Malam ini ketika aku rehat sejenak dari berbagai aktivitasku hari ini, aku rindu untuk kembali menulis sajak, bintang.
Sajak yang sejak beberapa malam lalu mulai kuabaikan.
Sebentar lagi bintang, hanya tinggal menunggu waktu. Semoga kamu baik baik saja bintang, meski sepertinya kamu sedikit enggan.
Bukankah awalnya kamu seperti menantikan hari itu, bukankah semuanya nanti akan sangat menyenangkan bagi kamu.
Bahkan kamu sampai lupa, akupun ingin tahu, bintang.
Malam ini, saat kamu tengah menikmati istirahat kamu, melepaskan lelah yang mengukung hati kamu, aku hanya ingin sedikit bercerita, pun bertanya.
Bagaimanalah aku kan ingkar, sementara kamu selalu ada di setiap ku menatap.
Ini bukan tentang perpisahan bintang, namun ini tentang asa yang kian redup dikala ratusan aksara yang kuuntai tidak jua dapat menyentuh hati kamu.
Hati tempatku memutuskan berhenti. Hati yang kian menenggelamkanku serupa samudra mengamuk kapal.
Malam ini ketika aku melangkah gontai menyusuri jalanan tanpa penerang, aku tak peduli bintang.
Karena kamu, selalu setia diatas sana menerangi pun memayungiku dari pekat malam.
Bintang, seharusnya aku mulai belajar mengabaikan bukan?
Karena aku tahu nyatanya kamu selalu enggan, bertanya pun kembali menyapa.
Selamat beristirahat, bintang.
Semoga kita bertemu, nanti di ujung waktu ketika kamu sudah lelah mengabaikan aku pun sajakku.
26 Juni 2014 pukul 19:26
Sajak yang sejak beberapa malam lalu mulai kuabaikan.
Sebentar lagi bintang, hanya tinggal menunggu waktu. Semoga kamu baik baik saja bintang, meski sepertinya kamu sedikit enggan.
Bukankah awalnya kamu seperti menantikan hari itu, bukankah semuanya nanti akan sangat menyenangkan bagi kamu.
Bahkan kamu sampai lupa, akupun ingin tahu, bintang.
Malam ini, saat kamu tengah menikmati istirahat kamu, melepaskan lelah yang mengukung hati kamu, aku hanya ingin sedikit bercerita, pun bertanya.
Bagaimanalah aku kan ingkar, sementara kamu selalu ada di setiap ku menatap.
Ini bukan tentang perpisahan bintang, namun ini tentang asa yang kian redup dikala ratusan aksara yang kuuntai tidak jua dapat menyentuh hati kamu.
Hati tempatku memutuskan berhenti. Hati yang kian menenggelamkanku serupa samudra mengamuk kapal.
Malam ini ketika aku melangkah gontai menyusuri jalanan tanpa penerang, aku tak peduli bintang.
Karena kamu, selalu setia diatas sana menerangi pun memayungiku dari pekat malam.
Bintang, seharusnya aku mulai belajar mengabaikan bukan?
Karena aku tahu nyatanya kamu selalu enggan, bertanya pun kembali menyapa.
Selamat beristirahat, bintang.
Semoga kita bertemu, nanti di ujung waktu ketika kamu sudah lelah mengabaikan aku pun sajakku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar