Semuanya melangkah pergi.
Tak terkecuali ayah pun ibuku. Juga semua teman-temanku. Namun tidak dirimu. Kamu
tetap setia disitu, menunggu dan tergugu dalam lamunanmu yang mungkin telah
terlampau jauh ke waktu itu. Ingatan silam masa lalu saat dulu kita bahagia. Mungkin
saja, akupun tak mampu menyelami hatimu yang terlanjur jauh. Sama seperti dulu
saat kuputuskan terima pinangan mendadakmu. Bagiku kamu anugerah tuhan untuk
menggantikan suamiku terdahulu.
Kurengkuh pundak kokohmu,
kuusap lembut wajah bintikmu. Wajahmu basah tersiram hujan, ah..tidak ! tepatnya
basah oleh airmata. Kamu tetap diam, tak
bergerak pun menatapku. Aku mulai bingung bagaimana mengertikanmu. Kamu menangis,
merogoh saku dan mengambil selembar kertas bermaterai enam ribu.
“ Sayang maafkan aku”
ujarmu kelu. Aku bingung menggeleng.
“
Aku menyesal” lanjutmu
“ Maafkan aku, aku tak
pernah berniat melakukan itu” aku masih bingung.
“ Sayang, maafkan aku. Aku
mencintaimu, namun aku lebih butuh uangmu. Semoga kamu tenang disana”
“Aku hanya meminta mereka
menaruhnya sedikit agar kau mabuk dan mau menandatangani surat ini. Tapi aku
tak pernah meminta mereka melakukan tindakan biadab seperti itu” kamu mencercau
lemah.
Kamu berdiri dan
melangkah menjauh. Kini aku mengerti. Kamu meninggalkan aku yang kini berganti
tergugu. Aku menangis, menatap pusara yang basah oleh hujan. Pusara bertuliskan
namaku. Terbayang olehku malam itu, saat tiga lelaki tak dikenal itu menjamah tubuhku yang lemah tak berdaya. Aku ingat
mereka menyebutkan satu nama, namamu Mas Anugerah. Namun aku terlanjur
tertidur, selamanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar