Senin, 14 April 2014

Duh,, Salah Siapa ?


Aihh, aku benci bulan keempat tahun ini
Jijik dan muak sekali
Melirik wajah-wajah najis berwibawa, lengkap dengan dasi pun peci..
Aihh, semua mendadak pasang foto berwajah ramah
Berseliweran, berserak di jalan raya macam artis saja. .
Katanya ingin makmur yang nomor dua,
Ingin sejahtera yang nomor tiga,
Ingin bebas sekolah yang nomor lima,
Aihh, janji-janji para bedebah !
Nurani ditukar dengan dua puluh lima ribu rupiah, jika beruntung seratus ribu..
Duh salah siapa ?
Kaum  papa atau kaum penguasa?
Duh salah siapa ?
Harga cabe dan tempe meroket, bawangpun turut serta..
Ibu-ibu mengeluh pada bapak yang bekerja penuh peluh
Anak-anak merengek ingin jajan pun beli buku
Duh, salah siapa jika nurani seharga seratus ribu ?
Tanyakan pada sopir angkot yang berseliweran tiap pagi, yang terkentut dan terseok membelah kota..
Atau tanyalah pada tukang ojek yang mangkal di prapatan depan..
Bukankah itu bukan salah si papa?
Hei kawan, daku tak pengaruhi kamu jadi golongan putih
Bisa mati daku ditangkap sang penguasa yang sibuk beriklan di televisi..
Daku ingin mengajak kamu mengevaluasi, berkoordinasi, dan mengkritisi
Ah, macam gaya bicara politisi saja !!

Bapak dan ibu yang berdasi pun berpeci, sungguh betapa kalian baik hati..
Demi kursi kau beli nurani kami,
Duh, apa ini salah kami ?
seratus ribu untuk cabe, tempe, bahkan buku..
Aih, salah siapa ?

                                                                                               
Bengkulu, 02 Maret 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar