Minggu, 12 Oktober 2014

Airlangga, Namanya Airlangga..

Bintang, namanya Bintang. Laki-laki 21 tahun yang melankolis. Itu kesimpulan yang akhirnya kudapatkan. Sebenarnya kesimpulan yang sedikit kupaksakan. Lantaran aku tidak pernah tahu yang lainnya. Lantaran aku memang tidak pernah mengenalnya lebih jauh. Lebih tepatnya tidak berani.
Kututup laptop yang sudah sedari tadi menyala. Tentunya setelah sebelumnya sing out dari akun sosial mediaku dan mematikannya. Kulirik jam dinding spongebob berwarna kuning yang terpaku di dinding. Jarumnya menunjukkan pukul dua lebih tujuh belas menit dini hari. Mataku mulai berair menuntut haknya untuk di pejamkan. Kepalaku juga mulai terasa berat. Sayup-sayup kudengar dengkuran halus dari Diah teman sekamarku yang telah terlelap sedari tadi. Aku berharap dapat segera menyusulnya menikmati empuknya kasur busa yang baru kami ganti seminggu yang lalu. Tentunya tidur dengan nyenyak, tanpa mimpi yang beberapa hari belakangan ini menghantui. Mimpi tentang sosok itu.

***
Selesai mandi aku melangkah tergesa melewati lorong deretan kamar kos kami. Berkali-kali merutuki jarak kamar mandi dengan kamarku yang terlalu jauh. Heran, mengapa tidak dibuatkan saja kamar mandi untuk setiap kamar. Tentu aku tidak akan semakin membuang-buang waktu seperti ini.
Setelah semalam tidur terlalu larut dan lupa menyetel alarm, jadilah aku seperti ini. Terlambat bangun, padahal ada jadwal kelas pagi yang harus kuhadiri. Diah mungkin sudah pergi dari tadi karena mengira aku tidak ada kelas pagi. Padahal aku sudah mengingatkannya semalam untuk membangunkanku, namun mengingat dia adalah pelupa yang akut, aku maklum. Aku makin mempercepat gerakanku, mengganti pakaian, berdandan dan mengenakan kerudung seperti biasa. Menyemprotkan parfum kesukaanku dan bergegas berangkat.
Kulirik arloji yang kukenakan, masih ada lima menit lagi sebelum mata kuliah pertama dimulai. Aku menarik napas lega karena aku hanya perlu menaiki satu deretan anak tangga lagi untuk mencapai kelasku di lantai tiga, sebelum seseorang itu menyenggolku dan membuat map yang kupegang terlepas. Seseorang yang seolah sama tergesanya sepertiku. Aku tidak melihat wajahnya dengan jelas. Ia terus begegas menaiki anak tangga tanpa menghiraukan aku yang tengah kerepotan memungut kertas-kertas dalam mapku yang berserakan. Ia hanya menoleh sebentar lantas pergi.
Aku mendengus kesal, sungguh dia benar-benar tidak tahu sopan santun. Jangankan menolong, meminta maaf saja tidak. Aku menghela napas panjang. Pagiku kali ini sudah cukup buruk, aku tidak ingin membuatnya semakin buruk hanya dengan memulai semuanya dengan marah-marah. Sabar Tari, sabar. Aku melanjutkan menaiki beberapa anak tangga lagi dan bergegas masuk ke kelas dengan perasaan lega karena ternyata kelas belum dimulai.

***
Aku tengah menyeruput jus buah naga yang kupesan saat Diah datang sambil menangis dan duduk dihadapanku. Aku enggan bertanya karena aku tahu apa masalahnya sebelum ia bercerita. Melihatku yang tak merespon kehadirannya spontan Diah berhenti menangis. Lantas bertanya,
“Tarii, kok kamu diam aja sih?” ujarnya sambil melototiku. Aku hanya menggeleng,  enggan menanggapi.
“ Tariiiii”
“ Nggak usah teriak-teriak gitu juga neng. Aku nggak tuli.”
“ Abis, kamu diam aja sih. Tanyain kek kenapa aku nangis”
“ Nggak perlu ditanya juga aku udah tahu. Gara-gara si Angga kan?
“ Kok tahu sih, iihh kamu so sweet banget sih. Sebelum aku cerita kamu udah tahu gitu. Iya nih, gara-gara dia”
“ Kenapa lagi ?”
“ Berantem lagi. Dia nyebelin banget, pokoknya sebeeeell ”
“ Yaudah putusin aja”
“ Iihh, kok gitu sih Tari. Nggak sampai putus juga sih, Cuma kesal aja”
“Yaudah, kalo gitu nggak usah pakai acara nangis-nangisan segala. Ribet banget sih kalian”
“ Ya, namanya aja pacaran Tari. Berantem itu biasa. Hehe..” Ujarnya cengengesan
“ Terserah kalian” aku kembali mnyeruput minumanku yang masih tersisa setengah.
“Kamu sendiri, ada perkembangan sama si Bintang ?” Tanyanya penasaran. Aku hanya menggeleng entah tak mengerti perkembangan macam apa yang ditanyakan oleh Diah.
“Yaah, kamu cari tahu dong Tari. Ntar kamu makin penasaran loh. Kebawa mimpi lagi loh.”
“Cari tahu ke siapa? Nama aslinya aja aku nggak tahu”
“ Lah makanya itu aku bilang cari tahu dong”
“ Cari tahu ke siapa?”
“ Ya usaha dong Tariiiii. Mana tahu namanya Jono”
“ Jono? Enak aja.”
“ Loh bisa aja kan, makanya dia malu pakai nama aslinya dia. Kalau nggak kenapa dia harus pakai nama pena segala coba?” ujarnya sekenanya.
Aku menggeleng tak tertarik. Kembali menyeruput minumanku yang hampir habis. Mengacuhkan Diah yang makin cerewet tak jelas dan banyak bertanya.
Ah, nama itu lagi. Entah apa aku tertarik untuk mengenalnya lebih jauh. Untuk apa, toh aku hanya menyukai tulisan-tulisannya. Menyukai semua puisi-puisinya. Meski aku tak pernah mengenal sosoknya, yang jelas aku mengenalnya sebagai Bintang. Terlepas siapa nama sebenarnya, aku tak peduli (sebenarnya aku sangat peduli).

***
Malam ini, malam kesekian aku tak berhenti memelototi layar laptopku. Membaca update terbaru dari akun blog yang beberapa minggu terakhir ini sungguh membuatku tertarik. Akun yang tidak sengaja kutemukan ketika tengah browsing mencari bahan untuk tugas kuliah. Bintang’s Notes nama akun itu. Akun yang menggodaku untuk tak berhenti membaca isinya. Waktu itu aku merasa seperti begitu familiar dengan nama pena itu. Bukankah ini nama pena seseorang yang rajin mempublikasikan tulisannya di majalah remaja mingguan kota ini. Majalah langganan Diah yang tak sengaja kubaca. Majalah yang menjadi bacaan wajib gadis-gadis populer dikampus. Hampir setiap minggu majalah itu memuat tulisan-tulisannya yang indah.
Aku lebih tertarik membaca tulisan-tulisan yang ia publish di akun blognya. Mungkin karena semuanya masih sangat natural dan belum melalui banyak proses editing seperti ketika tulisannya dimuat di majalah. Entah mengapa, seolah aku turut berada dalam situasi yang ditulisnya melalui tulisan-tulisan itu. Entah mengapa aku menemukan nyawa disetiap tulisannya. Entah mengapa aku menemukan perasaan kesepian didalamnya. Ah, penulis selalu punya cara tersendiri bukan, untuk menuangkan apa yang ada dipikirannya, dan entahlah. Aku menyukai bagaimana cara ia bercerita.
Aku mulai berandai-andai dan bertanya. Siapa sosok itu. Blog itu tak memuat sedikitpun tentang dia. Bahkan majalah itupun tak pernah sekalipun menginformasikan biodatanya, kecuali alamat e-mail aktif yang bisa dihubungi. Aku pernah, dengan begitu nekatnya mengirimkan e-mail singkat. Tak banyak, hanya dua paragraf. Berisi salam perkenalan dan menanyakan namanya. Namun berminggu-minggu ia tak pernah membalas, seperti yang kuduga. Mana mungkin ia punya waktu.
Ingatanku kembali kepada mimpi beberapa hari lalu. Entah bagaimana saat aku sendiri ditaman, tenggelam dalam halaman demi halaman novel yang belum selesai kubaca, sosok itu datang menghampiri. Tak jelas benar, namun yang jelas wajahnya bercahaya, meneduhkan. Ia duduk disampingku, hanya memandang sesaat lalu tersenyum. Mengulurkan tangan dan berkata lembut
“ Hai, Mentari. Aku adalah bagian darimu, Bintang kecil yang cahayanya tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan cahaya bintang besar sepertimu. Kau disiang hari dan aku dimalam hari, bagaimanalah kita bisa bertemu. Ah, tak perlulah risau. Bukankah selalu ada skenario terbaik untuk kita?”
Aku tergugu, tak mengerti arah pembicaraan itu. Sebelum sempat ku menyahut ia telah menghilang. Sekejap saja. Secepat kedipan mata. Meninggalkan aku yang kebingungan. Mencari kesemua penjuru berharap ia berada disalah satu sisi taman ini. Namun nihil. Aku tak menemukannya dimanapun. Entah mengapa meninggalkan perasaan sesak, bahkan hingga aku membuka mata dan menyadari semuanya hanya mimpi.
Aku tersadar dari lamunan ketika handphoneku berdering. Kubaca nama pengirim di layar handphoneku, ternyata Diah yang mengirimiku pesan. Mungkin ia ingin memberitahuku kalau ia akan pulang terlambat. Yah, seperti yang dikatakannya tadi siang. Ia harus menghadiri rapat kegiatan organisasi. Aku membuka pesan itu. Sesaat aku terdiam, membaca tulisan singkat itu. mendadak aku serasa ingin segera memeluk Diah. Sahabatku yang satu itu selalu tahu bagaimana cara membuat sahabatnya tersenyum.
 Sejurus aku beranjak tidur setelah mematikan laptopku. Berharap segera terlelap dan hari itu datang lebih cepat. Seperti biasa, Diah akan menginap dikampus dan malam ini aku tidur sendirian.
***
Hari ini tepat seminggu dari sejak malam Diah memberiku kabar baik yang tak henti-hentinya membuatku tersenyum. Membuat hariku seminggu terakhir mendadak rusuh. Bagun lebih pagi hanya untuk melingkari tanggal pada kalender dengan spidol merah. Berharap hari ini datang lebih cepat. Berharap semua rasa penasaran itu cepat menghilang.
Hari ini workshop kepenulisan dikampus. Entah bagaimana, panitia acara termasuk Diah didalamnya, berhasil mengundang sosok itu. Sosok yang kian menjadi perbincangan beberapa minggu terakhir. Itulah kabar yang dulu Diah berikan padaku.
Meski aku telah datang sepagi mungkin, tetap saja aku tak kebagian tempat di depan panggung. Semua sudah dipenuhi oleh peserta lain yang kebanyakan adalah wanita sepertiku. Aku seperti pernah melihat sosok itu. Sosok bersahaja nan rupawan. Mengenakan kemeja batik berwarna cokelat, bercelana jins berwarna senada dan sepatu kets putih. Bukankah ia yang menabrakku tempo hari di tangga? Aku menggeleng tak yakin.
 Acara hanya berlangsung sembilan puluh menit. Membahas banyak hal tentang gaya kepenulisannya, membahas tulisan-tulisannya, pun nama pena yang ia gunakan. Anehnya selama acara berlangsung tak ada yang tahu nama aslinya. Ia sengaja meminta panitia untuk tidak membocorkannya. Biarlah orang-orang mengenalnya sebagi Bintang, begitu katanya. Semua penonton mendesah kecewa, pun aku.
 Acara selesai seiring dengan diumumkannya lima peserta yang beruntung untuk berfoto bersama. Memang, sehari sebelumnya para peserta diminta mengirimkan amplop berisi surat ke panitia, untuk nantinya dipilih secara acak pemenangnya. Sayangnya aku belum beruntung. Aku keluar ruangan dengan rasa kecewa, lantaran sampai sekarang aku sama sekali belum mempunyai ide siapa namanya. Apa mungkin namanya Jono?
Ditaman, tetap sama riuhnya. Ia tetap dikelilingi banyak peserta. Terutama para gadis muda yang memaksa berfoto atau sekedar minta tanda tangan. Mendadak aku ingin menjadi salah satu diantara mereka. Gadis-gadis cantik yang begitu populer dikampus. Pakaian modis dan tatanan rambut penuh gaya. Bercerita tentang tas-tas branded yang baru saja diimpor dan menghiasi etalase kaca toko-toko yang sering kumasuki, meski hanya sekedar melihat-lihat. Bercerita tentang pria-pria pujaannya sembari menikmati hidangan istimewa di kafe ternama. Tapi yang paling membuatku iri, aku ingin berada dibarisan itu. Dideretan depan dan berhadapan langsung dengan sosok itu, Bintang. Sosok yang kukagumi melalui tulisan-tulisannya yang indah.
Namun aku terpuruk disini, tersisih oleh orang-orang yang lebih bisa membuatmu bahagia. Gadis-gadis yang bisa dengan begitu implusifnya meneriakkan namamu, mengelu-elukan dirimu, meski kutahu itu hanya nama penamu. Lantas siapa namamu sebenarnya, Bintang ?
Manalah mungkin kamu mau mengenalku, gadis biasa yang baru mengenal dunia. Dan lagi, dari radius sepuluh meter ke utara aku hanya bisa menatapmu. Aku melangkah gontai meninggalkan keramaian itu, setelah sadar aku tak bisa lebih dekat dari jarak ini. Setidaknya aku telah menuliskannya kemarin. Aku memutuskan berbalik dan pergi.
Sayup kudengar langkah kaki mendekat, mungkin Diah sahabatku. Aku berbalik, mendadak jantungku berdetak lebih cepat, dia..
“ Hai Mentari ” ia memanggil namaku. Aku hanya tersenyum bodoh menutupi kegugupan yang seketika melandaku dan kemudian mengangguk.
“ Tempo hari aku pernah kemari untuk menemui panitia, kalau tidak salah aku pernah menabrakmu di tangga. Maaf untuk itu” ujarnya ramah. Lagi-lagi aku hanya mengangguk, tak bersuara. Oh ibu, makhluk dihadapanku ini sungguh sempurna. Sempurna pula membuatku serupa bisu.
“ Airlangga, namaku Airlangga. Ssstt, tapi ini rahasia” ujarnya sembari menunjukkan amplop biru yang digenggamnya. Amplop yang begitu kukenal. Amplop surat berisi pertanyaan sederhana.
“ Namamu Mentari kan? Nama yang indah. Mentari dan bintang, hmm.. akan menyenangkan nantinya kalau kita bisa ngobrol. Nanti kuhubungi kau. Sampai nanti” ujarnya kemudian berlalu.
Aku tergugu. Memandangi punggunggnya yang hilang diujung lorong. Airlangga, namanya ternyata Airlangga. Bukan Jono seperti olokan Diah tempo hari. Rona merah muncul dipipiku tanpa kusadari. Mungkin inilah yang ia bilang skenario terbaik dimimpiku tempo hari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar