Aku kembali memandang rembulan yang melingkar ditengah gelapnya langit malam ini.
Menatapi rembulan yang malam ini kembali sendirian.
Aku kembali tepekur disini, disudut beranda rumahku yang sepi pun sunyi.
Hanya derik jangkrik yang menyapa hangat diantara dinginnya sisa hujan.
Aku kembali tidak menemukan kamu. Hal yang sama yang kerap kali kamu lakukan pada rembulan, meninggalkannya sendirian.
Diujung sana aku tahu kamu ada. Menatapi layar yang menyajikan berita berita yang mungkin kamu tunggu, mungkin juga tidak.
Aku tidak berani menyapa, karena aku tahu lagi lagi kamu kan tetap abai. Sikap yang mulai membuatku terbiasa.
Semua yang hadir ketika semua sudah hendak berakhir.
Bukankah ini bukan inginku, pun kamu. Aku tidak pernah meminta, pun kamu. Bukankah begitu, bintang?
Kamu yang mungkin kebetulan membaca, ya.. Kamu yang berada diujung sana. Kamu yang merasa sajak ini untuk kamu, benar sekali bintang, kamu tidak perlu bertanya lagi seperti waktu itu.
sajak ini akan dan selalu untuk kamu.
Ketika kusadari, nanti beberapa saat lagi, kamu akan pergi, pun aku.
Mungkin kamu mau mengajakku mampir di kota kelahiran kamu di sebelah utara kota ini, sembari menikmati proses belajar yang menanti kita.
Bukankah kita masih punya waktu, bintang?
Maukah kamu menghabiskannya bersamaku, misalnya ?
13 Juni 2014 pukul 20:54
Menatapi rembulan yang malam ini kembali sendirian.
Aku kembali tepekur disini, disudut beranda rumahku yang sepi pun sunyi.
Hanya derik jangkrik yang menyapa hangat diantara dinginnya sisa hujan.
Aku kembali tidak menemukan kamu. Hal yang sama yang kerap kali kamu lakukan pada rembulan, meninggalkannya sendirian.
Diujung sana aku tahu kamu ada. Menatapi layar yang menyajikan berita berita yang mungkin kamu tunggu, mungkin juga tidak.
Aku tidak berani menyapa, karena aku tahu lagi lagi kamu kan tetap abai. Sikap yang mulai membuatku terbiasa.
Semua yang hadir ketika semua sudah hendak berakhir.
Bukankah ini bukan inginku, pun kamu. Aku tidak pernah meminta, pun kamu. Bukankah begitu, bintang?
Kamu yang mungkin kebetulan membaca, ya.. Kamu yang berada diujung sana. Kamu yang merasa sajak ini untuk kamu, benar sekali bintang, kamu tidak perlu bertanya lagi seperti waktu itu.
sajak ini akan dan selalu untuk kamu.
Ketika kusadari, nanti beberapa saat lagi, kamu akan pergi, pun aku.
Mungkin kamu mau mengajakku mampir di kota kelahiran kamu di sebelah utara kota ini, sembari menikmati proses belajar yang menanti kita.
Bukankah kita masih punya waktu, bintang?
Maukah kamu menghabiskannya bersamaku, misalnya ?
13 Juni 2014 pukul 20:54
Tidak ada komentar:
Posting Komentar