Aku tersuruk dalam senyapnya malam.
Malam yang indah,seharusnya.
Rembulan yang kian bundar tetap setia menggantung diatas sana. Sama layaknya aku yang setia menggantungkan asa.
Esok, disaat ku langkahkan kaki ke gedung belajar kita. Gedung tempat pertama kali kita bertemu aku berharap dapat menyapa kamu.
Kamu yang belakangan makin jarang ku temukan, disetiap nyata pun
maya. Apakah benar kamu merasa begitu terganggu akan sajak sajak
bodohku?
Aku tak memaksa kamu membacanya bila benar tak ingin. Pun tak pernah
menyuruh kamu diam disini agar dapat ku sentuh jemari kamu. Aku
membiarkan kamu pergi, berlari, atau sekedar berdiam diri. Tetap dengan
mata sendu kamu, senyum khas kamu, serta anggun perilaku kamu. Bahkan
tak ada yang lebih berharga dari itu. Tak perlulah menghabiskan waktu
berlama lama membaca sajakku, mengomentari tiap klausaku, bila benar
kamu tak lagi ingin.
Bila saja semua tetap pada tempatnya. Tak perlu pula mereka tahu
akan kita. Tentulah semua tetap berjalan seperti mula. Disaat kita
berteman biasa, dengan temanku yang juga teman kamu.
Bintang, bagaimanalah langit tak bermuram durja. Kehilangan kamu
yang tak lagi mau menyapa. Bagaimanalah rembulan tak menangis, bila
bintang bahkan tak lagi hendak menemaninya menulis sajak sajak nya,
melukiskan sinarnya saja bintang telah enggan. Bagaimanlah bisa, bintang
?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar