Minggu, 25 Mei 2014

Akhir Pekan Kamu, Bintang.

Tahukah kamu bintang, langit malam ini nampaknya sedang tidak terlalu senang. Langit yang kupandangi dari beranda rumahku hanya menyisakan beberapa bintang yang tak seberapa indah dibanding kamu.
Bagaimanalah aku akan turut senang?
Bintang, malam ini tentunya kamu tengah bersantai. Bukankah begitu seharusnya? Bayaran untuk lelah kamu atas kesibukan kamu yang selalu membuatmu penat.
Aku sedang mengira ngira apa yang tengah dan akan kamu lakukan.
Kalau aku tidak salah kira, kamu pasti tengah memainkan permainan yang biasa kamu mainkan, bersama teman kamu yang juga temanku. Andai aku layar yang terus kamu pandangi dan kursi tempat kamu menyandarkan bahu kamu, mungkin akan sangat menyenangkan.
Atau jika kamu tidak melakukan apa apa malam ini, ceritakan padaku apa yang kamu lakukan petang tadi. Misalnya pukul berapa kamu bangun dari istirahat siang kamu. Atau kamu mungkin menghabiskan waktu berkeliling.
Hei Bintang, tadi saat matahari dengan garangnya membakar bumi, aku dan teman temanku yang juga adalah teman teman kamu mengunjungi sebuah tempat yang indah.
Aku tak begitu ingat pukul berapa, yang jelas kamu harus mengenakan jaket kesayangan kamu agar tidak kepanasan, mungkin juga penutup kepala.
Tadi, ditempat yang kami kunjungi kamu dapat dengan jelas menatap ombak, menepi menuju hati kamu.
Sayangnya ombak sedang tak mau berteman denganku, bintang. Tak dapat kulukis nama kamu di pasirnya yang sedikit menghitam. Mungkin lain kali, saat aku kembali.
Aku tidak tahu bintang, apakah kamu pernah, mau dan akan mengunjungi tempat ini.
Jalanannya berbatu, terjal. Tapi apalah artinya ketika kamu kan mendengar merdunya suara alam, bintang.
Aku akan senang hati membuatkan kamu puisi yang bisa kamu baca selagi ombak terus mengejar tepi.
Mungkin yang lebih menyenangkan kita dapat mengambil gambar kita berlatar tebing merah yang menjulang.
Maukah kamu bintang ?
Tadi, mereka lagi lagi bertanya siapa kamu. Mereka menyebutkan nama nama yang membuatku tergelak, bintang.
Berulang kali kukatakan pada mereka namamu bintang, bukankah demikian?
Bintang, barangkali di lain pekan kamu berniat mengunjunginya bersama. Bukankah itu akan menjadi akhir pekan yang menyenangkan, bintang ?


24 Mei 2014 21:12

Sederhana Saja, Bintang.

Seharusnya malam ini aku sudah terlelap. Seperti kamu yang mungkin tengah memeluk guling kamu dengan nyaman. Dibawah balutan dingin sisa hujan, bermimpi akan esok yang mungkin jauh lebih indah, mungkin juga jauh lebih sibuk dari biasanya.
Seharusnya dan selayaknya aku tak kembali menulis sajak, sajak sajak yang kerap kali mengusik kamu. Tapi entahlah bintang, sejak hari itu, hari dimana kamu tahu dan memutuskan menjauh, aksara ini mengalir begitu saja. Aku telah kehabisan cara menghentikannya.
Bintang, tak lama lagi nampaknya kita tak kan jumpa sesering dulu.
Kamu akan sibuk sekali tentunya, dipenghujung tahun terakhir kita.
Kamu juga akan pergi ketempat yang baru bagi kamu, ah, mungkin juga tidak. Bukankah tempat itu dekat kota kelahiran kamu ? Sebelah utara dari kota ini.
Begitupun aku, pergi ketempat asing yang mungkin tidak pernah terpikir oleh kamu.
Bintang, semakin aku menyelami hati kamu semakin aku tak mengerti.
Ketika hampir setiap malam aku terjaga hanya untuk memastikan kamu telah terlelap.
Bintang, ketika semua menjadi kian rumit dan menyesakkan, maukah kiranya kamu menyapaku seperti mula ? Bukankah itu sederhana saja, bintang ?


23 Mei 2014 23:45

Hujan, Bintangku Sedang Apa ?

Rinai yang kesekian kalinya memaksaku tepekur disini.
Disudut ruang persegi yang kunamai kamar tidur.
Menatapi tiap bulir yang jatuh mengikis tandusnya tanah di halaman rumahku, mungkin juga di halaman rumah sewaan kamu.
Guntur juga bergemuruh, hebat sekali.
Apakah kamu menyukai hujan, bintang?
Setidaknya hujan memaksa kamu beristiraht sejenak dari penat kamu, dari semua urusan penting yang menyita waktu kamu.
Atau kamu malah membenci hujan yang telah merenggut semua waktu kamu yang berharga. Semua waktu kamu yang seolah selalu tergesa.
Bintang, sekiranya hujan tak jua mau reda, aku penasaran apa yang akan kamu lakukan.
Bukankah hari ini kamu harus menghadiri banyak jadwal di gedung belajar kita.
Apakah kamu akan nekat melewati hujan dengan kendaraan yang biasa kamu gunakan.
Tidak khawatirkah sepatu kamu akan basah, baju kamu akan kuyup, atau jam tangan kamu akan dibasuh hujan.
Ah, aku lebih takut lagi kamu akan terkena flu dan sakit kepala misalnya.
Bintang, sekiranya kamu tetap memaksa melalui hujan bolehkah aku menemani kamu.
Menapaki jalanan yang basah, memayungi kamu tentunya. Mungkin kita dapat bertelanjang kaki agar sepatu kamu tidak basah dan kamu tidak kedinginan.
Bintang, atau bila kamu enggan menyusuri hujan, kita bisa melakukan hal menyenangkan lain, minum teh dan mendengarkan musik kesayangan kamu misalnya, tentu saja sambil bercengkrama.
Kan ku ceritakan lelucon lelucon yang mungkin dapat kita tertawakan bersama.
Bintang, hujan begini kamu sedang apa ?


23 Mei 2014 pukul 9:41

15.10 WIB Catatan Di Sela-Sela Presentasi Di Gedung Belajar Kita.

Catatan ini kubuat disela sela presentasi digedung belajar kita, tadi.
Diujung sana, kamu tertawa pada hal yang sama yang aku tertawakan.
Bukankah ini menyenangkan, bintang?
Melihat tawa kamu yang belakangan mulai tak sering lagi kujumpai.
Tawa yang begitu berharga, dibalik sendu mata kamu.
Dan lagi, kamu diujung sana. Radius sepuluh meter ke utara dari tempatku berada.
Kali ini warna yang berbeda dari kemarin, bukan lagi jaket gelap pekat.
Kamu kembali ke tabiat kamu yang biasa, kamu kenakan baju tradisional yang kamu punya.
Mungkin kamu sangat menyukainya, hingga seringkali kamu mengenakannya.
Dan kamu tahu bintang, aku juga menyukainya. Aku akan menyukai apapun yang kamu suka, bintang.
Tadi, beberapa saat lalu digedung satunya, tempat kita menyelesaikan segala sesuatunya.
Segala sesuatu yang mungkin kamu anggap penting.
Entahlah, aku mulai bingung hal mana yang kamu anggap penting dan mana yang tidak kamu anggap penting.
Yang jelas dan teramat penting bagiku adalah, kamu menatapku.
Kali ini, bukan hanya perasaanku, kali ini nyata, dan aku tahu itu kamu, bintang.
Kamu yang kini mulai terlalu sering berada dipikiranku, berlari lari diotakku.
Apakah kamu tidak bosan mendengarkan materi materi yang sama?
Penyampaian yang seperti itu itu saja.
Kemarilah, lihatlah, kubuatkan sebuah puisi untuk kamu.
Puisi yang mungkin lebih menarik untuk kamu baca, dibanding materi materi yang sama sekali tidak kita mengerti.
Catatan ini kubuat disela sela presentasi digedung belajar kita.
Disela sela tawa kamu yang begitu menggodaku untuk menuliskan sajak ini.
Sajak yang entah kali ini kan indah atau tidak.
Aku tak peduli, bintang.
Bagiku, saat kamu tertawa pada hal yang sama yang aku tertawakan.
Tawa itu begitu berharga, bintang.


Bengkulu, 22 Mei 2014

Rabu, 21 Mei 2014

Dalam Jarak Sejauh Ini, Bintang,

Maafkan aku bintang, kemarin dan kemarin lusa pula aku tak menepati janjiku.
Dua sajak yang harusnya ku hadirkan lebih awal, maaf bintang.
Tadi, disaat kembali ku tatap mata kamu, ketenangan itu kembali dihatiku.
Kesenduan mata kamu, keanggunan perilaku kamu, masih sama seperti dulu. Dibalik jaket gelap yang kamu kenakan, kamu tersenyum. Simpul saja, dari radius sepuluh meter di sebelah utara tempatku duduk. Aku menatap kamu takzim, diantara kecamuk hati yang masih terluka.
Diantara riuhnya omong kosong di gedung belajar kita, kamulah salah satunya alasanku tetap betah, bertahan dengan semua kemunafikan yang ditawarkan.
Bintang, tahukah kamu kemarin dan kemarin lusa disaat aku tak menepati janjiku, begitu banyak yang terjadi.
Sungguh bintang, aku ingin berceritera pada kamu. Mendengar apa pendapat kamu akan ceritaku, atau setidaknya melihat wajah kamu bersimpati akan ceritaku.
Tapi bagaimanalah bintang, bahkan kamu kini benar telah lenyap dari radarku, tak pernah menampakkan diri ditempat kamu biasanya dapat kupandangi.
Tadi, dibalik jaket gelap yang kamu kenakan, aku melihat kamu menatapku.
Entah, mungkin saja aku salah tafsir bukan? Dari radius sepuluh meter aku melihat kamu tersenyum bintang, senyum yang bagiku selalu menenangkan meski dalam kecamuk yang tetap membuatku terluka.
Bukankah kamu tetap berada disana, dari radius sepuluh meter sebelah utara dari tempatku duduk, dengan senyum simpul kamu. Dari jarak sejauh ini, kamu berikan aku ketenangan

Sabtu, 17 Mei 2014

Puisi Untuk Kamu, Bintang..

Bintang, untuk kesekian kalinya tak kujumpai kamu. Maaf, tak kupenuhi janjiku menuliskan puisi untuk kamu semalam. Lantaran banyak sekali yang ada dipikiranku, banyak sekali yang berdesakan didalamnya. Ah,tidak. Tidak berarti aku tidak memikirkan kamu. Bukan begitu maksudku, bintang.
Aku hanya membutuhkan waktu, sejenak saja untuk berpikir. Setidaknya memikirkan kembali tentang kita. Ah, tentang perasaanku saja tepatnya.
Kamu memang baik, begitu kataku pun temanku yang juga teman kamu.
Mungkin kamu tersenyum pada siapapun yang memang kamu jumpai, dijalanan yang biasa kamu lewati, gedung belajar kita, pun di kantin tempat kamu biasa memesan makan siang.
Hanya saja, aku selalu menganggapnya spesial, sama spesialnya saat kamu kenakan kemeja cokelat tuamu, atau pakaian tradisional bermacam warna yang kamu punya.
Sapaan itu juga hangat, sama hangatnya ketika sinar surya menerobos celah jendela kamarku.
Bintang, sebenarnya banyak sekali hal yang harus kuselesaikan, kubaca, dan kupahami.
Nanti dihari senin, banyak sekali hal yang harus kulewati. Menjawab soal soal pelik, misalnya menanti untuk kami selesaikan.
Tahukah kamu bintang, semua demi almamater kita.
Dan bolehkah aku berharap kamu nanti duduk disana, menyemangati hatiku.
Tidak perlulah kamu berteriak macam suporter bola, cukup diam dan tersenyum saja.
Hah, Tapi kini aku lebih suka menarikan jemariku, bercerita tentang kamu.
Kamu yang bagiku selalu spesial. Sama spesialnya saat kamu pertama kali kukenal.
Setidaknya malam ini kupenuhi janjiku.
Satu puisi untuk kamu, dan lagi, berbaris dalam draft aksara yang menanti untuk kamu baca

Bagaimanlah, Bintang ?

Aku tersuruk dalam senyapnya malam.
Malam yang indah,seharusnya.
Rembulan yang kian bundar tetap setia menggantung diatas sana. Sama layaknya aku yang setia menggantungkan asa.
Esok, disaat ku langkahkan kaki ke gedung belajar kita. Gedung tempat pertama kali kita bertemu aku berharap dapat menyapa kamu.
Kamu yang belakangan makin jarang ku temukan, disetiap nyata pun maya. Apakah benar kamu merasa begitu terganggu akan sajak sajak bodohku?
Aku tak memaksa kamu membacanya bila benar tak ingin. Pun tak pernah menyuruh kamu diam disini agar dapat ku sentuh jemari kamu. Aku membiarkan kamu pergi, berlari, atau sekedar berdiam diri. Tetap dengan mata sendu kamu, senyum khas kamu, serta anggun perilaku kamu. Bahkan tak ada yang lebih berharga dari itu. Tak perlulah menghabiskan waktu berlama lama membaca sajakku, mengomentari tiap klausaku, bila benar kamu tak lagi ingin.
Bila saja semua tetap pada tempatnya. Tak perlu pula mereka tahu akan kita. Tentulah semua tetap berjalan seperti mula. Disaat kita berteman biasa, dengan temanku yang juga teman kamu.
Bintang, bagaimanalah langit tak bermuram durja. Kehilangan kamu yang tak lagi mau menyapa. Bagaimanalah rembulan tak menangis, bila bintang bahkan tak lagi hendak menemaninya menulis sajak sajak nya, melukiskan sinarnya saja bintang telah enggan. Bagaimanlah bisa, bintang ?

Bintangnya Rembulan..

Bintang, apakah kamu melihat bundarnya rembulan di atas sana? Indah menggantung.
Menyenangkan memandangnya. Apakah kamu tengah memandang rembulan yang sama ?
bukankah kamu telah selesai dengan semua tugas tugas kamu. Bukankah kini kamu punya sedikit waktu, setidaknya sekedar untuk membaca tulisan tulisanku.
Bintang, tadi setidaknya ku temukan sosok kamu. Meski ku tahu kamu bahkan tak ada waktu untuk sekedar memasukkan namaku di daftar teman yang ingin kamu sapa, tadi di ruangan putih berpendingin yang nyaris membuatku beku. Sebeku wajah kamu, sebeku sikap kamu.
Dan lagi, aku penasaran. Berapa koleksi pakaian tradisional yang kamu punya.
Pakaian yang biasa kamu kenakan di gedung belajar kita.
Bintang, bukankah pernah ku katakan pada kamu. Aku mengagumi senyum kamu. Dan kamu tertawa waktu itu. Kamu kira aku bercanda. Kamu bilang itu lelucon. Bahkan sebenarnya aku tak pernah lebih serius dari saat itu. Tapi tak apa, biarlah. Toh mungkin saja itu tidak lebih penting dari kegiatan kamu memandang rembulan.
Bintang, andai rembulan itu aku, masihkah kamu sudi memandangnya?
bukankah kamu dapat memandangku tak hanya dimalam sepi, tapi setiap pagi digedung belajar kita ? Atau sekedar memasukkan namaku dalam daftar teman yang mungkin kamu sapa ?

Catatan Kecil Untuk kamu Baca, Sebelum Tidur :)

Tadi, disaat sosok kamu tak kujumpai, susah payah aku membujuk hatiku yang merajuk.
Mungkin kamu memang tengah terlalu sibuk dengan paper pun tugas dengan deadline yang kian mendekat.
Aku juga lelah, bintang. Aku juga ingin beristirahat dari penat, sama seperti kamu.
Bintang, ditempatku hujan turun dengan riangnya. Menyirami tanah merah tandus yang kini mulai becek.
maukah kamu menari bersamaku di bawah hujan? Menatapi langit meski tanpa gemintang, tapi bukankah kamu bintang paling terang? Lalu apa lagi yang kita butuhkan?
Sayangnya kamu bahkan kini tak nampak. Tertutup kabut kesibukan kesibukan yang menanti kamu selesaikan. Kesibukan kesibukan tanpa muara.
dapatkah aku membantumu? Mengetikkan sesuatu misalnya. Agar kamu kembali menyapaku.
Membaca catatan pun sajakku yang mulai usang berdebu.
Ini catatan kecil yang mungkin bisa kamu baca, sebelum tidur misalnya.
Catatan kecil antara aku, kamu, dan Hujan.

Mata Kamu Bintang :)

Tadi, saat tanpa sengaja kita bertemu, tanpa sengaja pula aku menatap mata kamu.
Ah, dusta ! Sebenarnya bahkan aku sudah lelah mencari sosok kamu, memandangmu untuk kemudian berhenti di mata kamu.
Mata sendu yang dengan nya aku melihat sejuta keindahan disana.
Dan lagi, kamu kenakan pakaian tradisional kamu yang dulu pernah ku katakan pada kamu kalau aku menyukainya.
Sayangnya, kini tak berani ku katakan hal yang sama.
Sayangnya, aku takut kamu tak lagi tersenyum seperti saat dulu ku katakan hal itu.
Sayangnya, aku takut kamu tak akan menganggapnya begitu penting, Lantaran begitu banyak hal penting yang harus kamu urus. Tugas tugas kamu misalnya.
Tadi, saat tanpa sengaja kita bertemu. Aku berharap kamu tersenyum, simpul saja. Namun aku berbalik, memunggungi kamu yang entah sedang sibuk sepertinya. Aku tak berani menatapnya lama, mata kamu yang isyaratkan penatmu.
Setidaknya aku menemukan kamu, diantara riuh dan panasnya hari.
Setidaknya meski tanpa sengaja (dusta) ku temukan sendu mata kamu, bintang.
:)

Kamu Menghilang Bintang !

Dan kamu menghilang bersama rinai hujan yang mereda, menyisakan bulir basah di jendela kaca serta keping cerita yang jauh dari selesai.
Bahkan cerita ini harusnya baru saja hendak dimulai.
Kamu menjauh, bahkan bayangmu saja kini tiada lagi mampu ku rengkuh.
Aku mendadak melankolis, ketika sajak sajak yang kutulis kini berdebu, bahkan kotor oleh jaring laba laba.
Ratusan aksara, dan lagi menanti untuk kamu baca.
Kamu dimana, sementara aku tahu kamu tetap disana.
Ada yang berbeda ketika kamu tak lagi menapakkan jejakmu disekitarku, ada yang hilang ketika kamu tak lagi setia berceloteh tentang tulisan tulisanku tentang kamu.
Kamu yang tak pernah tahu bila kamu lah objek di tiap klausaku, ah, atau mungkin saja kamu tahu, ah, aku tak tahu. .
Dan kamu menghilang dari radarku, bahkan ketika cerita ini baru akan dimulai.
Tidak bintang, kisah ini jauh dari selesai..

Kamu Bermakna Jamak..

Sajak ini tentang kamu, selalu saja kamu, tokoh dalam cerita pun puisiku..
Mereka bertanya siapa kamu? Sama sepertiku yang bertanya pula siapa kamu.
Kamu yang pertama, iya kamu.. Kamu yang pernah mengisi hariku 'dulu'
kamu yang kedua, iya kamu.. Kamu yang menyerupai 'kamu yang pertama' hingga aku terpesona..
Kamu yang ketiga, iya kamu.. kamu yang pernah kujumpa hitungan 48 jam saja, meski tanpa tegur pun sapa..
Kamu yang keempat, iya kamu.. Kamu yang tawarkan persahabatan yang kini entah bertransformasi menjadi apa..
Kamu yang kelima, iya kamu.. Kamu yang kukenal dalam diammu, kekakuan dan keanggunan perilakumu, pemilik senyum dibalik pakaian tradisional beragam warna yang sering kamu kenakan.
Ada begitu banyak kamu dalam catatanku, Kamu bermakna jamak yang takkan pernah habisnya meski kutulis beribu sajak.
Mereka bertanya siapa kamu, biar saja mereka menerka, bukankah kamu adalah tokoh utama ceritaku? Sudah, cukup itu saja !

^_^

Aku mulai mengagumi kamu, ah tidak, tepatnya aku kembali mengagumi kamu..
Nama yang selalu terukir di setiap catatan kecilku, entah itu tentang kamu, tentang aku, atau tentang kamu dan aku..
Menapaki semua dalam diam, diam kamu yang semakin mengusik jemariku untuk terus menarikan segurat tanya dalam pena merah.
Bukankah kamu telah mengenalku, seperti temanku yang juga teman kamu mengenaliku ?
Bukan apa apa, walau tak bilang tetap saja sama indahnya bukan?
Meski dalam diam, tetap saja menyenangkan bukan?
Kamu sedang apa?
apa kamu tengah mengantuk dengan tugas tugas kamu yang menumpuk?
Ah, selalu saja tentang kamu. Apakah ada aku di setiap catatan kecilmu?
Sekali saja, meski dalam diam, tetap saja menyenangkan bukan?
^_^

Kamis, 08 Mei 2014

Kamu..

Dan akupun mulai berharap, hujan turun lebih cepat
Agar mampu kusembunyikan rona merah wajahku di balik rinai..
dan mulai aku berharap, pelangi muncul lebih cepat
Agar kulihat lengkung senyum kamu
indah, menggantung.. Dan aku mulai berharap,
mentari terbit lebih cepat
Agar nanti ku bagi indahnya pagi bersama kamu..
dan ak berharap riak gelombang menepi lebih cepat,
Agar dapat segera ku tuju tepi hati kamu..
Kamu tahu, setiap deretan sajak ini bermuara ke hati kamu
Kedalaman hati Kamu yang tidak pernah mampu aku selami
Kamu tersenyum nan renyah dibalik wajah sendu menawanmu,
Bagaimanalah mengagumi seperti ini ?
dan aku mulai berharap, malam datang lebih cepat
Agar mampu bayangmu kudekap
Merengkuh lengkung senyum kamu dalam senyap

Jumat, 02 Mei 2014

Sayang . . .

Senja ini berbeda, tanpa sengaja bayangmu datang lg disini sayang,,
ah,masih bolehkah kau kupanggil begitu ?
gugur daun musim semi, semua kering sayang. . Tapi tetap tak ada yg hilang dari sebuah kenangan..
sayang, bolehkah aku sedikit brceloteh tentang kita ? Tentang aku, kau dan masa itu?
Ragamu tak lagi kulihat nyata, petikan gitar dengan nyanyian indah itu juga tak lagi kudengar. .

Ingatkah kau, saat disemua syair lagumu dulu kau ganti dengan menyebut namaku, aku malu, tapi kau tau? Saat itu pula aku ingin erat mendekapmu. .
membisikkan kata yg rasa rasanya dulu sedikit sekali kukatakan pdamu, aku cinta kau dan pribadimu. .
kau tau sayang, ada yg bilang padaku hal ini. . "kesetiaan wanita dan pria itu berbeda"
ya,aku tau sayang. .
jelas saja itu benar, aku wanita dan kau pria? Kesetiaan kita jelaslah berbeda,,
meski tak ada lagi namaku dalam tiap syair lagumu, tak berarti aku harus berhenti setia bukan? Bukankah tidak ada yg salah dalam hal ini? Lalu mengapa mereka seolah turut masuk kedlam kisah ini ? Siapa mereka ?

Perasaan . . .

Ah, aneh sekali yg dinamakan perasaan itu, cepat sekali brubahnya..
kadang semendung langit kala hujan, seterang gemintang saat malam, penuh warna seperti pelangi cepat sekali perginya..
Baru kemarin rasanya aku tertunduk malu malu menatap wajah sendu menawanmu, memandang kokoh punggungmu, harap cemas saat qt brjanji brtemu. .
tapi entah kini suka itu menguap begitu saja.. Hilang brsama rintik hujan yg mereda, lenyap brsama gemintang kala pagi menjelma, musnah brsama semburat pelangi 7 warna..
aneh sekali yg namanya perasaan itu cepat pudarnya. .
ah, memang benar kata mereka.. Smua lbih indah saat proses kau mendapatkannya, ah, cepat suka cepat pula hilangnya..