjalanan kali ini. Mereka membuat kami seolah menjadi orang lokal dengan mengajak kami terus bernyanyi didalam mobil agar saat pemeriksaan karcis masuk kami tidak di kenai harga turis yang tentunya sangat mahal. Tentunya lagu yang pernah kami pelajari sebelumnya. Kami juga diminta duduk di tengah-tengah saat di dalam mobil.
Sesampainya disana kami diajak mendaki ke puncak terlebih dulu untuk melihat patung Budha yang sedang tertidur. Mereka lalu berdoa dengan Khusu'nya. Aku heran, mengapa orang-orang Cambodia suka sekali membangun tempat berdoa di dataran tinggi seperti ini. Begitu banyak tangga yang harus di daki di Cambodia. Aku benci tangga dan dataran tinggi, karena saat itu kami sedang berpuasa. Hal yang paling aku ingat adalah saat kami menaiki tangga, dimana di tangga telah berjejer banyak sekali peminta-minta. Baik yang sudah tua maupun anak-anak kecil. Anehnya kami harus memberikan sedekah kepada mereka. Waktu itu kami di berikan uang oleh mereka yang sebelumnya telah di tukar ke pecahan kecil-kecil dan kami harus memberikannya kepada para pengemis. Sempat shyok juga kalau di objek wisata di Indonesia banyak sekali pengemis yang telah menanti.
Setelah puas berada di puncak dan berfoto-foto, kami kembali turun. Kali ini kami akan menuju air terjun dan berenang disana. Cukup jauh juga. Kami berganti pakaian dan menuju ke tempat air terjun berada. Setelah melewati jalanan yang terjal dan berfoto-foto di ayunan yang dihiasi banyak bunga (bayar 1 dollar per orang) kami tiba di air terjun. Air terjunnya sangat besar dan indah. Satu yang mengejutkan, kami menemukan ayunan yang lebih indah disana dan gratis (ternyata sebelumnya tadi kami kena tipu).



 Wonderful Waterfall :D

Kami mandi dan berenang disana. Airnya segar sekali karena langsung dari pegunungan. Kami menghabiskan beberapa jam disana dan berfoto-foto sampai puas. Setelahnya kami berganti pakaian dan bersiap ke tempat tujuan selanjutnya, yakni shopping... Again ?
Kami tiba di tempat belanja selanjutnya. Harga yang ditawarkan sedikit lebih murah. Aku kembali membeli beberapa oleh-oleh. Kurang lebih menghabiskan 25 dollar. Aku menyudahi belanja karena ingat uang yang kumiliki semakin menipis. Jangan sampai setelah ini kami kembali mengunjungi tempat belanja, bisa-bisa uangku akan ludes dalam sekejab. Setelah puas berbelanja, kami akhirnya melanjutkan perjalanan untuk pulang ke Battambang. Perjalanan pulang sangat menyenangkan. Kami bernyanyi dan tertawa bersama. Bermain dan berjoged ria. Seolah semua perbedaan serta lelah kami telah sirna. Perjalanan pulang yang akan selalu ku rindukan.
Selanjutnya :D 

Jumat, 25 April 2014

Days in Beloved Battambang, Cambodia

Hari itu Selasa 10 Juli 2013 adalah pagi pertama kami menyambut pagi di kota Battambang yang merupakan kota kedua terbesar di Cambodia. Pagi itu setelah bangun pagi dan mandi kami bersiap-siap untuk bertemu pihak universitas dan mengkonfirmasi kehadiran kami.
Setelah selesai bersiap-siap kami diantar menemui petinggi di universitas. Kami juga diajak berkeliling mengitari universitas yang cukup besar dan mengambil gambar di depan lambang universitas serta ikon Universitas Battambang. Kami juga diajak berkeliling menemui mahasiswa di berbagai kelas dan berbagai jurusan. Senang rasanya melihat respon mereka yang sangat antusias sekali menyambut kehadiran kami. Terutama yang paling menarik hatiku adalah mahasiswa jurusan ekonomi khususnya akuntansi yang begitu senang saat tahu aku adalah mahasiswi di jurusan yang sama dengan mereka.

 Pose Didepan Gerbang Universitas Battambang

 Pose Didepan Simbol Universitas Battambang

Setelah puas berkeliling kami diajak untuk ke pasar guna membeli berbagai perlengkapan, Tapi hal pertama yang kami cari adalah kartu perdana lokal. Jarak antara universitas dan pasar terdekat tidaklah begitu jauh, namun cukup melelahkan juga. Ditambah itu adalah hari pertama puasa di bulan Ramadhan. Sungguh, betapa beratnya puasa di negeri orang yang mayoritas penduduknya bukan muslim. Pengalaman puasa di negeri orang akan aku share disini.

Untuk membeli kartu perdana lokal kami harus menunjukkan passport kami. Hal ini hanya berlaku untuk orang asing seperti kami. Kartu perdana yang kami gunakan adalah smart, yang konon katanya kartu perdana paling murah disana (bukan promosi). Kami juga di ajak ke money changer yang cukup banyak di temui di pasar dan menukar sebagian uang dollar kami ke riel. kurs waktu itu sekitar 4000 Riel untuk 1 Dollarnya.

 Setelah slesai membeli beberapa keperluan kami di ajak kembali ke dormitory. Dormitory kami cukup nyaman dimana seperti ceritaku sebelumnya bahwa kamar kami terletak di lantai dua. Bagian balkon belakang langsung menghadap ke area tanah lapang yang cukup luas. Tanah tersebut ditanami berbagai macam tumbuhan, Namun yang paling banyak adalah tanaman tebu. Tak heran banyak penjual es tebu di sepanjang jalan yang pernah kami lalui.
Kami beristirahat dan membereskan barang bawaan yang memang belum sempat di bereskan ketika kami tiba disini. Novi teman sekamarku anak yang baik. Namun hanya saja dia sedikit lebih pendiam. Sementara Aldi dan Kak Ronald juga berbenah dikamar sebelah.
Keesokan harinya kami bertemu dengan para petinggi di Universitas Battambang guna membicarakan prihal kedatangan kami. Sempat ada miss comunnication diantara kami waktu itu, namun akhirnya cepat selesai. Dimana mereka mengira kami datang untuk mengambil mata kuliah, sementara program kami yang sebenarnya adalah cultural exchange. Akhirnya kami di beri jadwal kegiatan selama disana. Diantaranya kami dapat bergabung bersama kelas-kelas yang ada disana, seperti kelas akuntansi, bahasa inggris, dan kimia, serta kelas TOEFL preparation. Kami juga bergabung di forum diskusi ekonomi di sore harinya. Selain itu kami juga membuka kelas untuk belajar bahasa Indonesia, bergabung bersama kelas seni dan mempelajari beberapa tarian, lagu serta permainan traisional Cambodia. Bahkan beberapa pertemuan kemudian mereka memutuskan membuat sebuah event khusus pertukaran budaya antara Indonesia dan Cambodia. Di event tersebut kami membawakan dua tarian dan beberapa lagu-lagu daerah dari Indonesia.
Semua program kami jalani selama disana. Mahasiswa yang menyambut kami juga sangat bersahabat. Namun memang ada beberapa kejadian yang berada diluar ekspektasi, namun semuanya tetap berjalan baik. Kami menemukan sahabat baik disana. Mereka menamai diri mereka dengan "best buddies". Mereka lah yang selalu membantu kami selama kami berada disana. Mereka jugalah yang selalu membawa kami ketempat-tempat wisata yang belum kami kunjungi disana. Kami juga menemukan seorang "Fazi" yang adalah seorang muslim satu-satunya di universitas Battambang, ia adalah staff sekaligus mahasiswa S2 disana. Dia lah yang meminjamkan kami peralatan memasak selama disana hingga kami tidak perlu menggunakan dapur umum universitas untuk memasak makanan sahur dan buka puasa. Dia jugalah yang mengajak kami berbelanja keperluan sehari-hari hingga kami tahu mana makanan yang halal untuk kami dan yang mana yang tidak boleh. Terima kasih Fazi *peyuukk.
Kami bertemu best buddies untuk pertama kali di kelas Bahasa Indonesia. Kami mengajari mereka percakapan dasar dalam Bahasa Indonesia dan memperkenalkan kepada mereka permainan tangan traisional di diringi lagu Ampar-ampar pisang. Permainan ini sering aku mainkan ketika masih di sekolah dasar. Mereka begitu tertarik dan bersemangat. Ketertarikan itu berlanjut hingga kelas berakhir. Mereka mendatangi kami, menanyakan dimana kami tinggal di Indonesia, dimana itu Bengkulu, berapa harga tiket penerbangan ke Indonesia, hingga menanyakan akun facebook kami dan meminta berfoto bersama. Pertama kalinya merasa seperti artis, hahaha.

 Pose Bareng English Class

Sejak hari itulah Best Buddies rajin mengunjungi kami dan mengajak kami ke tempat-tempat wisata yang ada di Kota Battambang. Beberapa di antaranya adalah temple atau candi-candi peninggalan agama budha maupun hindu disana. Kami juga diajak mengunjungi pagoda tempat mereka biasa berdoa. banyak hal baru yang kami temukan disana. Di antaranya adalah kebiasaan mereka yang akan selalu berdoa dimanapun kami menemukan candi atau pagoda. Mereka akan berdoa dengan khusu'nya.
Masyarakat di Battambang cukup ramah terhadap orang asing. Mengingat Battambang adalah kota kedua terbesar di Cambodia sehingga masyarakat telah terbiasa dengan kedatangan orang asing di kota mereka. Kami hanya sedikit kesulitan ketika harus berkomunikasi dengan mereka karena kebanyakan dari mereka tidak begiu paham menggunakan Bahasa Inggris. Terutama ketika kami berbelanja di pasar tradisional yang memerlukan tawar menawar, jadilah kami menggunakan sistem tawar menawar menggunakan kalkulator. kami hanya tinggal mengetikkan harga yang kami kehendaki dan membelinya ketika harga telah di sepakati. Namun kondisi ini juga tidaklah jauh berbeda jika kita bandingkan dengan Indonesia. Jadi bagiku ini tidak terlalu mencengangkan.
Pernah satu waktu saat kami ingin membeli Es batu untuk berbuka puasa kami mengalami hal yang sangat menggelikan. Sore itu kami mendatangi pedagang es yang berada di sekitar gerbang depan universitas dan bermaksud membeli es batu. Peagang cantik itu masih muda, kira-kira sebaya dengan kami. Ia tersenyum ramah melayani kami. lantas kami menunjuk es batu yang telah di pecah menjadi kecil-kecil dalam wadah milik si penjual sambil berkata kami ingin yang lebih besar.
Ia mengangguk tersenyum dan membungkuskan kami es tebu lemon yang ia jual. Kami menggeleng, dan berkata kami hanya ingin es batu nya saja. Ia mengerenyitkan dahi tak mengerti dan menoleh kepada salah satu mahasiswa yang kebetulan sedang duduk disana dan berdialog dalam bahasa yang tak kami mengerti. Lalu ia mengangguk dan tersenyum mengerti.
Ia membungkuskan kami es batu yang kami pesan, namun dalam cup es yang ia jual. Lagi-lagi kami menggeleng dan bilang itu terlalu sedikit kami ingin yang lebih besar. Lagi-lagi ia mengerenyitkan dahi tanda tak mengerti dan kembali berdialog dalam bahasa yang tak kami mengerti. Lalu ia tersenyum dan berkata kepada kami seolah meminta kami menunggu sebentar, kami mengangguk. Ia lalu masuk kedalam rumahnya beberapa saat. Kami tersenyum akhirnya ia mengerti keinginan kami dan mengambikan kami es batu yang masih utuh.
Namun diluar dugaan, ia keluar  tidak membawa es batu yang kami pesan melainkan membawa plastik besar. Ia kemudian mengantongi es batu ingga memenuhi kantong plastk besar yang ia bawa. Kami hanya saling pandang dan menahan tawa. Karena merasa tidak enak telah menyusahkan akhirnya kami menerima saja. Saat kami bertanya berapa harga yang harus kami bayar, ia kembali kebingungan. Ia bertanya kembali kepada mahasiswa disana yang juga mengangkat bahu. Akhirnya kuputuskan untuk membuka dompetku dan membiarkan ia memilih uang yang harus kami bayar. Ia mengambil dua lembar uang seribuan riel. Sekitar lima ribuan lebih kalau di konversi ke rupiah. Wah harga yang cukup mahal untuk sekantong es batu kerikil, -_- setelah itu kami kembali ke dormitory dengan tak henti-hentinya tertawa akan kebodohan kami barusan, hahaha 
Malam- malam di Battambang kami habiskan dengan berkeliling kota Battambang. Jarak universitas dengan pusat kota memang tidak terlalu jauh. Kami menggunakan sepeda untuk berkeliling kota dan menikmati udara malam serta kuliner Battambang yang tidak bisa kami lakukan disiang hari karena kami sedang berpuasa. Para pria (baca: Kak Ronald dan Aldi) bertugas menyetir (baca: menggoes sepeda) sementara kami para wanita bertugas menyemangati (baca: di bonceng).

 Thank Udah Nyetir Buat Kami *Peyuukk

Tempat favorit kami untuk menghabiskan malam adalah di sebuah kafe bernama "White Rose". Kami bisa menghabiskan waktu berjam-jam disana bahkan pernah sampai gerbang universitas telah di tutup saat kami kembali. Kami menghabiskan waktu dengan memesan es krim seharga satu dollar per gelas nya. Terkadang kami juga memesan makanan yang di tawarkan, salah satunya "Amok" makanan khas Cambodia yang terbuat dari ikan. Rasanya seperti opor tapi tampilannya seperti ikan pepes. Rasanya tidak diragukan lagi.
 Terkadang kami menghabiskan waktu kami dengan duduk bersantai di pinggiran "Sangke River" yang membelah kota sembari menikmati makanan ringan yang kami beli sebelumnya. Sungai besar itu seringkali banjir apabila musim hujan tiba.

 Pose dulu lahh :D
Ini Foto SatNite Pertama di Battambang, kyaa Miss Yu Gal :'(