Rinai telah berakhir. Rinai yang sedari petang membanjiri halaman rumahku.
Ah, tidak, mungkin sedari siang.
Rinai yang mungkin memaksa kamu untuk tetap beristirahat melepas penat, atau malah rinai yang kian membuat kamu kian penat, entahlah. Aku tak tahu pun mengerti.
Kubaca berulang beberapa baris percakapan kita tadi, mungkin saja sedikit membuat kamu tersenyum, mungkin juga muak.
Aku tak memaksa kamu percaya, karena memang tiada yang pernah percaya.
Percakapan ringan dibawah hujan yang mengukung.
Mungkin cukup membuatku tahu sedikit tentang kamu, kesukaan kamu misalnya.
Tentu saja kamu ingat sebait aksara yang tadi kujanjikan bukan, apakah kamu mau membacanya pun berkomentar ?
Semua klausaku yang dulunya berdebu, semua klausaku yang mungkin baru selesai kamu baca.
Puisi ini untuk seseorang yang tadi meminta, mungkin saja dapat kamu baca selagi hujan mulai mereda.
Karena nanti, disaat hujan dengan derasnya mengguyur akan memaksa kamu kembali penat dan menghentikan percakapan ringan kita dibawahnya.
Mungkin nanti, disaat kamu tahu siapa objek ditiap bait puisiku, kamu akan dan mau percaya
:)
27 Mei 2014 pukul 19:13
Ah, tidak, mungkin sedari siang.
Rinai yang mungkin memaksa kamu untuk tetap beristirahat melepas penat, atau malah rinai yang kian membuat kamu kian penat, entahlah. Aku tak tahu pun mengerti.
Kubaca berulang beberapa baris percakapan kita tadi, mungkin saja sedikit membuat kamu tersenyum, mungkin juga muak.
Aku tak memaksa kamu percaya, karena memang tiada yang pernah percaya.
Percakapan ringan dibawah hujan yang mengukung.
Mungkin cukup membuatku tahu sedikit tentang kamu, kesukaan kamu misalnya.
Tentu saja kamu ingat sebait aksara yang tadi kujanjikan bukan, apakah kamu mau membacanya pun berkomentar ?
Semua klausaku yang dulunya berdebu, semua klausaku yang mungkin baru selesai kamu baca.
Puisi ini untuk seseorang yang tadi meminta, mungkin saja dapat kamu baca selagi hujan mulai mereda.
Karena nanti, disaat hujan dengan derasnya mengguyur akan memaksa kamu kembali penat dan menghentikan percakapan ringan kita dibawahnya.
Mungkin nanti, disaat kamu tahu siapa objek ditiap bait puisiku, kamu akan dan mau percaya
:)
27 Mei 2014 pukul 19:13