Sabtu, 17 Mei 2014

Mata Kamu Bintang :)

Tadi, saat tanpa sengaja kita bertemu, tanpa sengaja pula aku menatap mata kamu.
Ah, dusta ! Sebenarnya bahkan aku sudah lelah mencari sosok kamu, memandangmu untuk kemudian berhenti di mata kamu.
Mata sendu yang dengan nya aku melihat sejuta keindahan disana.
Dan lagi, kamu kenakan pakaian tradisional kamu yang dulu pernah ku katakan pada kamu kalau aku menyukainya.
Sayangnya, kini tak berani ku katakan hal yang sama.
Sayangnya, aku takut kamu tak lagi tersenyum seperti saat dulu ku katakan hal itu.
Sayangnya, aku takut kamu tak akan menganggapnya begitu penting, Lantaran begitu banyak hal penting yang harus kamu urus. Tugas tugas kamu misalnya.
Tadi, saat tanpa sengaja kita bertemu. Aku berharap kamu tersenyum, simpul saja. Namun aku berbalik, memunggungi kamu yang entah sedang sibuk sepertinya. Aku tak berani menatapnya lama, mata kamu yang isyaratkan penatmu.
Setidaknya aku menemukan kamu, diantara riuh dan panasnya hari.
Setidaknya meski tanpa sengaja (dusta) ku temukan sendu mata kamu, bintang.
:)

Kamu Menghilang Bintang !

Dan kamu menghilang bersama rinai hujan yang mereda, menyisakan bulir basah di jendela kaca serta keping cerita yang jauh dari selesai.
Bahkan cerita ini harusnya baru saja hendak dimulai.
Kamu menjauh, bahkan bayangmu saja kini tiada lagi mampu ku rengkuh.
Aku mendadak melankolis, ketika sajak sajak yang kutulis kini berdebu, bahkan kotor oleh jaring laba laba.
Ratusan aksara, dan lagi menanti untuk kamu baca.
Kamu dimana, sementara aku tahu kamu tetap disana.
Ada yang berbeda ketika kamu tak lagi menapakkan jejakmu disekitarku, ada yang hilang ketika kamu tak lagi setia berceloteh tentang tulisan tulisanku tentang kamu.
Kamu yang tak pernah tahu bila kamu lah objek di tiap klausaku, ah, atau mungkin saja kamu tahu, ah, aku tak tahu. .
Dan kamu menghilang dari radarku, bahkan ketika cerita ini baru akan dimulai.
Tidak bintang, kisah ini jauh dari selesai..

Kamu Bermakna Jamak..

Sajak ini tentang kamu, selalu saja kamu, tokoh dalam cerita pun puisiku..
Mereka bertanya siapa kamu? Sama sepertiku yang bertanya pula siapa kamu.
Kamu yang pertama, iya kamu.. Kamu yang pernah mengisi hariku 'dulu'
kamu yang kedua, iya kamu.. Kamu yang menyerupai 'kamu yang pertama' hingga aku terpesona..
Kamu yang ketiga, iya kamu.. kamu yang pernah kujumpa hitungan 48 jam saja, meski tanpa tegur pun sapa..
Kamu yang keempat, iya kamu.. Kamu yang tawarkan persahabatan yang kini entah bertransformasi menjadi apa..
Kamu yang kelima, iya kamu.. Kamu yang kukenal dalam diammu, kekakuan dan keanggunan perilakumu, pemilik senyum dibalik pakaian tradisional beragam warna yang sering kamu kenakan.
Ada begitu banyak kamu dalam catatanku, Kamu bermakna jamak yang takkan pernah habisnya meski kutulis beribu sajak.
Mereka bertanya siapa kamu, biar saja mereka menerka, bukankah kamu adalah tokoh utama ceritaku? Sudah, cukup itu saja !

^_^

Aku mulai mengagumi kamu, ah tidak, tepatnya aku kembali mengagumi kamu..
Nama yang selalu terukir di setiap catatan kecilku, entah itu tentang kamu, tentang aku, atau tentang kamu dan aku..
Menapaki semua dalam diam, diam kamu yang semakin mengusik jemariku untuk terus menarikan segurat tanya dalam pena merah.
Bukankah kamu telah mengenalku, seperti temanku yang juga teman kamu mengenaliku ?
Bukan apa apa, walau tak bilang tetap saja sama indahnya bukan?
Meski dalam diam, tetap saja menyenangkan bukan?
Kamu sedang apa?
apa kamu tengah mengantuk dengan tugas tugas kamu yang menumpuk?
Ah, selalu saja tentang kamu. Apakah ada aku di setiap catatan kecilmu?
Sekali saja, meski dalam diam, tetap saja menyenangkan bukan?
^_^

Kamis, 08 Mei 2014

Kamu..

Dan akupun mulai berharap, hujan turun lebih cepat
Agar mampu kusembunyikan rona merah wajahku di balik rinai..
dan mulai aku berharap, pelangi muncul lebih cepat
Agar kulihat lengkung senyum kamu
indah, menggantung.. Dan aku mulai berharap,
mentari terbit lebih cepat
Agar nanti ku bagi indahnya pagi bersama kamu..
dan ak berharap riak gelombang menepi lebih cepat,
Agar dapat segera ku tuju tepi hati kamu..
Kamu tahu, setiap deretan sajak ini bermuara ke hati kamu
Kedalaman hati Kamu yang tidak pernah mampu aku selami
Kamu tersenyum nan renyah dibalik wajah sendu menawanmu,
Bagaimanalah mengagumi seperti ini ?
dan aku mulai berharap, malam datang lebih cepat
Agar mampu bayangmu kudekap
Merengkuh lengkung senyum kamu dalam senyap

Jumat, 02 Mei 2014

Sayang . . .

Senja ini berbeda, tanpa sengaja bayangmu datang lg disini sayang,,
ah,masih bolehkah kau kupanggil begitu ?
gugur daun musim semi, semua kering sayang. . Tapi tetap tak ada yg hilang dari sebuah kenangan..
sayang, bolehkah aku sedikit brceloteh tentang kita ? Tentang aku, kau dan masa itu?
Ragamu tak lagi kulihat nyata, petikan gitar dengan nyanyian indah itu juga tak lagi kudengar. .

Ingatkah kau, saat disemua syair lagumu dulu kau ganti dengan menyebut namaku, aku malu, tapi kau tau? Saat itu pula aku ingin erat mendekapmu. .
membisikkan kata yg rasa rasanya dulu sedikit sekali kukatakan pdamu, aku cinta kau dan pribadimu. .
kau tau sayang, ada yg bilang padaku hal ini. . "kesetiaan wanita dan pria itu berbeda"
ya,aku tau sayang. .
jelas saja itu benar, aku wanita dan kau pria? Kesetiaan kita jelaslah berbeda,,
meski tak ada lagi namaku dalam tiap syair lagumu, tak berarti aku harus berhenti setia bukan? Bukankah tidak ada yg salah dalam hal ini? Lalu mengapa mereka seolah turut masuk kedlam kisah ini ? Siapa mereka ?

Perasaan . . .

Ah, aneh sekali yg dinamakan perasaan itu, cepat sekali brubahnya..
kadang semendung langit kala hujan, seterang gemintang saat malam, penuh warna seperti pelangi cepat sekali perginya..
Baru kemarin rasanya aku tertunduk malu malu menatap wajah sendu menawanmu, memandang kokoh punggungmu, harap cemas saat qt brjanji brtemu. .
tapi entah kini suka itu menguap begitu saja.. Hilang brsama rintik hujan yg mereda, lenyap brsama gemintang kala pagi menjelma, musnah brsama semburat pelangi 7 warna..
aneh sekali yg namanya perasaan itu cepat pudarnya. .
ah, memang benar kata mereka.. Smua lbih indah saat proses kau mendapatkannya, ah, cepat suka cepat pula hilangnya..