Senin, 14 April 2014

Anugerah ..



Semuanya melangkah pergi. Tak terkecuali ayah pun ibuku. Juga semua teman-temanku. Namun tidak dirimu. Kamu tetap setia disitu, menunggu dan tergugu dalam lamunanmu yang mungkin telah terlampau jauh ke waktu itu. Ingatan silam masa lalu saat dulu kita bahagia. Mungkin saja, akupun tak mampu menyelami hatimu yang terlanjur jauh. Sama seperti dulu saat kuputuskan terima pinangan mendadakmu. Bagiku kamu anugerah tuhan untuk menggantikan suamiku terdahulu.
Kurengkuh pundak kokohmu, kuusap lembut wajah bintikmu. Wajahmu basah tersiram hujan, ah..tidak ! tepatnya  basah oleh airmata. Kamu tetap diam, tak bergerak pun menatapku. Aku mulai bingung bagaimana mengertikanmu. Kamu menangis, merogoh saku dan mengambil selembar kertas bermaterai enam ribu.
“ Sayang maafkan aku” ujarmu kelu. Aku bingung menggeleng.
“ Aku menyesal” lanjutmu                                
“ Maafkan aku, aku tak pernah berniat melakukan itu” aku masih bingung.
“ Sayang, maafkan aku. Aku mencintaimu, namun aku lebih butuh uangmu. Semoga kamu tenang disana”
“Aku hanya meminta mereka menaruhnya sedikit agar kau mabuk dan mau menandatangani surat ini. Tapi aku tak pernah meminta mereka melakukan tindakan biadab seperti itu” kamu mencercau lemah.
Kamu berdiri dan melangkah menjauh. Kini aku mengerti. Kamu meninggalkan aku yang kini berganti tergugu. Aku menangis, menatap pusara yang basah oleh hujan. Pusara bertuliskan namaku. Terbayang olehku malam itu, saat tiga lelaki tak dikenal itu  menjamah tubuhku yang lemah tak berdaya. Aku ingat mereka menyebutkan satu nama, namamu Mas Anugerah. Namun aku terlanjur tertidur, selamanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar