Pagi ini, disaat kokok ayam jantan bersahutan memaksa mentari muncul malu malu, aku terpikirkan kamu.
Mungkin kamu masih terjaga setelah selesai dengan makan pagi yang tentunya sangat pagi sekali.
Mungkin juga kamu kembali merebahkan diri, nyaman dengan sisa kantuk di pelupuk mata kamu.
Apa kini kamu benar menikmati semuanya? Bukankah semula kamu terlihat enggan?
Apa ada hal menyenangkan yang mengubah semuanya?
Syukurlah, setidaknya kamu masih tersenyum dengan senyum yang sama.
Mungkin kamu mulai lupa kalau aku tidak pernah lupa.
Mungkin kamu mulai bosan sementara aku kian mendalam.
Biarlah, toh skenario terbaik telah dituliskan.
Mengapa kamu harus mengabarkan pada mereka.
Berita pun cerita yang membuat hatiku terlena.
Sementara aku pernah tahu bagaimana rasanya ketika semua itu berbalik melukai.
Asa yang kiranya lelah menanti, kamu hidupkan lagi dengan cerita cerita pun mimpi yang kamu titipkan pada mereka.
Mereka bercerita bintang, dan rasanya aku enggan kembali percaya.
Karena kamu serupa ada dan tiada, kerap kali mengabaikan dan menghilang.
Mungkin bukan aku, bukan pula di kisahku kamu akan berlabuh.
Masih ada alur yang harus kamu tempuh.
Masih ada jalan yang harus kamu tapaki.
Ketika kamu temukan bahagia mungkin sebaiknya kamu tidak menoleh kembali akan aku.
Aku rindu memandang lekuk wajah sendu kamu, senyum menawan kamu, pun anggun perilaku kamu.
Bintang, setelah kamu menyelesaikan semua alur pun jalan panjang itu, ketika tak jua kamu temukan bahagia, ingatlah aku yang akan selalu peduli.
Mungkin kamu mulai lupa, aku selalu disini, bintang.
5 Juli 2014 pukul 5:56
Mungkin kamu masih terjaga setelah selesai dengan makan pagi yang tentunya sangat pagi sekali.
Mungkin juga kamu kembali merebahkan diri, nyaman dengan sisa kantuk di pelupuk mata kamu.
Apa kini kamu benar menikmati semuanya? Bukankah semula kamu terlihat enggan?
Apa ada hal menyenangkan yang mengubah semuanya?
Syukurlah, setidaknya kamu masih tersenyum dengan senyum yang sama.
Mungkin kamu mulai lupa kalau aku tidak pernah lupa.
Mungkin kamu mulai bosan sementara aku kian mendalam.
Biarlah, toh skenario terbaik telah dituliskan.
Mengapa kamu harus mengabarkan pada mereka.
Berita pun cerita yang membuat hatiku terlena.
Sementara aku pernah tahu bagaimana rasanya ketika semua itu berbalik melukai.
Asa yang kiranya lelah menanti, kamu hidupkan lagi dengan cerita cerita pun mimpi yang kamu titipkan pada mereka.
Mereka bercerita bintang, dan rasanya aku enggan kembali percaya.
Karena kamu serupa ada dan tiada, kerap kali mengabaikan dan menghilang.
Mungkin bukan aku, bukan pula di kisahku kamu akan berlabuh.
Masih ada alur yang harus kamu tempuh.
Masih ada jalan yang harus kamu tapaki.
Ketika kamu temukan bahagia mungkin sebaiknya kamu tidak menoleh kembali akan aku.
Aku rindu memandang lekuk wajah sendu kamu, senyum menawan kamu, pun anggun perilaku kamu.
Bintang, setelah kamu menyelesaikan semua alur pun jalan panjang itu, ketika tak jua kamu temukan bahagia, ingatlah aku yang akan selalu peduli.
Mungkin kamu mulai lupa, aku selalu disini, bintang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar