Bagaimanalah aku akan turut senang?
Bintang, malam ini tentunya kamu tengah bersantai. Bukankah begitu seharusnya? Bayaran untuk lelah kamu atas kesibukan kamu yang selalu membuatmu penat.
Aku sedang mengira ngira apa yang tengah dan akan kamu lakukan.
Kalau aku tidak salah kira, kamu pasti tengah memainkan permainan yang biasa kamu mainkan, bersama teman kamu yang juga temanku. Andai aku layar yang terus kamu pandangi dan kursi tempat kamu menyandarkan bahu kamu, mungkin akan sangat menyenangkan.
Atau jika kamu tidak melakukan apa apa malam ini, ceritakan padaku apa yang kamu lakukan petang tadi. Misalnya pukul berapa kamu bangun dari istirahat siang kamu. Atau kamu mungkin menghabiskan waktu berkeliling.
Hei Bintang, tadi saat matahari dengan garangnya membakar bumi, aku dan teman temanku yang juga adalah teman teman kamu mengunjungi sebuah tempat yang indah.
Aku tak begitu ingat pukul berapa, yang jelas kamu harus mengenakan jaket kesayangan kamu agar tidak kepanasan, mungkin juga penutup kepala.
Tadi, ditempat yang kami kunjungi kamu dapat dengan jelas menatap ombak, menepi menuju hati kamu.
Sayangnya ombak sedang tak mau berteman denganku, bintang. Tak dapat kulukis nama kamu di pasirnya yang sedikit menghitam. Mungkin lain kali, saat aku kembali.
Aku tidak tahu bintang, apakah kamu pernah, mau dan akan mengunjungi tempat ini.
Jalanannya berbatu, terjal. Tapi apalah artinya ketika kamu kan mendengar merdunya suara alam, bintang.
Aku akan senang hati membuatkan kamu puisi yang bisa kamu baca selagi ombak terus mengejar tepi.
Mungkin yang lebih menyenangkan kita dapat mengambil gambar kita berlatar tebing merah yang menjulang.
Maukah kamu bintang ?
Tadi, mereka lagi lagi bertanya siapa kamu. Mereka menyebutkan nama nama yang membuatku tergelak, bintang.
Berulang kali kukatakan pada mereka namamu bintang, bukankah demikian?
Bintang, barangkali di lain pekan kamu berniat mengunjunginya bersama. Bukankah itu akan menjadi akhir pekan yang menyenangkan, bintang ?
24 Mei 2014 21:12
Bintang, malam ini tentunya kamu tengah bersantai. Bukankah begitu seharusnya? Bayaran untuk lelah kamu atas kesibukan kamu yang selalu membuatmu penat.
Aku sedang mengira ngira apa yang tengah dan akan kamu lakukan.
Kalau aku tidak salah kira, kamu pasti tengah memainkan permainan yang biasa kamu mainkan, bersama teman kamu yang juga temanku. Andai aku layar yang terus kamu pandangi dan kursi tempat kamu menyandarkan bahu kamu, mungkin akan sangat menyenangkan.
Atau jika kamu tidak melakukan apa apa malam ini, ceritakan padaku apa yang kamu lakukan petang tadi. Misalnya pukul berapa kamu bangun dari istirahat siang kamu. Atau kamu mungkin menghabiskan waktu berkeliling.
Hei Bintang, tadi saat matahari dengan garangnya membakar bumi, aku dan teman temanku yang juga adalah teman teman kamu mengunjungi sebuah tempat yang indah.
Aku tak begitu ingat pukul berapa, yang jelas kamu harus mengenakan jaket kesayangan kamu agar tidak kepanasan, mungkin juga penutup kepala.
Tadi, ditempat yang kami kunjungi kamu dapat dengan jelas menatap ombak, menepi menuju hati kamu.
Sayangnya ombak sedang tak mau berteman denganku, bintang. Tak dapat kulukis nama kamu di pasirnya yang sedikit menghitam. Mungkin lain kali, saat aku kembali.
Aku tidak tahu bintang, apakah kamu pernah, mau dan akan mengunjungi tempat ini.
Jalanannya berbatu, terjal. Tapi apalah artinya ketika kamu kan mendengar merdunya suara alam, bintang.
Aku akan senang hati membuatkan kamu puisi yang bisa kamu baca selagi ombak terus mengejar tepi.
Mungkin yang lebih menyenangkan kita dapat mengambil gambar kita berlatar tebing merah yang menjulang.
Maukah kamu bintang ?
Tadi, mereka lagi lagi bertanya siapa kamu. Mereka menyebutkan nama nama yang membuatku tergelak, bintang.
Berulang kali kukatakan pada mereka namamu bintang, bukankah demikian?
Bintang, barangkali di lain pekan kamu berniat mengunjunginya bersama. Bukankah itu akan menjadi akhir pekan yang menyenangkan, bintang ?
24 Mei 2014 21:12
Tidak ada komentar:
Posting Komentar