Minggu, 25 Mei 2014

15.10 WIB Catatan Di Sela-Sela Presentasi Di Gedung Belajar Kita.

Catatan ini kubuat disela sela presentasi digedung belajar kita, tadi.
Diujung sana, kamu tertawa pada hal yang sama yang aku tertawakan.
Bukankah ini menyenangkan, bintang?
Melihat tawa kamu yang belakangan mulai tak sering lagi kujumpai.
Tawa yang begitu berharga, dibalik sendu mata kamu.
Dan lagi, kamu diujung sana. Radius sepuluh meter ke utara dari tempatku berada.
Kali ini warna yang berbeda dari kemarin, bukan lagi jaket gelap pekat.
Kamu kembali ke tabiat kamu yang biasa, kamu kenakan baju tradisional yang kamu punya.
Mungkin kamu sangat menyukainya, hingga seringkali kamu mengenakannya.
Dan kamu tahu bintang, aku juga menyukainya. Aku akan menyukai apapun yang kamu suka, bintang.
Tadi, beberapa saat lalu digedung satunya, tempat kita menyelesaikan segala sesuatunya.
Segala sesuatu yang mungkin kamu anggap penting.
Entahlah, aku mulai bingung hal mana yang kamu anggap penting dan mana yang tidak kamu anggap penting.
Yang jelas dan teramat penting bagiku adalah, kamu menatapku.
Kali ini, bukan hanya perasaanku, kali ini nyata, dan aku tahu itu kamu, bintang.
Kamu yang kini mulai terlalu sering berada dipikiranku, berlari lari diotakku.
Apakah kamu tidak bosan mendengarkan materi materi yang sama?
Penyampaian yang seperti itu itu saja.
Kemarilah, lihatlah, kubuatkan sebuah puisi untuk kamu.
Puisi yang mungkin lebih menarik untuk kamu baca, dibanding materi materi yang sama sekali tidak kita mengerti.
Catatan ini kubuat disela sela presentasi digedung belajar kita.
Disela sela tawa kamu yang begitu menggodaku untuk menuliskan sajak ini.
Sajak yang entah kali ini kan indah atau tidak.
Aku tak peduli, bintang.
Bagiku, saat kamu tertawa pada hal yang sama yang aku tertawakan.
Tawa itu begitu berharga, bintang.


Bengkulu, 22 Mei 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar