Sabtu, 05 Juli 2014

Puisi Yang Tadi Kujanjikan, Untuk Kamu.

Rinai telah berakhir. Rinai yang sedari petang membanjiri halaman rumahku.
Ah, tidak, mungkin sedari siang.
Rinai yang mungkin memaksa kamu untuk tetap beristirahat melepas penat, atau malah rinai yang kian membuat kamu kian penat, entahlah. Aku tak tahu pun mengerti.
Kubaca berulang beberapa baris percakapan kita tadi, mungkin saja sedikit membuat kamu tersenyum, mungkin juga muak.
Aku tak memaksa kamu percaya, karena memang tiada yang pernah percaya.
Percakapan ringan dibawah hujan yang mengukung.
Mungkin cukup membuatku tahu sedikit tentang kamu, kesukaan kamu misalnya.
Tentu saja kamu ingat sebait aksara yang tadi kujanjikan bukan, apakah kamu mau membacanya pun berkomentar ?
Semua klausaku yang dulunya berdebu, semua klausaku yang mungkin baru selesai kamu baca.
Puisi ini untuk seseorang yang tadi meminta, mungkin saja dapat kamu baca selagi hujan mulai mereda.
Karena nanti, disaat hujan dengan derasnya mengguyur akan memaksa kamu kembali penat dan menghentikan percakapan ringan kita dibawahnya.
Mungkin nanti, disaat kamu tahu siapa objek ditiap bait puisiku, kamu akan dan mau percaya
:)


27 Mei 2014 pukul 19:13

Kamu Tidak Sendirian, Bintang.

Semoga saja kamu tak lekas bosan, karena sajak ini lagi lagi tentang kamu, bintang.
Bintang, akhirnya aku tahu kemana kamu menghabiskan waktu, akhir pekan kamu yang lalu.
Kamu pergi ketempat dimana adalah tempat yang selalu ingin kukunjungi.
Ceritakan padaku bintang bagaimana rasanya, apakah cukup melelahkan ?
Namun tempat yang begitu indah, bukankah begitu? Tempat kita dapat melihat panorama kota kecil dibanding kota tempat kita menetap sekarang. Mungkin juga kamu dapat melihat kota kamu dari atas sana, mungkin itu harapanku.
Bintang, sepertinya kamu sedang bosan.
Aku tidak tahu kamu tengah menatap hujan dari beranda rumah sewaan kamu atau dari desa kelahiran kamu disebelah utara kota ini. Yang jelas, kita tengah menatapi rinai yang sama.
Bintang, seperti ajakanku di rinai sebelumnya, maukah kamu kutemani minum teh. Jawablah bintang, kamu tentu tidak ingin semakin bosan sendirian bukan?
Banyak cerita yang mungkin ingin kamu dengar pun kamu bagi, tentang libur panjang ini misalnya.
Jangan lupa kenakan jaket gelap pekat kamu, cuaca sedang tak bersahabat. Aku tak ingin kamu flu seperti aku.
Bintang, semoga kamu tak lekas bosan dengan sajak yang kukirimkan.
Mungkin saja ini bisa menjadi teman kamu yang sendirian menanti hujan.
Dari sini ku kirimkan catatan kecil yang mungkin dapat membuat kamu tersenyum, simpul saja.
Senyuman dibawah hujan, dan kamu tahu kamu tak sendirian, bintang.


27 Mei 2014 pukul 15:14

Tim Kesayangan Kamu, Bintang.

Masih tentang akhir pekan, bintang.
Tepatnya hari ini, hari minggu. Hari yang tentunya menyenangkan bagi kamu, bukankah demikian?
Bintang, semalam istirahatku sedikit sekali, hingga kini aku sepertinya sedikit lelah. Suhu tubuhku naik turun, entah.
Bagaimana dengan hari minggu kamu, bintang?
Semalam, ah, tepatnya pukul dua dikala larut malam menuju subuh, aku terjaga.
Aku memaksa mataku menyaksikan pertandingan bola di layar lebar di halaman sebuah gedung.
Pertandingan yang tentu saja juga menyedot perhatian kamu bukan? Bukankah kamu suka bermain bola?
Sayangnya aku tidak menjagokan siapa siapa, bintang, pun kamu.
Aku tahu tim kesayangan kamu, si biru biru.
Aku juga menyukainya, karena aku menyukai semua yang kamu suka, meskipun sebenarnya tim kesayanganku tentu saja lebih hebat dari tim kesayangan kamu.
Lalu, semalam kamu bersorak untuk siapa?
Bukankah itu pertandingan yang menegangkan, bintang. Ataukah kamu tetap diam, bersama keanggunan sikap kamu.
Bukankah kamu tidak pernah bersorak pun berceloteh tidak penting seperti para pecundang yang turut menyaksikan pertandingan semalam.
Mungkin kamu hanya tersenyum mengangguk dan bersorak dalam hati.
Semalam, sambil makan kacang aku kembali berkhayal tentang kamu.
Percayakah kamu saat aku beritahu jika kamu menyapaku dalam mimpiku. Sungguh bintang, begitu menyenangkan mengingatnya.
Kita tertawa begitu akrab, bercengkrama.
Sambil makan kacang aku mengibaratkan kamu duduk disampingku.
Menyaksikan bersama pada layar lebar dihadapan kita, sembari mengomentari sesekali.
Aku akan mendengarkan pendapat kamu, celotehan kamu, atau teriakan kekesalan kamu saat pemain andalan melakukan kesalahan.
Andai saja semalam pertandingan tim kesayangan kamu, mungkin kamu mau menyaksikannya bersamaku bertemankan kacang goreng.
Bintang, kalau boleh tahu, dimana kamu menyaksikan pertandingan semalam?
Cukupkah waktu istirahat kamu?
jika kamu terlalu lelah, beristirahatlah.
Esok atau lusa mungkin kita dapat menyaksikan bersama, pertandingan tim kesayangan kamu, di akhir pekan kamu


25 Mei 2014 pukul 20:45

Minggu, 25 Mei 2014

Akhir Pekan Kamu, Bintang.

Tahukah kamu bintang, langit malam ini nampaknya sedang tidak terlalu senang. Langit yang kupandangi dari beranda rumahku hanya menyisakan beberapa bintang yang tak seberapa indah dibanding kamu.
Bagaimanalah aku akan turut senang?
Bintang, malam ini tentunya kamu tengah bersantai. Bukankah begitu seharusnya? Bayaran untuk lelah kamu atas kesibukan kamu yang selalu membuatmu penat.
Aku sedang mengira ngira apa yang tengah dan akan kamu lakukan.
Kalau aku tidak salah kira, kamu pasti tengah memainkan permainan yang biasa kamu mainkan, bersama teman kamu yang juga temanku. Andai aku layar yang terus kamu pandangi dan kursi tempat kamu menyandarkan bahu kamu, mungkin akan sangat menyenangkan.
Atau jika kamu tidak melakukan apa apa malam ini, ceritakan padaku apa yang kamu lakukan petang tadi. Misalnya pukul berapa kamu bangun dari istirahat siang kamu. Atau kamu mungkin menghabiskan waktu berkeliling.
Hei Bintang, tadi saat matahari dengan garangnya membakar bumi, aku dan teman temanku yang juga adalah teman teman kamu mengunjungi sebuah tempat yang indah.
Aku tak begitu ingat pukul berapa, yang jelas kamu harus mengenakan jaket kesayangan kamu agar tidak kepanasan, mungkin juga penutup kepala.
Tadi, ditempat yang kami kunjungi kamu dapat dengan jelas menatap ombak, menepi menuju hati kamu.
Sayangnya ombak sedang tak mau berteman denganku, bintang. Tak dapat kulukis nama kamu di pasirnya yang sedikit menghitam. Mungkin lain kali, saat aku kembali.
Aku tidak tahu bintang, apakah kamu pernah, mau dan akan mengunjungi tempat ini.
Jalanannya berbatu, terjal. Tapi apalah artinya ketika kamu kan mendengar merdunya suara alam, bintang.
Aku akan senang hati membuatkan kamu puisi yang bisa kamu baca selagi ombak terus mengejar tepi.
Mungkin yang lebih menyenangkan kita dapat mengambil gambar kita berlatar tebing merah yang menjulang.
Maukah kamu bintang ?
Tadi, mereka lagi lagi bertanya siapa kamu. Mereka menyebutkan nama nama yang membuatku tergelak, bintang.
Berulang kali kukatakan pada mereka namamu bintang, bukankah demikian?
Bintang, barangkali di lain pekan kamu berniat mengunjunginya bersama. Bukankah itu akan menjadi akhir pekan yang menyenangkan, bintang ?


24 Mei 2014 21:12

Sederhana Saja, Bintang.

Seharusnya malam ini aku sudah terlelap. Seperti kamu yang mungkin tengah memeluk guling kamu dengan nyaman. Dibawah balutan dingin sisa hujan, bermimpi akan esok yang mungkin jauh lebih indah, mungkin juga jauh lebih sibuk dari biasanya.
Seharusnya dan selayaknya aku tak kembali menulis sajak, sajak sajak yang kerap kali mengusik kamu. Tapi entahlah bintang, sejak hari itu, hari dimana kamu tahu dan memutuskan menjauh, aksara ini mengalir begitu saja. Aku telah kehabisan cara menghentikannya.
Bintang, tak lama lagi nampaknya kita tak kan jumpa sesering dulu.
Kamu akan sibuk sekali tentunya, dipenghujung tahun terakhir kita.
Kamu juga akan pergi ketempat yang baru bagi kamu, ah, mungkin juga tidak. Bukankah tempat itu dekat kota kelahiran kamu ? Sebelah utara dari kota ini.
Begitupun aku, pergi ketempat asing yang mungkin tidak pernah terpikir oleh kamu.
Bintang, semakin aku menyelami hati kamu semakin aku tak mengerti.
Ketika hampir setiap malam aku terjaga hanya untuk memastikan kamu telah terlelap.
Bintang, ketika semua menjadi kian rumit dan menyesakkan, maukah kiranya kamu menyapaku seperti mula ? Bukankah itu sederhana saja, bintang ?


23 Mei 2014 23:45

Hujan, Bintangku Sedang Apa ?

Rinai yang kesekian kalinya memaksaku tepekur disini.
Disudut ruang persegi yang kunamai kamar tidur.
Menatapi tiap bulir yang jatuh mengikis tandusnya tanah di halaman rumahku, mungkin juga di halaman rumah sewaan kamu.
Guntur juga bergemuruh, hebat sekali.
Apakah kamu menyukai hujan, bintang?
Setidaknya hujan memaksa kamu beristiraht sejenak dari penat kamu, dari semua urusan penting yang menyita waktu kamu.
Atau kamu malah membenci hujan yang telah merenggut semua waktu kamu yang berharga. Semua waktu kamu yang seolah selalu tergesa.
Bintang, sekiranya hujan tak jua mau reda, aku penasaran apa yang akan kamu lakukan.
Bukankah hari ini kamu harus menghadiri banyak jadwal di gedung belajar kita.
Apakah kamu akan nekat melewati hujan dengan kendaraan yang biasa kamu gunakan.
Tidak khawatirkah sepatu kamu akan basah, baju kamu akan kuyup, atau jam tangan kamu akan dibasuh hujan.
Ah, aku lebih takut lagi kamu akan terkena flu dan sakit kepala misalnya.
Bintang, sekiranya kamu tetap memaksa melalui hujan bolehkah aku menemani kamu.
Menapaki jalanan yang basah, memayungi kamu tentunya. Mungkin kita dapat bertelanjang kaki agar sepatu kamu tidak basah dan kamu tidak kedinginan.
Bintang, atau bila kamu enggan menyusuri hujan, kita bisa melakukan hal menyenangkan lain, minum teh dan mendengarkan musik kesayangan kamu misalnya, tentu saja sambil bercengkrama.
Kan ku ceritakan lelucon lelucon yang mungkin dapat kita tertawakan bersama.
Bintang, hujan begini kamu sedang apa ?


23 Mei 2014 pukul 9:41

15.10 WIB Catatan Di Sela-Sela Presentasi Di Gedung Belajar Kita.

Catatan ini kubuat disela sela presentasi digedung belajar kita, tadi.
Diujung sana, kamu tertawa pada hal yang sama yang aku tertawakan.
Bukankah ini menyenangkan, bintang?
Melihat tawa kamu yang belakangan mulai tak sering lagi kujumpai.
Tawa yang begitu berharga, dibalik sendu mata kamu.
Dan lagi, kamu diujung sana. Radius sepuluh meter ke utara dari tempatku berada.
Kali ini warna yang berbeda dari kemarin, bukan lagi jaket gelap pekat.
Kamu kembali ke tabiat kamu yang biasa, kamu kenakan baju tradisional yang kamu punya.
Mungkin kamu sangat menyukainya, hingga seringkali kamu mengenakannya.
Dan kamu tahu bintang, aku juga menyukainya. Aku akan menyukai apapun yang kamu suka, bintang.
Tadi, beberapa saat lalu digedung satunya, tempat kita menyelesaikan segala sesuatunya.
Segala sesuatu yang mungkin kamu anggap penting.
Entahlah, aku mulai bingung hal mana yang kamu anggap penting dan mana yang tidak kamu anggap penting.
Yang jelas dan teramat penting bagiku adalah, kamu menatapku.
Kali ini, bukan hanya perasaanku, kali ini nyata, dan aku tahu itu kamu, bintang.
Kamu yang kini mulai terlalu sering berada dipikiranku, berlari lari diotakku.
Apakah kamu tidak bosan mendengarkan materi materi yang sama?
Penyampaian yang seperti itu itu saja.
Kemarilah, lihatlah, kubuatkan sebuah puisi untuk kamu.
Puisi yang mungkin lebih menarik untuk kamu baca, dibanding materi materi yang sama sekali tidak kita mengerti.
Catatan ini kubuat disela sela presentasi digedung belajar kita.
Disela sela tawa kamu yang begitu menggodaku untuk menuliskan sajak ini.
Sajak yang entah kali ini kan indah atau tidak.
Aku tak peduli, bintang.
Bagiku, saat kamu tertawa pada hal yang sama yang aku tertawakan.
Tawa itu begitu berharga, bintang.


Bengkulu, 22 Mei 2014