Sabtu, 05 Juli 2014

Menunggu Kamu, Bintang.

Selamat Malam bintang.
Bukankah masih bisa ku sapa kamu begitu, meski nanti, kurang dari dua puluh menit lagi hari berganti larut. Menutup penat hari ini.
Aku semakin tidak mengerti bintang, aku tidak mengerti apapun tentang kamu, kebiasaan kamu misalnya yang selalu membuatku ingin tahu.
Aku enggan bertanya bintang, karena aku tahu kamu kan tetap abai. Bukankah begitu ?
biarlah begini, menunggu kamu. Menanti kira kira coretan apa yang kamu torehkan di dinding yang terus membisu, namun setia mengabarkan padaku sekiranya apa yang telah, tengah, dan akan kamu lakukan.
Tadi saat aku membaca, sepenggal aksara yang sama sekali tiada kupahami, aku enggan bertanya, karena ku tahu yang kan ku dapat hanya angin yang membawa kembali lekuk wajah kamu dengan pandangan terakhir kamu yang tak biasa.
Pandangan yang tak seteduh dulu, pertemanan yang tak lagi utuh.
Entah, sejak saat itu aku mulai ragu.
Mungkin benar, semua mulai terasa mengganggu untuk kamu, mungkin juga membuang waktu kamu untuk mendengarkan lagu lagu asing yang kamu suka, begitu yang kamu katakan dulu disela percakapan kita.
Bicaralah bintang, katakan bila kamu bosan dengan puisi seperti itu itu saja, dengan rayuan yang begini begini saja. Sekiranya akan kuhentikan.
Ah, tidak bintang. Aku tak sedang menghabiskan waktu merayu kamu. Aku hanya mengirimkan puisi yang waktu itu pernah kamu minta.
Bintang, setidaknya kamu bisa menuangkannya ditempat biasa kamu menorehkan isi hati kamu, dan aku akan menunggu bintang.
Menunggu kabar kamu dari tiap goresan aksara pada dinding yang tetap membisu.


6 Juni 2014 pukul 23:33

Tidak ada komentar:

Posting Komentar