Bukankah seharusnya aku telah terbiasa?
Bukankah ini bukan kali pertama kamu mengabaikanku?
Tapi entah mengapa kali ini makin menusuk, menohok hati yang kian hampa.
Tidak, aku tahu kamu disana. Mungkin tengah bergelut dengan berbagai kesibukan yang tiada pernah kamu bagi bersamaku.
Dan aku hanya menatap sisa jejak kamu, tubuh kamu yang perlahan menjauh, hilang di ujung jalan yang biasa kamu lalui, tadi.
Bagaimanalah aku menyapa kamu, sementara semuanya kian rumit. Perasaan kamu yang entah mengapa tetap saja tak dapat kuselami.
Perasaanku yang entah mengapa kian membodohkanku.
Seharusnya kamu tidak perlu bertanya, karena kamu tentu telah tahu sebelum aku selesai berkata.
Bukankah semua sudah jelas, sejelas gemintang di kala malam ?
Ada yang tak lagi sama, setelah percakapan kita di malam itu.
Ada yang berkecamuk disini, membuat apapun yang kulakukan selalu dihantui lekuk wajah kamu.
Sementara kamu, serupa ada dan tiada.
Kamu kembali mengabaikanku, seharusnya aku telah terbiasa bukan ?
Namun entahlah bintang, semakin sakit saja. Pembicaraan malam itu kian membodohkanku, berharap waktu segera berlalu agar ku temukan ujung seperti katamu waktu itu.
Selamat malam, bintang.
19 Juni 2014 pukul 20:37
Bukankah ini bukan kali pertama kamu mengabaikanku?
Tapi entah mengapa kali ini makin menusuk, menohok hati yang kian hampa.
Tidak, aku tahu kamu disana. Mungkin tengah bergelut dengan berbagai kesibukan yang tiada pernah kamu bagi bersamaku.
Dan aku hanya menatap sisa jejak kamu, tubuh kamu yang perlahan menjauh, hilang di ujung jalan yang biasa kamu lalui, tadi.
Bagaimanalah aku menyapa kamu, sementara semuanya kian rumit. Perasaan kamu yang entah mengapa tetap saja tak dapat kuselami.
Perasaanku yang entah mengapa kian membodohkanku.
Seharusnya kamu tidak perlu bertanya, karena kamu tentu telah tahu sebelum aku selesai berkata.
Bukankah semua sudah jelas, sejelas gemintang di kala malam ?
Ada yang tak lagi sama, setelah percakapan kita di malam itu.
Ada yang berkecamuk disini, membuat apapun yang kulakukan selalu dihantui lekuk wajah kamu.
Sementara kamu, serupa ada dan tiada.
Kamu kembali mengabaikanku, seharusnya aku telah terbiasa bukan ?
Namun entahlah bintang, semakin sakit saja. Pembicaraan malam itu kian membodohkanku, berharap waktu segera berlalu agar ku temukan ujung seperti katamu waktu itu.
Selamat malam, bintang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar