Rabu, 21 Mei 2014

Dalam Jarak Sejauh Ini, Bintang,

Maafkan aku bintang, kemarin dan kemarin lusa pula aku tak menepati janjiku.
Dua sajak yang harusnya ku hadirkan lebih awal, maaf bintang.
Tadi, disaat kembali ku tatap mata kamu, ketenangan itu kembali dihatiku.
Kesenduan mata kamu, keanggunan perilaku kamu, masih sama seperti dulu. Dibalik jaket gelap yang kamu kenakan, kamu tersenyum. Simpul saja, dari radius sepuluh meter di sebelah utara tempatku duduk. Aku menatap kamu takzim, diantara kecamuk hati yang masih terluka.
Diantara riuhnya omong kosong di gedung belajar kita, kamulah salah satunya alasanku tetap betah, bertahan dengan semua kemunafikan yang ditawarkan.
Bintang, tahukah kamu kemarin dan kemarin lusa disaat aku tak menepati janjiku, begitu banyak yang terjadi.
Sungguh bintang, aku ingin berceritera pada kamu. Mendengar apa pendapat kamu akan ceritaku, atau setidaknya melihat wajah kamu bersimpati akan ceritaku.
Tapi bagaimanalah bintang, bahkan kamu kini benar telah lenyap dari radarku, tak pernah menampakkan diri ditempat kamu biasanya dapat kupandangi.
Tadi, dibalik jaket gelap yang kamu kenakan, aku melihat kamu menatapku.
Entah, mungkin saja aku salah tafsir bukan? Dari radius sepuluh meter aku melihat kamu tersenyum bintang, senyum yang bagiku selalu menenangkan meski dalam kecamuk yang tetap membuatku terluka.
Bukankah kamu tetap berada disana, dari radius sepuluh meter sebelah utara dari tempatku duduk, dengan senyum simpul kamu. Dari jarak sejauh ini, kamu berikan aku ketenangan

Sabtu, 17 Mei 2014

Puisi Untuk Kamu, Bintang..

Bintang, untuk kesekian kalinya tak kujumpai kamu. Maaf, tak kupenuhi janjiku menuliskan puisi untuk kamu semalam. Lantaran banyak sekali yang ada dipikiranku, banyak sekali yang berdesakan didalamnya. Ah,tidak. Tidak berarti aku tidak memikirkan kamu. Bukan begitu maksudku, bintang.
Aku hanya membutuhkan waktu, sejenak saja untuk berpikir. Setidaknya memikirkan kembali tentang kita. Ah, tentang perasaanku saja tepatnya.
Kamu memang baik, begitu kataku pun temanku yang juga teman kamu.
Mungkin kamu tersenyum pada siapapun yang memang kamu jumpai, dijalanan yang biasa kamu lewati, gedung belajar kita, pun di kantin tempat kamu biasa memesan makan siang.
Hanya saja, aku selalu menganggapnya spesial, sama spesialnya saat kamu kenakan kemeja cokelat tuamu, atau pakaian tradisional bermacam warna yang kamu punya.
Sapaan itu juga hangat, sama hangatnya ketika sinar surya menerobos celah jendela kamarku.
Bintang, sebenarnya banyak sekali hal yang harus kuselesaikan, kubaca, dan kupahami.
Nanti dihari senin, banyak sekali hal yang harus kulewati. Menjawab soal soal pelik, misalnya menanti untuk kami selesaikan.
Tahukah kamu bintang, semua demi almamater kita.
Dan bolehkah aku berharap kamu nanti duduk disana, menyemangati hatiku.
Tidak perlulah kamu berteriak macam suporter bola, cukup diam dan tersenyum saja.
Hah, Tapi kini aku lebih suka menarikan jemariku, bercerita tentang kamu.
Kamu yang bagiku selalu spesial. Sama spesialnya saat kamu pertama kali kukenal.
Setidaknya malam ini kupenuhi janjiku.
Satu puisi untuk kamu, dan lagi, berbaris dalam draft aksara yang menanti untuk kamu baca

Bagaimanlah, Bintang ?

Aku tersuruk dalam senyapnya malam.
Malam yang indah,seharusnya.
Rembulan yang kian bundar tetap setia menggantung diatas sana. Sama layaknya aku yang setia menggantungkan asa.
Esok, disaat ku langkahkan kaki ke gedung belajar kita. Gedung tempat pertama kali kita bertemu aku berharap dapat menyapa kamu.
Kamu yang belakangan makin jarang ku temukan, disetiap nyata pun maya. Apakah benar kamu merasa begitu terganggu akan sajak sajak bodohku?
Aku tak memaksa kamu membacanya bila benar tak ingin. Pun tak pernah menyuruh kamu diam disini agar dapat ku sentuh jemari kamu. Aku membiarkan kamu pergi, berlari, atau sekedar berdiam diri. Tetap dengan mata sendu kamu, senyum khas kamu, serta anggun perilaku kamu. Bahkan tak ada yang lebih berharga dari itu. Tak perlulah menghabiskan waktu berlama lama membaca sajakku, mengomentari tiap klausaku, bila benar kamu tak lagi ingin.
Bila saja semua tetap pada tempatnya. Tak perlu pula mereka tahu akan kita. Tentulah semua tetap berjalan seperti mula. Disaat kita berteman biasa, dengan temanku yang juga teman kamu.
Bintang, bagaimanalah langit tak bermuram durja. Kehilangan kamu yang tak lagi mau menyapa. Bagaimanalah rembulan tak menangis, bila bintang bahkan tak lagi hendak menemaninya menulis sajak sajak nya, melukiskan sinarnya saja bintang telah enggan. Bagaimanlah bisa, bintang ?

Bintangnya Rembulan..

Bintang, apakah kamu melihat bundarnya rembulan di atas sana? Indah menggantung.
Menyenangkan memandangnya. Apakah kamu tengah memandang rembulan yang sama ?
bukankah kamu telah selesai dengan semua tugas tugas kamu. Bukankah kini kamu punya sedikit waktu, setidaknya sekedar untuk membaca tulisan tulisanku.
Bintang, tadi setidaknya ku temukan sosok kamu. Meski ku tahu kamu bahkan tak ada waktu untuk sekedar memasukkan namaku di daftar teman yang ingin kamu sapa, tadi di ruangan putih berpendingin yang nyaris membuatku beku. Sebeku wajah kamu, sebeku sikap kamu.
Dan lagi, aku penasaran. Berapa koleksi pakaian tradisional yang kamu punya.
Pakaian yang biasa kamu kenakan di gedung belajar kita.
Bintang, bukankah pernah ku katakan pada kamu. Aku mengagumi senyum kamu. Dan kamu tertawa waktu itu. Kamu kira aku bercanda. Kamu bilang itu lelucon. Bahkan sebenarnya aku tak pernah lebih serius dari saat itu. Tapi tak apa, biarlah. Toh mungkin saja itu tidak lebih penting dari kegiatan kamu memandang rembulan.
Bintang, andai rembulan itu aku, masihkah kamu sudi memandangnya?
bukankah kamu dapat memandangku tak hanya dimalam sepi, tapi setiap pagi digedung belajar kita ? Atau sekedar memasukkan namaku dalam daftar teman yang mungkin kamu sapa ?

Catatan Kecil Untuk kamu Baca, Sebelum Tidur :)

Tadi, disaat sosok kamu tak kujumpai, susah payah aku membujuk hatiku yang merajuk.
Mungkin kamu memang tengah terlalu sibuk dengan paper pun tugas dengan deadline yang kian mendekat.
Aku juga lelah, bintang. Aku juga ingin beristirahat dari penat, sama seperti kamu.
Bintang, ditempatku hujan turun dengan riangnya. Menyirami tanah merah tandus yang kini mulai becek.
maukah kamu menari bersamaku di bawah hujan? Menatapi langit meski tanpa gemintang, tapi bukankah kamu bintang paling terang? Lalu apa lagi yang kita butuhkan?
Sayangnya kamu bahkan kini tak nampak. Tertutup kabut kesibukan kesibukan yang menanti kamu selesaikan. Kesibukan kesibukan tanpa muara.
dapatkah aku membantumu? Mengetikkan sesuatu misalnya. Agar kamu kembali menyapaku.
Membaca catatan pun sajakku yang mulai usang berdebu.
Ini catatan kecil yang mungkin bisa kamu baca, sebelum tidur misalnya.
Catatan kecil antara aku, kamu, dan Hujan.

Mata Kamu Bintang :)

Tadi, saat tanpa sengaja kita bertemu, tanpa sengaja pula aku menatap mata kamu.
Ah, dusta ! Sebenarnya bahkan aku sudah lelah mencari sosok kamu, memandangmu untuk kemudian berhenti di mata kamu.
Mata sendu yang dengan nya aku melihat sejuta keindahan disana.
Dan lagi, kamu kenakan pakaian tradisional kamu yang dulu pernah ku katakan pada kamu kalau aku menyukainya.
Sayangnya, kini tak berani ku katakan hal yang sama.
Sayangnya, aku takut kamu tak lagi tersenyum seperti saat dulu ku katakan hal itu.
Sayangnya, aku takut kamu tak akan menganggapnya begitu penting, Lantaran begitu banyak hal penting yang harus kamu urus. Tugas tugas kamu misalnya.
Tadi, saat tanpa sengaja kita bertemu. Aku berharap kamu tersenyum, simpul saja. Namun aku berbalik, memunggungi kamu yang entah sedang sibuk sepertinya. Aku tak berani menatapnya lama, mata kamu yang isyaratkan penatmu.
Setidaknya aku menemukan kamu, diantara riuh dan panasnya hari.
Setidaknya meski tanpa sengaja (dusta) ku temukan sendu mata kamu, bintang.
:)

Kamu Menghilang Bintang !

Dan kamu menghilang bersama rinai hujan yang mereda, menyisakan bulir basah di jendela kaca serta keping cerita yang jauh dari selesai.
Bahkan cerita ini harusnya baru saja hendak dimulai.
Kamu menjauh, bahkan bayangmu saja kini tiada lagi mampu ku rengkuh.
Aku mendadak melankolis, ketika sajak sajak yang kutulis kini berdebu, bahkan kotor oleh jaring laba laba.
Ratusan aksara, dan lagi menanti untuk kamu baca.
Kamu dimana, sementara aku tahu kamu tetap disana.
Ada yang berbeda ketika kamu tak lagi menapakkan jejakmu disekitarku, ada yang hilang ketika kamu tak lagi setia berceloteh tentang tulisan tulisanku tentang kamu.
Kamu yang tak pernah tahu bila kamu lah objek di tiap klausaku, ah, atau mungkin saja kamu tahu, ah, aku tak tahu. .
Dan kamu menghilang dari radarku, bahkan ketika cerita ini baru akan dimulai.
Tidak bintang, kisah ini jauh dari selesai..