Maafkan aku bintang, kemarin dan kemarin lusa pula aku tak menepati janjiku.
Dua sajak yang harusnya ku hadirkan lebih awal, maaf bintang.
Tadi, disaat kembali ku tatap mata kamu, ketenangan itu kembali dihatiku.
Kesenduan mata kamu, keanggunan perilaku kamu, masih sama seperti
dulu. Dibalik jaket gelap yang kamu kenakan, kamu tersenyum. Simpul
saja, dari radius sepuluh meter di sebelah utara tempatku duduk. Aku
menatap kamu takzim, diantara kecamuk hati yang masih terluka.
Diantara riuhnya omong kosong di gedung belajar kita, kamulah salah
satunya alasanku tetap betah, bertahan dengan semua kemunafikan yang
ditawarkan.
Bintang, tahukah kamu kemarin dan kemarin lusa disaat aku tak menepati janjiku, begitu banyak yang terjadi.
Sungguh bintang, aku ingin berceritera pada kamu. Mendengar apa
pendapat kamu akan ceritaku, atau setidaknya melihat wajah kamu
bersimpati akan ceritaku.
Tapi bagaimanalah bintang, bahkan kamu kini benar telah lenyap dari
radarku, tak pernah menampakkan diri ditempat kamu biasanya dapat
kupandangi.
Tadi, dibalik jaket gelap yang kamu kenakan, aku melihat kamu menatapku.
Entah, mungkin saja aku salah tafsir bukan? Dari radius sepuluh
meter aku melihat kamu tersenyum bintang, senyum yang bagiku selalu
menenangkan meski dalam kecamuk yang tetap membuatku terluka.
Bukankah kamu tetap berada disana, dari radius sepuluh meter sebelah
utara dari tempatku duduk, dengan senyum simpul kamu. Dari jarak sejauh
ini, kamu berikan aku ketenangan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar