Bintang, untuk kesekian kalinya tak kujumpai kamu. Maaf, tak kupenuhi
janjiku menuliskan puisi untuk kamu semalam. Lantaran banyak sekali yang
ada dipikiranku, banyak sekali yang berdesakan didalamnya. Ah,tidak.
Tidak berarti aku tidak memikirkan kamu. Bukan begitu maksudku, bintang.
Aku hanya membutuhkan waktu, sejenak saja untuk berpikir. Setidaknya
memikirkan kembali tentang kita. Ah, tentang perasaanku saja tepatnya.
Kamu memang baik, begitu kataku pun temanku yang juga teman kamu.
Mungkin kamu tersenyum pada siapapun yang memang kamu jumpai,
dijalanan yang biasa kamu lewati, gedung belajar kita, pun di kantin
tempat kamu biasa memesan makan siang.
Hanya saja, aku selalu menganggapnya spesial, sama spesialnya saat
kamu kenakan kemeja cokelat tuamu, atau pakaian tradisional bermacam
warna yang kamu punya.
Sapaan itu juga hangat, sama hangatnya ketika sinar surya menerobos celah jendela kamarku.
Bintang, sebenarnya banyak sekali hal yang harus kuselesaikan, kubaca, dan kupahami.
Nanti dihari senin, banyak sekali hal yang harus kulewati. Menjawab soal soal pelik, misalnya menanti untuk kami selesaikan.
Tahukah kamu bintang, semua demi almamater kita.
Dan bolehkah aku berharap kamu nanti duduk disana, menyemangati hatiku.
Tidak perlulah kamu berteriak macam suporter bola, cukup diam dan tersenyum saja.
Hah, Tapi kini aku lebih suka menarikan jemariku, bercerita tentang kamu.
Kamu yang bagiku selalu spesial. Sama spesialnya saat kamu pertama kali kukenal.
Setidaknya malam ini kupenuhi janjiku.
Satu puisi untuk kamu, dan lagi, berbaris dalam draft aksara yang menanti untuk kamu baca
Tidak ada komentar:
Posting Komentar